Peringati International Womens Day (IWD), GMNI : Perempuan adalah Separuh Dari Kekuatan Bangsa

Fanda Puspitasari / jm
JurnalMalang - Pada moment Internasional Women's Day (IWD), Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) soroti mengenai keadilan gender dan peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah, Fanda Puspitasari, IWD bukan hanya sebatas momentual yang sifatnya cermonial belaka. Seyogyanya perempuan Indonesia dan perempuan di seluruh dunia menjadikan IWD sebagai sebuah titik fundamental bagi pergerakan dan perjuangan perempuan.

"Jadi sederhananya, Hari Perempuan Internasional/IWD itu ada, sesungguhnya tidak hanya untuk memperingati perjuangan perempuan dalam memperjuangkan kelayakan nasib, memperjuangkan hak-haknya sebagai manusia, dan memperjuangkan kemanusiaan pada umumnya, namun yg lebih penting lagi adalah bagaimana kita mewarisi serta menjadi tongkat estafet akan spirit  perjuangannya." kata perempuan yang dikenal dengan sebutan Sarinah Fanda ini.

Lanjutnya, "Karena Hari Perempuan Internasional tidak cukup hanya diperingati dengan ucapan 'Selamat',  namun ia menginginkan bahwa IWD harus dirayakan dengan spirit perjuangan yang berkesinambungan. "Artinya para perempuan harus menyelaraskan perjuangan pada masa itu dengan kondisi hari ini," tuturnya.

GMNI sendiri, kata Sarinah Fanda, dalam memaknai IWD yaitu sebagai momentum persatuan pergerakan dan kesadaran perempuan. Mengacu kepada gerakan perempuan di Indonesia, GMNI sendiri, tambah Sarinah Fanda, fokus pada gerakan perempuan dengan karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa.

"Jadi meskipun IWD lahir dari negara barat, tp  tetap akan kami ambil spirit perjuangannya. Makanya GMNI akan fokus pada pembentukan karakter dan watak perjuangan perempuan indonesia yang sesuai dengan kepribadian bangsa dan sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila, bukan membuat formula yang cenderung kebarat-baratan,"  sambungnya.

Sebab, tutur Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini, perempuan di Indonesia sendir sudah mampu mencapai kesetaraan. Akan tetapi, para perempuan di Indonesia masih belum mendapatkan yang namanya keadilan. "Memang kita sudah mencapai kesetaraan gender, tapi kita masih mengalami ketidakadilan gender, yg akhirnya akan menyebabkan ketimpangan gender" lanjutnya.

"Sedangkan ketika negara kita masih mengalami ketimpangan gender yg cukup kuat, maka akan berdampak besar pada pembangunan bangsa," tegasnya.

Fanda menjelaskan, bahwa GMNI berencana menempuh langkah-langkah kongkrit, salah satunya yakni melakukan audiensi kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan terkait optimalisasi pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi. Karena perempuan menurutnya merupakan separuh dari kekuatan bangsa. "Jadi ketika separuh kekuatan dari bangsa ini mengalami posisi yang tersubordinat dan dalam kondisi terdiskriminasi, maka pembangunan manusia di negara kita tidak akan pernah tuntas," jelas Sarinah Fanda.

"GMNI tidak lagi memperjuangkan kesetaraan Gender, tapi fokus pada perjuangan mengenai keadilan gender yang berbasis pada pembangunan sumber daya manusia (perempuan pada khususnya). Sehingga baik laki-laki maupun perempuan di Indonesia ini, sama-sama berkontribusi terhadap pembangunan Bangsa," katanya.

Menurut Sarinah Fanda, rencana tersebut akan dilakukan karena melihat  ketimpangan yg cukup tajam antara perempuan dan laki-laki pada sektor ekonomi. Untuk itu, upaya-upaya pemberdayaan perempuan pada sektor ekonomi harus terus di lakukan. Agar perempuan memiliki kemandirian secara perekonomian, dan dapat berpartisipasi aktif (sebagai subjek) dalam pembangunan nasional.

"Pendek kata, perempuan dengan tangan kanannya, ia memberikan kasih sayang, dan dengan tangan kirinya ia mampu merubah dunia," Tutup Sarinah Fanda. *red1

Subscribe to receive free email updates: