Jurnalisme Warga (Malang Raya) - Not Commercial Media - jurnalmalang@gmail.com

MALANGKUCESWARA, PEMUJAAN KEPADA "DEWATA PENIADA SAKIT" ERA JAWA KUNA

Ilustrasi / ig
Seri "Sejarah Kesehatan"

Oleh : M. Dwi Cahyono
(Arkeolog / Sejarahwan)

A. Makna Sebutan "Malangkyceswara"
1 . Arti  "Mala" pada Sebutan "Malangkuceswara"

Perkataan yang tertera pada Lambang Kota Malang adalah "Malangkyceswara", yang menurut sebuah R.M.Ng. Poerbatjaraka merupakan kata gabung dari tiga kata, yaitu (1) mala (segala sesuatu yang kotor, kepalsuan, kebathilan), (2) angkuca -- apabila volal "a" terakhir melesap, sehingga manjadi "angkuc" 
(menghancurkan atau membinasakan), dan (3)
Icwara (Tuhan). Kombinasi ketiga sebutan itu oleh Poerbatjaraka diartikan : Tuhan menghancurkan yang batil. Sebenarnya, kata "mala" selain berarti : kotor, cabul, najis (fisik dan moral), noda, cedera, cacat ataupun dosa (Zoetmulder, 1995:638), dapat juga menunjuk kepada : sakit, penyakit  Di dalam bahasa Jawa Baru, istilah ini lazim dipakai untuk menyebut : sakit fisik, musibah, persoalan. Sakit fisik itu lazimnya berupa luka pada tubuh, atau bisa juga berupa musibah penyakit (mala petaka) atau persoalan akut -- seperti dalam perkataan "mala petaka". Kata jadian "malanen" berarti menderita luka yang berlama-lama.

Sebutan "mala" dalam artian pentakit fisik itu bisa karena kecelakaan kerja, terjatuh, sakit kulit, atau bahkan penyakit "kusta (lepra) -- di dalam bahasa Jawa Kuna maupun Tengahan dinamai "wudug",  dan dalam bahasa Jawa Baru disebut "buduk" atau "buduken". Suatu penyakit menular, yang dari waktu ke waktu selalu hadir  Kata "wudug" telah didapati dalam kitab susastra Jawa Kuna dan Tengahan sejak abad awal abad X Masehi, terbukti disebut  dalam kitab Agastya Parwa (353), yang menurut Poerbathljaraka seusia dengan teks Sang Hyang Kamahayanikan dari era pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur (Sura, dkk, 2002:iii). Selain itu disebut dalam kitab Slokantata (11-12.17), Korawasrama (54), Kunjarakarna, dan Wasebgsari (3.69, 3.19b). Ternyata, sebutan "kusta" untuk penyakit ini juga telah disebut di dalam kitab Slokantara, dengan kalimat ".......kusta ngarannya wudug". Kata "kusta" juga disebut di dalam kitab Bhomakawya (76.6), Adigama (59), mauoun Kunjarakarna (14 4). Pada kitab Adigama tersebut, penyakit "kusta' disebut bersama ddngan beberapa penyakit lain seperti : wong ageleh, wong puputran, wong tan pabrata (Zoetmulder, 1995: 545). Adapun sebutan "lepra" tidak kedapatan dalam kosa kata tua itu, yang diprakirakan baru muncul pada masa yang lebih belakangan.

Lepra, kusta, wudug, atau dinamai juga "Morbus  Hansen"  adalah penyakit infeksi kulit kronis, yang selain menyerang kulit, juga menyerang sistem saraf perifer, selaput lendir saluran pernapasan atas, mata, maupun organ lain kecuali otak. Kusta dapat menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, serta mati rasa. Adapun penyebabnya adalah bakteri  Mycobacterium leprae, yang butuh waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk dapat berkembang dalam tubuh. Tanda dan gejala penyakit kusta bisa muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri ini menginfeksi tubuh penderita. Oleh karena kusta menyebabkan luka pada kulit, maka sebutan "mala" dalam arti penyakit fisik, termasuk di dalamnya penyakit pada kulit,miouti juga penyakit ini. Lepra termasuk penyakit ttua, yang telah dikenal sejak tahun 1400 SM, dengan jumlah penderita demikian banyak dan tersebar luas di penjuru dunia, termasuk di Nusantara pada masa lalu. Kusta merupakan salah satu penyakit yang ditakuti sebab bisa menyebabkan kecacatan, mutilasi (misalnya terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), ulserasi (luka borok) dan lainnya lantaran kerusakan saraf besar pada daerah wajah, anggota gerak dan motorik; bahkan diikuti dengan rasa baal yang disertai dengan kelumpuhan otot dan pengecilan massa otot.

2. Sumbeerdata Tekstual "Malangkuceswara"

Perkataan "Malangkuceswata" paling tidak didapati  dalam :  (a) prasasti Mantyasih atau prasasti Kedu (907 Masehi), (b) prasasti bertarikh 908 Masehi berasal dekat Singosari, Malang, dan (c) inskripsi pendek di salah satu candi perwara Prambanan. Diantara kerltiganya, yang lebih terang konteks penyebutannya adalah dalam prasasti tembaga (tamraprasasti) Mantyasih. Prasasti asal daerah Kedu, yang kini menjadi benda koleksi Museum Radya Pustaka Solo, terdiri atas  2 lempeng  (P = 49,3 cm,  L = 22,2 cm.), Transkripsi dan terjemahan serta uraian lengkap ditulis oleh  W. F. Stutterheim (TBG, 1927 : 172- 215), yang diberi nama "prasadti Mantyadih I". Selain itu  pernah ditemukan pasasti batu, yang disebut "Mantyasih II" dari Jawa Timur,, serta satu lempeng tembaga yang disebut dengan "Mantyasih III" yang ditemukan oleh warga desa Ngadirejo [Kedu], yang kini dismpan di Museum Nasional. Baik prrasasti Mantyasih I, II, maupun III semua bertarikh 11 April 907, bertepatan dengan pemerintahan Balitung ( 899–911 Masrhii), yang berkuasa atas wilayah luas pada Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan hingga Bali.

Pokok isi dari prasasti prasasti Mantyasih adalah penetapan Mantyasih sebagai desa perdikan (sima atau swatantra) oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung, yang dipimpin oleh lima pejabat "patih" secara bergiliran. Masing masing, yaitu : (1) Pu Sna [ayah Ananta], (2) Pu Kola [ayah Dini], (3) Pu Punjeng, (4) Pu Kara ayah Labdha], (5) Pu Sudraka [ayah Kayut], yang  masing-masing mendapatkan  giliran selama 3 tahun lamnya [lawasnya tlung tahun sowang].  Adapun alasan (sambabda) atas penetapannya sebagai "sima" karena penduduk desa Mantyasih telah banyak berjasa kepada raja dan negara, utamanya sewaktu Balitung tengah melangsungkan perkawinan. Dalam prasasti ini disebut hutan di gunung Susundara dan Wukir Sumwing [kini Sundara dan Sumbing]. Selain mempetoleh anugerah (waranugraha) berupa hak-hsknistimewa, warga Mantyasih memikul kewajiban melakukan kebaktian -- dalam arti memelihara dan memperbaiki --  bangunan suci untuk pemujaan bhattara di : (a) Malangkuseswara, (b) Puteswara, (c) Kutusan, (d) Silabhedeswara (kini disebut candi "Selagriyo") , dan (e) Tuleswara tiap tahun. Sangat mungkin, lima bangunan suci (baca "candi") itu terletak sekitar Mantyasih, yaknidi daerah Kedu. Yang perlu dicermati adalah adanya unsur sebutan "Iswara" pada "Malamgkuceswara", Puteswara, Silabideswara dan Tuleswara", yang berarti : tuan, yang berkuasa, raja, atau suatu nama untuk "Siwa" (Zoetmulder, 1995: 399)..

Nampaknya, candi yang untuk memuja Bhattara di bangunan suci yang dinamai "Malangkuceswara" tidak hanya terdapat di sekitar Mantyasih. Terbukti, bangunan suci dengan sebutan "Malangkuceswara" disebut juga dalam prasasti bertarikh 908 Masehi yang diketemukan di dekat Singosari, Kabupaten Malang. Disamping itu, inskripsi pendek yang bertuliskan "Malangkuceswara" juga kedapatan di salah satu candi perwara pada kompleks candi Prambanan yang juga awal dibangun pada era Balitung. Prasasti bertarikh 908 Masehi dari dekat Singosari itu sama tahun dengan prasasti Wanua Tengah III, yakni satu lempeng prasasti perunggu yang diketemukan pada Nopembr 1983 di sebuah ladang pada Dukuh Kedunglo, Desa Desa Gandulan  sekitar 4 km pada timur laut  Temanggung.

Tergambarlah bahwa konon pada era pemerintahan Balitung ada sejumlah bangunan suci buat memuja Bhattara di bangunan suci (candi) dengan nama "Malangkuceswara", baik yang berada di daerah Kedu, sekitar Singosari dan pada kompleks candi Prambanan. Jadi, bangunan suci Malangkuceswara bukan satu-satunya yang berada di daerah Malang. Menilik ada paling tidak tiga bangunan suci (canfi) yang bernama "Malangkuceswara", pertanyaannya adalah : apa " fungsi khusus"  bangunan suci ini"?, sehingga terdapat di beberapa tempat. Menilik adanya unsur sebutan "mala", dalam arti : pennyakit fisik atau kula, dari perkataan "Malang kece swara", boleh jadi fungsinya terkait dengan upaya untuk terlindung dari penyakit, sembuh dari sakit, atau terpelihara kesehatannya.. Dewata tertentu yang dipuja  di bangunan suci dengan fungsi demikian itu adalah dewa pelindung dan penyembuh sakit, atau pemberi kesehatan.

B. Dewata Peniada Penyakit pada Hinduisme
1. Mitologi Penyakit dan Penyembuhannya

Terdapat beragam ikhtiar untuk menyembuhkan penyakit. Ada yang menggunakan cara, alat bahan, dan pertolongan tenaga medis. Ada pula ikhtiar religis, yakni dengan memohon pertolongan dari Dzat Adikodrati -- apapun sebutan untukNya, Pada warga yang religiositasnya tinggi, ikhtiar religis itu sama pentingnya dengan upaya medis, dan bahkan kesembuhan orang dari sakit semata-mata karena perkenan dari Illahinya, berkat upacara, doa, mantra, jampi-jampi (usada, husada), sesaji (offeribg) dan korban (sacrafice), ada yang secara lebih khusus diperuntukkan sebagai upaya untuk sembuh dari penyakit. Begitu pula pada religi yang mengenal konsepsi "banyak dewa (polytheisme)", ada satu atau lebih dewa yang dipujanya dalam hubungan dengan maksud (a) terlindung dari penyakit, dan (b) kesembuhan dari derita sakit  Dewa yang demikian diyakini oleh beragam agama di dunia, seperti pada agama purba di era Yunani Kuno, Romawi, Mesir Kuno,  Maya, Astek, Mesopotamia, Armenia, Afrika, Baltik, Cheltik, Cina Kuno, Jepang, Etruscan, Edituit, Hitite, Amerika Kuno, Persis, Venesia,

Dewa kesehatan berwujud dewa atau dewi yang berkenaan dengan kesehatan, penyembuhan dan kesejahteraan, atau bisa juga berkenaan dengan kelahirkan (Dewi Ibu).  Mereka adalah fitur umum di dalam agama politeistik. misalnya, pada pantheon Yunani Kuno ada Apollo, yakni dewa penyembuhan, obat-obatan, dan penyakit. Pernikahan Dewa Apollo dan Koronis -- namanya mengingatkan kita kepada virus dengan nama "Corona", yang saat ini tengah mewabah -- melahirkan para dewi yang juga terkait dengan kesehatan, seperti (1) Akesis (dewi obat), (2) Ianiskos (dewi penyembuh- an), (3) Asclepius (dewi seni pengobatan) (4) Artemis (dewi wanita muda dan kelahiran), (5) Chiron (dewi pengetahuan dan ketrampil- an seni pengobatan), (6) Eileithyia (dewi per- salinan), (7) Epione (dewi penenang rasa sakit), (8) Aceso (dewi menyembuh penyakit dan luka), (9) Aegle (dewi kesehatan), (10), Hygieia (dewi keber- sihan dan sanitasi), (11) Iaso (dewi penyembuhan dan pengobatan, (12) Paean (tabib para dewa), (13) Panacea (dewi kesembuhan dengan obat-obatan dan salep), (14) Telesphorus (dewi pemulihan). Pada keyakinan Yunani Kuno terdapat sejumlah dewa yang berkenaan dengan kesehatan, yang menengarai bahwa bangsa Yunani be perhatian terhadap aspek kesehatan. Demikian pula pada keyakinan di era Romawi, Irlandia Kuno, Cina Kuno, Maya, Yoruba dan Afro-Amerika, maupun pada era India Kuno mempunyai lebih dari lima dewa/i kesehatan.

Pada pantheon era India Kuno, khususnya di dalam Hinduisme, terdapat (1) Vaidyanatha  (Siwa sebagai penyembuh semua penyakit), (2) Dhanvantari (dewa pengobatan -- disebut di dalam kitab Yayurveddha), (3) Ashvins (dewa kembar, sekaligus sebagai dewa pengobatan -- juga disebut di dalam Yayurweddha), (4) Dhatri (dewa Bumi, sekaligus dianggap sebagai dewa alam dan dewa kesejahteraan untuk semua makhluk hidup), (5) Mariamman (dewi peniada penyakit sekaligus dewi hujan), (6) Shitala (dewi penyembuh cacar, luka, maupun penyakit), (7) Jvarasura (setan demam), dan (8) Paranasabari (dewa Hindu yang diadopsi dari dewa penyakit di dalam Budhisme, yang memberikan perlindungan efektif terhadap epidemi). Oleh karena telaah ini bicarakan tentang kesehatan di Nusantara pada masa Hindu-Buddha, maka pembicaraan berikut ini lebih diarahkan pada detail mitologis tentang dewa/i Hindu yang berkenaan dengan aspek kesehatan maupun penyakit.

1.1. Dewa Vaidyanatha

Vaidyanatha (varian sebutan "Vaidyanath" atau "Vaitheeswaran") adalah salah satu asapek Siwa sebagai Dewa Penyembuhan. Doa-doa terhadap Vaitheeswaran diyakini sebagai dapat sembuhkan penyakit. Vaitheeswaran adalah turunan Tamil dari vaidya (dalam arti : dokter) dan Ishvara (dalam arti : Tuhan atau Guru). Acap Sri Vaidyanatha posisikan menghadap ke arah barat. Pada daerah Tamil Nadu, dewa Vaidyanatha dipuja di dalam kuil Navagraha (sembilab planet) -- yang secara khusus dikaitkan dengan planet Mars (Angaraka), yakni kuil yang didedikasikan untuk Dewa Siwa dalam aspeknya sebagai Dewa Penyembuhan. Ada pula kuil lainnya dengan yang fungsi serupa, yaitu kuil Vannarpannai Vaitheeswaran di Srilangka.

Pada areal kuil Navagraha terdapat sebuah kolam suci yang dinamai "Jatayu Kudam", yang airnya diyakini bisa sembuhkan semua penyakit. Dalam mitologi dikisahkan bahwa planet Mars menderita kusta, dan kemudian berhasil disembuhkan oleh Vaidhyanatha. Dikisahkan pula bahwa putra Siwa bernama Subramanya tampil membunuh asura Surapadman. Dalam perang ini pasukannya terluka parah. Segera Dewa Siwa keluar untuk bertindak sebagai "tabib Vaitheeswaran" untuk sembuhkan luka-luka mereka. Pada mitos lainnya dikisahkan : Shiva datang sebagai Vaidya, yakni dokter untuk menyembuhkan kusta dari penyembah setia-Nya yang bernama Angahara.

1.2. Dewa Dhanvantari

Dewata Hindu lainnya yang berhubungan dengan kesehatan adalah Dewa Dhanvantari (धन्वंतरी; IAST : Dhanvantari) adalah seorang awatara Wisnu, yang disebut-sebut dalam kitab suci Wedha (utamanya Yayurweddha) maupun di Purana sebagai tabib para dewa dan ahli dalam hal pengobatan. Purana maupun wiracarita Mahabharata mengkisahkan sebagai muncul dari lautan susu saat para dewa dan asura berupaya mendapatkan tirtha Amreta. Dalam mitologi Hindu itu, Dhanwantari adalah tabib (dokter) yang pertama dan salah satu dokter bedah pertama di dunia, yang menyembuhan secara alami dengan sempurna dan dipercaya telah menemukan obat antiseptik dan obat untuk pencegah berbahan garam yang disertakan manakala menyembuhkan seseorang. Dalam tradisi Hindu, tabib Dhanwantari dipuja untuk mendapatkaan kesehatan bagi diri sendiri atau bagi orang lain.

1 3  Dewa Aswin dan Dwi Dhatri

Ada pula dewa Ashvins ( अश्विन, Latin: aśvin, dibaca: As-win), yang digelari sebagai "dokter para Dewa" atau dewa pengobatan. Mereka adalah putera Dewa Surya dan Dewi Saranya. Dalam Kitab Yayurweddha disebut sebagai"dewanya pengobatan", yang tampil ramah dan suka menolong. Dewa kembar Aswin acap digambarkan sebagai penunggang kuda yang membawa kemakmuran terhadap manusia serta memberi kesembuhan terhadap segala macam penyakit dan kemalangan. Dewa pengobatan lainnya lagi adalah Dhatri (varian sebutan "Dharitri, Dhra") adalah nama untuk Parwati di dalam Lalita sahasranaama. Dhatri adalah juga dewa kesehatan dan ketenangan rumah tangga. Dhatri sebenarnya merupakan Dewi Bumi, dan dianggap sebagai Dewa Alam sekaligus Dewa Kesejahteraan bagi makhluk hidup. Sebutan lain baginya adalah "Dewi Pertiwi (Sanskrta : Pṛthvī, atau Pṛthivī)" dan Ibu Bumi (pada bahasa Indonesia "Ibu Pertiw"). Dewi Prthvi adalah salah satu dari dua sakti dari Bhattara Wisnu, selain Laksmi. Dengan demikian, Dharti sama dengan apa yang oleh manusia Nusantara dinamai dengan "Sri". Pewayangan Jawa hubungkan Dewi Pertiwi dengan "Wijayakusuma" dari Sri Kresna, yang dikisahkan dapat menghidupkan makhluk hidup dari kematian.

1 4. Dewi Mariamman

Ada pula aDewi Mariamman, sebagai Dewi Peniada Penyakit sekaligus Dewi Hujan. Dewi Mariamman (மாரியம்மா), disebut lebih singkat "Mari") maupun Mariaai, keduanya berarti "Mother Mari". Kata "Mari" dalam bahasa Tamil secara harafiah berarti : hujan. Ada juga yang menyebutnya hanya dengan kata  "Amman" atau "Aatha", yang berarti : ibu, atau dewi hujan. Dengan demikian, Mariamman menunjuk kepada : Dewi Hujan, yakni dewi yang populer di pedesaan Tamil Nadu dan daerah sekitarnya. Dewi ini disembah oleh orang-orang Tamil kuno sebagai pembawa hujan, dan karenanya juga membawa kemakmuran. Kelimpahan hasil panennya sangat bergantung pada curah hujan yang memadai. Ada istilah Tamil 'Muthu" atau lengkspnya "Muthu Maari" Yang menjadi metafora puitis untuk hujan, atau disamakan mutiara berharga yang dianugerahkan sebagai hadiah dari dewi Alam. Maariamman juga mendapat sebutan sebagai "Muthu Maariamman", yang berarti : dewi yang memberikan hujan yang sejahtera. Hujan disamakan dengan mutiara yang berharga yang dianugerahkan sebagai hadiah dari dewi Alam. Mutiara hujan tersebut dianggapnya bisa menyembuhkan bisul, yang bentuknya serupa mutiara pada cacar air .

Mariamnan adalah dewi Hindu yang populer dan dominan pada pedesaan Tamil Nadu dan daerah sekitar, yang dipuja sebagai "Pidari" atau "Grama Devata", yang biasanya dipimpin oleh para pendeta non-Brahmana. Pemujaan terhadap-Nya dilakukan hingga sepuluh hari di minggu kedua April. Dewi Mariamman adalah dewi rakyat Tamil Nadu, yang kemungkinan berasal dari masa pra-Weddha, yang pada pasca Weddha dikaitkan dengan dewi-dewi Hindu lainnya, seperi Dewi Parwati, Durga, Kali, beserta mitranya seoerti dewi Shitala dan Manasa. Fokus pemujaan adalah pada Dewi -- bukan kepada Dewa, yang memberikan gambaran adanya kultus terhadap "Dewi Ibu", sebagai suatu indikasi religis untuk masyarakat yang memuliakan kewanitaan. Dalam tradisi Hindu, Mariamman dikonsepsikan sebagai saudara perempuan Renganath (bentuk Dewa Wisnu). Versi lain menyatakan bahwa Dewi Mariamnan adalah ibu dari Parasurama, yaitu Dewi Renuka, yang ditenangkan karena hujan. Ada pula yang memgidentikka  Mariamman dengan "Dewi Sri Chowdeshwari atau Chowdeshwari. Mariamman mewakili aspek inti dari Tuhan dalam bentuk aspek kuratif untuk menandakan arah serta kebangkitan pengetahuan. Dewi Mariaman acapkali dinamai "Mahalakshmi, Mahasaraswati, ataupun MahaKali". Varamahalaksh didedikasikan untuk Mariamman. Ini mewakili aspek yang terbatas dari kualitas yang tak terbatas.

Festivalnya diadakan selama akhir musim panas atau di awal musim gugur "Aadi", sehingga dinamai "Aadi Thiruvizha". Ritual ini diselrnggarakan  untuk mendapatkan hujan dan menyembuhkan sejumlah penyakit, seperti kolera, cacar, dan cacar air. Terkait dengan cacar itu, sebuah mitologi mengkisahakan tentang Nagavali yang cantik dan berbudi luhur. Ia adalah istri Piruhu, salah satu dari sembilan Rsi. Suatu hari ketika Piruhu pergi, datanglah Trimurti untuk menguji kebenaran akan kecantikannya dan kebajikannya. Nagavali lebih dulu mengubah dirinya menjadi anak kecil, sehingga dewa-dewa Trimurti tersinggung dan kemudian mengutuknya, sehingga kecantikannya memudar, bahkan wajahnya menjadi seperti terkena cacar. Ketika suaminya kembali, ia  menemukannya dalam kondisi cacat, selanjutnya mengusirnya, serta menyatakan bahwa dia akan dilahirkan sebagai iblis pada alam yang berikutnya dan menyebabkan penyebaran penyakit yang akan membuat orang-orang terlihat seperti dia. Dewi Mariamman sembuhkan semua penyakit yang disebut "panas", seperti  seperti cacar dan ruam. Selama bulan musim panas di India Selatan (bulan Maret hingga Juni), orang-orang berjalan bermil-mil dengan.membawa pot berisi air campur kunyit dan daun mimba untuk menangkal penyakit -- seperti halnya campak dan cacar air. Nariamman dianggap sebagai gramma dewata pada desa-desa tertentu, untuk mengurangi penyakit menular di desa-desa.

Dalam kitab Mahabharatta termuat kisah tentang asal-usul dari Mariamman. Dikisahkan bahwa dewi Dropadi, istri Pandawa, dikatakan sebagai inkarnasi dari Mahakali. Namun, hanya Kresna sajalah yang mengetahui, sebab meskipun Dropadi meskipun ia adalah inkarnasi dari Maha Kali, namun hidupnya seperti wanita normal, menekan kekuatan gaibnya. Tetapi pada malam hari, ketika Pandawa tertidur, dia melakukan perjalanan ke Desa-desa Vanniyar (Kshatriya) dalam bentuknya sebagai Maha Kali, dengan memainkan peran dalam melindungi desa. Mariamman ilazim dipanggil "Mari", yang berarti 'berubah. Namun, di Mysore kata "Mari" berarti : sakti, kekuatan, karena Mariamman diyakini dapat melindungi desa dan tanah..Dengan memuja Dewi Mariamman diharapkan mendapat kesejahteraan keluarga seperti kesuburan, keturunan yang sehat, maupun pasangan yang baik.

Māri biasanya digambarkan sebagai wanita muda, cantik, namun wajah merah, memskai gaun merah, dab kadang mempunyai banyak tangan — yang mewakili banyak kekuatan, meski dalam hanya memiliki dua atau empat tangan. Pada umumnya digambarkan dalam posisi duduk ataupun berdiri, sering kali memegang trisula di satu tangan dan mangkuk (kapala) di tangan lain. Salah satu tangan yang lainnya mensmpilkan mudra (yang biasanya abhayamydra) dimaksudkan untuk mengusir rasa takut. Tergambarlah bahwa Mariamman mewakili dua perilaku, yaitu (a) memperlihatkan sifat yang menyenangkan, sebaliknya (b) aspek menakutkan, dengan wujud fisis bertaring dan berambut liar.

5. Dewi Shitala.

Shitala  (varian sebutan "Sheetala dan Sitala", yang berarti : kesejukan) adalah dewi rakyat, yang dipuja di India Utara, Benggala Barat, Nepal, Bangladesh maupun Pakistan. Shitala merupakan inkarnasi dari Dewi Durga, penyebuh cacar, luka, huntu, pustula, maupun penyakit. Dalam mitologi agama Hindu dikisahkan : Durga menjelma jadi "Katyayani" untuk menghancurkan semua kekuatan jahat yang dikirim Kaalkeya. Diantaranya iblis bernama "Jwarasur", yang sebarkan penyakit tak tersembuhkan, seperti kolera, disentri, campak, maupun cacar. Katyayani berhasilkan menyembuhkannya, membebaskan dunia dari penyakit. Katyayani mengambil wujud sebagai Shitala. iblis Jwarasur juga menyebarkan deman (istilah Sanskerta "jvara" berarti : deman) yang tidak tersembuhkan. Para ibu pun menangis dan meratap, sedangkan para dokter tidak berhasil menemukan obatnya.

Dewa Mahadewa dan aDewi Parwati memutuskan untuk mengambil tindakan untuk menghentikannya. Mahadewa mengubah diri menjadi Bhairawa  ​​dan mencegah Jwarasur untuk menyebarkan demam yang melukai anak-anak. Sementara itu, Parwati mengubah dirinya menjadi Dewi Sheetala, dengan wujud menyerupai gadis.  Empat tangan (catur bhyuja)-nya memegang  (1) mangkuk (kapala), (2) sapu pendek, (3) menampi kipas, serta (4) kendi berisi air pendingin dan gelas mimum, yang dengan kekuatannya mampu menyembuhkan keseluruhan penyakit anak-anak.  Kendaraannya berupa keledai. Apabila bertangan delapan (hasta bhyuja), masing- masing tangan membawa (1) trisula , (2) sapu, (3) cakra, (4) stoples abrasia atau pot penuh air, (5) cabang daun  mimba, (6) pedang (kadga), (7) cangkang kerang (sangka), serta (8) waramudra. Sang dewi diapit oleh dua ekor keledai sebagai wahana- nya. Personivikasi ini menggambarkan dewi perlindungan, keberuntungan, kesehatan, dan kekuasaan. Dewi Sheetala memberikan bantuan pada anak-anak. Air dinginnys memberi kelegaan bagi semua anak yang deman. Mereka berhasil dipulihkan kesehatannya dan semua orang tua bersuka cita karenanya. Semua orang memberikan penghormatan padaNya, dan semua anak berterima kasih terhadapNya, lantaran telah disembuhkan dari penyakit demam.

Sheetala muncul di medan laga, dimana Bhairava ​​dan Jwarasur bertempur hebat. Sheetala memarahi Jwarasur atas kesalahannya dalam menyebarkan demam keoada anak-anak. Bhairava juga membuat Jwarasur menjadi tahu bahwa Dewi Sheetala tidak hanya dapat sembuhkan penyakit cacar, luka, hantu, pustula dan penyakit, namun Ia sendiri adalah dewi luka, huntu, dan penyakit. Ia adalah penyebab dan sekaligus sebagai obatnya. Pada akhirnya, Sheetala menginfeksi Jwarasur dengan kasus cacar yang hebat, dan mengakhiri semua aksi terornya. Setelah itu, Dewa Mahadewa membebaskan dirinya dari Bhairawa, adapun Parvati membebaskan dirinya dari Sheetala. Mereka berdua pulang ke Kailasha.

Dewi Shitala terutama populer di India Utara. Pada  beberapa tradisi Shitala diidentikkan dengan aspek Parvati, yakni pendamping Dewa Siwa. Dewi hitala disebut sebagai "Ibu", atau sebagai dewi musiman (Vasant, yaitu Musim Semi), yang menyandang beberapa gelar kehormatan seperti : Thakurani, Jagrani ("Ratu Dunia"),  Karunamayi ("Dia yang penuh curahan belas kasihan"), Mangala ('Yang Menguntungkan), Bhagavati  ("Sang Dewi '), dan Dayamayi ('Dia yang Penuh Rahmat dan Kebaikan"). Peran Dewi Shitala di India Selatan diambil oleh inkarnasinya, yaitu Dewi  Mariamman.  Di Gurgaon dan negara bagian Haryana, Shitala dinggapnya sebagai Kripi, yakni istri dari Guru Dronacharya. Penyembahan Dewi Shitala dilakukan oleh para Brahmana dan pujaris, yang utamanya dipuja di musim kemarau, musim dingin dan musim semi, tepatnya  di hari yang disebut "Sheetala Asthami ". Dewi Shitala digambirkan sebagai gadis muda yang dimahkotai dengan kipas menampi, mengendarai keledai, membawa (a) sapu pendek (buat sebarkan atau untuk bersihkan kuman), (b) pot penuh virus atau air dingin sebagai lat penyembuhan. Diantara komunitas Hindu dan pada kasta rendah, ia diwakili dengan batu lempengan atau kepala yang berukir. Terkadang Shitala membawa seikat daun neem (Azadirachta indica ), yakni ramuan obat yang digunakan di seluruh India sejak zaman kuno dan diyakini sebagai obat yang efektif untuk sebagian besar penyakit kulit.

Dewi Shitala adalah bentuk dewi Katyayani, yang memberi kesejukan kepada pasien demam.  Ketika iblis Jvarasura memberikan demam bakteri kepada semua anak, dewi Katyayani datang dalam bentuk Shitala untuk membersihkan darah anak-anak dan menghancurkan bakteri demam di dalam darah. Penyakit digambarkan sebagai Jvarasura penyebar demam. Selain Dewi Shitala, terdapat juga Ghentu debata, yakni dewa penyembuh penyakit kulit; Dewi Raktabati pentembuh infeksi darah dan enam puluh empat epidemi; dan seringkali disebuti "Oladevi", maupun dewi penyembuh penyakit lainnya (seperti penyakit kolera). Di dalam pantheon Buddhisme, Jvarasura dan Dewi Shitala digambarkan sebagai "pengawal" bagi Paranasabari, yakni dewi penyakit dalan konsepsi Buddhis.

1 6 Iblis Jvarasura

Sebagaimana telah dipaparkan di atas (butir 2B.1.5), Jvarasura digambarkan sebagai Iblis yang menyebarkan penyakit deman, khusus- nya karena anak-anak. Unsur sebutan "jvara" dari sebutan "Jvarasura" Ini secara harafiah berarti : deman. Kekuatan jahat yang sebabkan sakit deman ini berhasil dikalah oleh Dewi Shitala.

1.7. Dewi Paranasabari

Parṇaśabarī (varian sebutannya "Paranasabari, "Parnashavari : पार्णशबरणशब) adalah dewata Hindu yang dewa diadopsi sebagai dewa penyakit dari konsepsi Buddhis. Pemujaan terhadapnta diyakini menawarkan perlindungan yang efektif terhadap epidemi. Arca Paranasabari ditemukan di Data dari periode Pala (abad VIII-XII Masehi). Disanoung itu ditemukan gambaran perunggu dari abad X- XII Masehi, yang menggambarkan diri-Nya sebagai dewi utama (istadewata) dikawal  oleh Dewi Shitala dan Iblis Jvarasura, yang keduanya terkait dengan penyakit dan penyembuhannya  Di dalam doktrin agama Buddha, Paranasabari digambarkan Dalam agama Buddha, Paranasabari digambarkan sebagai pelayan dari dewa Buddha dengan nama "Tara". Demikianlah, Paranasabari merupakan dewi yang memberikan perlindungan efektif terhadap epidemi.

2..Siratan Data Penyakit, Pemyembuhan, dan  Pengobatan

Paparan mengenai patheon di dalam agama Hindu dan Buddha di atas (B.1) memberi kita infornasib tersirat, baik mengenai (a) ragam penyakit, (b) dewa pemyenbuh penyakit, dan (c) pengobatannya. Meski informasi tersebut bersumber dari mitoligi, namun terkandung di dalamnya info mengenaj beragam penyakit pada zamannya, seperti (1) kusta, (2) luka (karena perang), (3) cacar, (4) cacar air atau busul,  (5) kolera, (6) campak, (7) ruam, yaitu kondisi kulit yang ditandai oleh iritasi, bengkak atau gembung kulit yang diketahui dengan adanya warna merah, rasa gatal, bersisik, kulit yang mengeras ataupun benjolan melepuh di kulit, (8) desentri, (9) demam, (10) penyakit kulit -- namun tak disebut mengenai spesifikasinya,  (11) infeksi darah (sepsis), yaitu komplikasi dari infeksi, yang terjadi ketika senyawa kimia yang dilepaskan oleh tubuh ke dalam darah memicu terjadinya peradangan pada seluruh tubuh, selanjutnya memicu serangkaian perubahan yang dapat merusak berbagai organ dalam tubuh, (12) pustula, yaitu benjolan yang berisi cairan atau nanah pada kulit yang merupakan hasil dari infeksi bakteri di pori-pori, serta (13) huntu (sakit gigi). Ada pula yang hanya disebutnya secara umum dengan perkataan semua atau segala penyakit, enam puluh endemi dan epidemi. Juga disebut mengenai virus dan kuman.

Informasi lain adalah penyembuh penyakit, atau semacam tenaga medis, yang di dalam mite ini diperani oleh dewa-dewa atau tabib, baik menurut konsepsi Hindu, Buddha, ataupun religi pra-Weddha. Adapun penyakit yang disembuhkannya, terkadang hanya diselbut dengan perkataan umum  -- tanpa menyebut tentang spesifikasi penyakitnya, seperti : penyembuh segala (semua, berbagai) penyakiit, tabib para dewa, tabib yang pertama, ahli bedah pertama, ahli pengobatan, pemberi kesembuhan, pemberi keturunan yang sehat, peniada penyakit, pelindung efektif terhadap epidemi, pemberi kesehatan, pemberi kesejahteraan bagi makhluk hidup. Namun, ada pula yang menyebut secara eksplisit petihal penyakit yang disebutkan, seperti :  Dewa Vaidyanata penyembuh kusta, Dewa Siwa penyembuh luka,  Dewi Shitala penyembuh demam atau menghancurkan bakteri demam dalam darah, Dewi  Ghentu debata penyem- buh uh penyakit kulit, dan Dewi Raktabati penyembuh infeksi darah.

Selain itu, meskipun tdak sentiasa  jelas, ada juga informasi pengenai obat atau pengobatan yang dilakukan. Pengobatan yang dilakukan terkadang hanya disebut secara umum, seperti pengobatan secara alami, penyembuhan untuk diri sendiri dan orang lain, membersihkan kuman. Namun, terdapat pula penyebutan secara spesifik mengenai obat yang gigunakan, seperti air dicampur kunyit, obat berbahan garam, air dingin -- dipergunakan untuk melegakan penderita demam, daun  mimba yang berkhasiat antimikroba dan berpotensi membantu mencegah ataupun memperlambat pertumbuhan mikroba jahat (bibit penyakit) karena mengandung senyawa bioaktif (disebut dengan "alkaloid, steroid, flavonoid, dan tanin") yang menghambat proses pertumbuhan bakteri Salmonella dan E. Coli, daun neem (Azadirachta indica) sebagai ramuan obat untuk penyakit kulit, serta obat anti septik.

C.. Identifikasi "Bhathara i Malangkuceswara"

Merujuk pada paparan terdahulu, kini tibalah saatnya untuk mengidentifikasikan tentang : (a) siapa yang dimaksudkab dengan "Bhathara i Malangkuceswara", (b) fungsi bangunan suci Malangkuceswara, dan (c) kemungkinan lo- kasi sari bangunan suci (baca "candi") yang dinamai "Malangkuceswara. Kata " bhathara" adalah partikel penyebut yang digunakan untuk menyebut dewa/dewi yang termulia. Tidak selalu kata "bhattara" diikuti dengan nama dirinya (misalnya : Bhathara Guru, Bhattari Durga, Bhathara Parameswara, dsb.), namun terkadang tanpa menyebut nama diri dan hanya diikuti dengan lokasi dari bangunan suci padamana bhathara itu dipuja (misal :  bhathara i Walandit, bhathara Palah, bhattara i Pangawan, dsb.). Kata depan "i" dalam arti : di, memberikan gambarkan mengenai lokasi dari bangunan suci (candi) yang bersangkutan  Secara harafiah, kata "bhattara/i" berarti : tuan yang mulia, tuan besar, pribadi yang patut untuk dihormati atau disegani, dewa, orang besar, cendekiawan, dewa tertinggi (Zoetmulder, 1995: 114). Dalam konteks sebutan tertelaah, yaitu "Malangkuceseara", sangatlah mungkin dewata yang dimaksud itu adalah "Siwa", karena kata "Iswara" merupakan salah satu sebutan untuk Dewa Siwa sebagai "dewa pelindung".

Jika merupakan dewa pelindung, pertanyaan terkait itu adalah "apa yang dilindungi-Nya?". Jawaban terhadap pertanyaan ini tergambar pada unsur sebutan "mala", yang salah satu alternasi artinya adalah : penyakit. Apabila benar demikian, maka Bhattara i Malangkuceswara adalah Siwa (alias "Iswara"), yang menjadi dewa pelindung terhadap penyakit, penyembuh sakit, ataupun pemberian kesehatan. Peran medis yang diermban Siwa ini mengingatkan pada peran Dewa Vaidyanatha (Vaitheeswaran"), yaitu salah satu asapek Siwa sebagai Dewa Penyembuh penyakit, baik luka atau lebih khusus lagi penyakit kusta (bahasa Jawa Kuna dan Tengahan "wudug"). Dalam fungsi ini, Iswara dipersonifikasi semacam "tenaga medis" untuk menyembuhkan penyakit, yang secara lebih khusus adalah penyakit kusta, yang merupakan penyakit tua dan tersebar dalam jumlah banyak di penjuru dunia dari waktu ke waktu. Bhattara i Malangkuceswara itu dapat diidentikkan dengan  Vaidyanatha.

Bangunan suci untuk memuja Siwa sebagai Dewa Penyembuh Penyakit -- sebutan Jawa Kuna dinamai "Malangkuceswara (terdiri atas : mala + angkusa + Iswara)" diberitakan di dalam tiga sumber data tekstual, yaitu Prasasti Kedu (Mantyasih I, tahun 907 Masehi), prasasti bertarikh 908 Masehi dari dekat Singosari, dan inskripsi pendek pada salah satu candi perwara Prambanan. Dengan demikian, bisa jadi di daerah Malang juga terdapat candi (bangunan suci) untuk fungsi "relegio-medis" Ini. Dimana lokasinya di daerah Malang? Tak dipereh informasi dari sumber data tekstual itu mengenai lokasinya. Namun, ada tempat tertentu di Malang yang patut dipertimbang- kan, yaitu di areal Gunung Buring. Alasannya adalah nama arkhais untuk gunung (baca "bukit") ini adalah "Gunung Malang". Dalam peta rupa bumi (topografi) tahun 1811, nama darinya masih tertuliskan "Malang Berg (Gunung Malang) -- nama "Gunung Buring" tentulah baru digunakan pasca tahun 1811. Selain itu, pada penghujung utara Gunung Buring terdapat desa bernama "Malangsuko", yang bisa jadi berasal dari nama "Malangkusa (mala + angkusa)". Dapat pula ditambahkan, pada sebelah barat Gunung Buring konon terdapat desa tua yang beragama Malang -- sebagaimana disebut di dalam prasasti tembaga (tamraprasasti) Ukir Negara (sebutan lain adalah "Pamotoh") bertarikh Saka 1120 (1198 Masehi) yang dikekuarkan oleh raja Sri Digjaya Resi yang berisilan anugerah istimewa kepada Dyah Limpa.

Demikianlah, jika benar demikian berarti pada abad X Masehi di daerah Malang pernah ada bangunan suci (candi), yang secara khusus difungsikan untuk mendapat keterlindungan dari serangan penyakit, kesembuhan dari sakit, ataupun perolehan akan kesehatan. Bangunan suci tersebut diberi sebutan "Malangkyceswara", yang bisa jadi berada di areal Gunung Buring. Sayang sekali, hingga sejauh ini belum dapat diIdentifikasikan situs mana yang dimaksud. Candi ini sejaman dengan yang terdapat di daerah Kedu (sekitar Mantyasih) dan sebuah candi Perwara di Prambanan, yang berasal dari era pemerintahan Raja Balitung. Ada kemungkin- an, pada abad X penyakit kusta mewabah di sejumlah tempat di Jawa, yang untuk itulah maka bangunan suci Malangkuceswara dibangun sebagai wahana rekugis untuk mendapatkan keterlindungan dan penyebutan dari penyakit kusta ini. Daeah-daerah vulkanik seperti di sekitat Kedu, Yogyakarta dan Malang adalah daerah-daerah yang terbilang rawan terhadap wabah kusta tersebut

Terkait dengan asal-usul nama "Malang", bukanlah seperti pendapat "salah kapar" salama ini, bahwa sebutan "Malang" berasal dari "Malangkyceswara". Muasal sebutan dari nama "Malang" saja, karena di dalam prasasti Ukir Negara (1198 Masehi) nama ini telah kedapatan, sebagai nama tempat -- setingkat desa (wanua), yang terletak di timur (sakarida)nya Gunung Kawi, pada tepi hutan yang banyak hewan buruannya. Gunung Buring konon disebut dengan "Gunung Malang", lantaran gunung yang berada di sebelah timur Desa Malang tersebut bisa dibilang sebaga "gunungnya orang Malang". Tepatlah juga bangunan suci itu dibilang sebagai tempat untuk pemujaan "Bhattara i Malangkyceswara", lantaran lokasi candi tersebut berada di Gunung Malang.  Kata " i (di)" dalam "Bhattara i Malangkyceswata" menjadi penegas akan lokasinya di suatu tempat  bernama "Malang". Jadi, bukannya nama "Malang" berasal dari sebutan "Malangkuceseara", namun  sebaliknya diberi nama "Malangkuceswara" karena berada di tempat bernama "Malang" dan (b) tempat ibadah yang terkait dengan "mala (penyakit ) -- yaitu  supaya mendapatkan perlindungan dari penyakit, agar sembuh dari sakit serta berharap terpelihara kesehatannya

D. Pengharapan "Hidup Sehat" pada Lintas Masa

Siapapun, dimanapun, dan kapanpun tentulah ingin hidup sehat. Pengharapan untuk mendapatkan perlindungan dari serangan penyakit, sembuh dari sakit, atau senantiasa sehat wal afiat merupakan asa yang universal. Bahkan, asa yang utama untuk menjadi hidup adalah "asa sehat" sebagai lawan dari "kematian". Meski kematian diyakini sebagai "takdir (garis Illahi, atau ketentuan Illahi)", namun manusia senantiasa berikhitiar sehat, dan tidak asal membiarkan diri hingga menjadi mati. Baginya mati adalah realitas yang berada "diluar kemampuan diri" untuk hidup sehat dan karena memang telah ditakdirkan sebagai "mati".

Asa sehat inilah yang dari waktu ke waktu menjadi picu internal (daya intrinsik) bagi setiap orang untuk menjaga kesehatannya.,  terhindari dari penyakit, dan apabila terserang sakit maka dapat segera tersembuhkan, lantas kembali pulih sehat. Untuk memperoleh kesehatan ada banyak cara dilakukan, baik dengan cara (teknis) medis ataupun dengan munggunsksn ikhtiar religis -- diistilahi dengan " religio- medis". Doa dari berbagai agama acapkali memuat pengharapan untuk mendapat kesehatan. Demikian pula, jika orang tengah terserang sakit, maka dirinya, keluarganya atau handai taulannya mendoakan untuk segera dapatkan kesembuhan. Bahkan, pada agama Hindu dan Buddhis terdapat bangunan suci khusus untuk kepentingan itu, dan terdapat dewa-dewa tertentu yang dipuja untuk mrmprreh keterlindungan dari penyakit, sembuh dari sakit dan senantiasa sehat.

Dikianlah tulisan yang bersahaja ini dibuat untuk menberikan gambaran bahwa ikhtiar medis telah diupayakan sedari dulu, tidak terkecuali ikhtiar "religio-medis". Semoga tulisan ini memberikan kefaedahan. Nuwun.

Sangkaling, 6 April 2020
Griya Ajar CITALEKHA

(Sumber tulisan : dwi cahyono fb)

Subscribe to receive free email updates: