Pelopor Jurnalisme Warga (Malang Raya, Jawa Timur)

Polling Pilkada MLG_KAB 2020 [One Phone One Vote]

PERAN DUKUN BAYI DALAM PROSES PERSALINAN : Ungkapan Paleo-Obstetri pada sebuah Panil Relief Ramayana di Candi Prambanan

Oleh :M. Dwi Cahyono
(Arkeolog / Sejarahwan Nasional)

A. Persalinan dan Dukun Bayi

Obstetri adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari mengenai kehamilanan dan persalinan. Adapun ginekologi adalah cabang dari ilmu kedokteran, yang khusus mempelajari masalah reproduksi wanita. Dalam istilah awam, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (yang biasa disingkat "obgyn" atau "SpOG"), seringkali pula disebut dengan "dokter kandungan". Pada masa lalu, tenaga medis tradisional yang khusus menangani perihal ini adalah "dukun-bayi" atau "dukun-beranak", yakni salah satu spesialisasi dalam dunia perdukunan. Meski tak sebanyak dulu, di beberapa daerah dukun bayi masih ada dan dimintai jasa medisnya untuk menangani ibu hamil dan bayi. Adapun di banyak daerah yang lainnya keberadaannya kian tergusur oleh dokter Obgyn dan Bidan.

Kata dukun dikenal baik dalam bahasa Jawa Baru ataupun Jawa Tengahan (Kawi). Dalam bahasa Jawa Baru, kata "dukun" menunjuk jepada : wong sing gawene nambani (orang yang pekerjaannya menyembuhkan) (Mangunsuwito, 2013 :514). Sedangkan dalam bahasa Jawa Tengahan diartikan sebagai : ahli dalam resep magi (ramuan obat-obatan, dsb.) (Zoetmulder, 1995:234). Istilah ini kedapatan dalam Kidung Malat (2.11), yang memuat kalimat "angundang para dudukun muang para rsi". Data "dudukun" adalah kata ulang "dukun-dukun". Dalam sumber data prasasti, istlah ini dijumpai pada prasasti pendek (short inscription) Pasrujambe beratrikh Saka 1381 Caka (1459 Masehi). Prasasti yang ditemukan tahun 1954 di Desa Tulungrejo Desa Pasrujambe Kecamatan Pasrujambe dengan akasara khas "Semeru Srlatan" ini antara lain menyebut tentang orang-orang suci, seperti bagawan Citragotra dan bagawan Caci, pertapa (wong samadi) dan dukun (dudukuna) (Atmodjo 1990, Nastiti dkk, 1994/5, Suhadi ddk, 1996/ 7). Sebutan "dudukuna" adalah kata ulang "dukun (dukun-dukun+a)". Pada abad XV atau masa Majapahit Akhir, Pasrujambe merupakan tempat padamana para rokhaniawan, seperti pertapa, guru dan dukun melalukan kegiatan keagamaan.

Kata "dukun" yang berasal dari bahasa Jawa Tengahan dan Jawa Baru diserap ke dalam bahasa Indonesia, dalam arti : orang yang . nengobati, menolong orang samit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb.) (KBBI (2002:279). Kata "dukun" acap dipadu dengan kata lain untuk menunjukkan kekhususannya, seperti dalan kata gabung "dukun-beranak, dukun-calak, fukun-japa, dukun-klenik, dukun- siwer, dukun- susuk, dukun-santet atau dukun- tenung, dsb.". Ada pula dukun yang berdadarkan latar perolehan keahliannya seperti dalan kata gabung "dukun- tiban". Sesuai kata gabungnya, yakni "beranak", perkataan ini menunjuk kepada : dukun yang pekerjaannya menolong perempuan melahirkan (KBBI, 2002:379). Sebutan lainnya, berdasarkan spesifasi orang yang ditamganinya, yakni bayi, maka sebutannya adalah "dukun- bayi". Ada pula yang menyebut dengan "paraji".

Dukun bayi dengan demikian adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya menolong proses persalinan, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar komunikasi, dsb. Selain dilengkapi dengan keahlian (skill), dukun bayi biasanya melengkapi diri dengan berbagai mantra khusus yang dipelajarinya dari pendahulu. Proses pendampingan tethadap ibu dan anak dilakukan sampai dengan bayi berumur 2 tahunan. Pendampingan yang ssifatnya rutin sekitar 7-10 hari pasca melahirkan. Menurut konsep yang disusun Departemen Kesehatan RI (1994), dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat . Pada warga tradisional,, perannya tak dapat diabaikan dan penting jasanya dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Terkait itu, Koentjaraningrat (1982) menyayakan bahwa dukun bayi merupakan sistem pelayanan kesehatan tradisional yang memberikan jasa pelayanan untulk meningkatkan dan memelihara kesehatan ibu dan anak menurut keyakinan dan konsepsi adat tradisional dan kebudayaan warga bersangkutan. Sistem budaya dari pelayanan kesehatan tradisional yang dimiliki dukun bayi mengandung seluruh ilmu pengetahuan yang untuk sebagian berupa pengetahuan tradisional, sebagian berupa ilmu gaib dan sebagian lagi keyakinan- keyakinan religi. Pengetahuan tradisional itu tidak hanya mengenai berbagai macam penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit dan cara penyembuhan atau  pencegahan penyakit, tetapi juga tentang obat- obatan tradisional, tumbuhan berkhasiat serta makanan dan minuman.

B. Deskripsi Dukun Bayi pads Trlief Candi

Panil relief tertelaah adalah salah sabuah panil rrluef cerita  "Ramayana" yang berada di pagar langkan sisi dalam candi Induk UI berpostur tunihnya kegemukan dan petutnya besar, sebagai pertanda tengah hamil besar atau hamil tua (meteng gefe, meteng tuwek). Acapkali kehamilan disertai dengan peningkatan gemuk tubuh dan membesarnya payudara. Kain bawah yang dikenakan longgar, sesuai dengan kondisi dirinya yang tengah hamil.Posisi kakinya duduk bersimpuh dengan tekukan kaki pada lutut, dan sengaja kedua pahanya agak dibuka ke samping seperti posisi kaki orang yang tengah menjalani persalinan. Tubuhnya agak dicondongkan ke arah belakang.

Ada berbagai hal yang dilakukan oleh tenaga medis terhadap ibu hamil, dua diantaranya adalah pengaturan posisi dan sentuhan. Posisi- posisi yang dipilih ibu hamil dalam menghadapi persalinan kala I dan II sangatlah penting. Posisi persalinan, perubahan posisi dan pergerakan yang tepat membantu dapat meningkatkan kenyamanan atau menurunkan rasa nyeri, meningkatkan kepuasan akan kebebasan untuk bergerak, dan meningkatkan kontrol diri ibu hamil. Selain itu, posisi ibu hamil juga dapat mempengaruhi posisi bayi dan kemajuan persalinan. Salah satu pisisi dalam proses persalinan adalah setengah duduk. Posisi ini membuat ibu hamil merasa nyaman. Dengan posisi demikian sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh oleh janin untuk bisa keluar menjadi lebih pendek. Disamping itu, suplai oksigen dari ibu ke janin pun juga dapat berlangsung secara maksimal. Bagi tenaga medls, posisi demilikan mempermudah untuk bimbing kelahiran kepala bayi dan mengamati (support perineum). Namun pada sisi lain bisa menimbulkan rasa lelah dan keluhan pegal pada punggung, terlebih lagi bila proses persalinannya berlangsung lama. Posisi setengah duduk dilakukan pada pembukaan kala I dan II.

Perempuan yang berada di muka ibi hamil amat mungkin adalah dukun-bayi (paraji). Bentuk tubuhnya unik, dengan pantat yang besar dan menonjol. Rambutanya yang panjang ditekuk dan digelung di belakang kepalanya. Ia memakai semacam upawita khas, sebagai petanda profesi dirinya. Kedua tangannga menyentuh perut ibu hamil, yang besar kemungkinan melakukan sentuhan dan masase untuk membantu ibu hamil menjadi rileks, merasa lebih segar, lebih tenang, serta lebih terlkurangi rasa nyerinya. Namun demikian, individu yang melaksanakan pemijatan harus benar-benar memberi perhatian pada respon wanita yang dipijat untuk tentukan apakah tekanan telah diberikan dengan tepat. Pemijatan secara lembut bisa merangsang tubuh untuk melepaskan senyawa endhorphin yang merupakan pereda sakit alami. Endorphin juga dapat menciptakan perasaan nyaman dan enak. Pemijatan juga membantu ibu hamil merasa lebiih dekat dengan orang yang merawatnya. Sentuhan seseorang yang peduli dan ingin menolong merupakan sumber kenikmatan saat sakit, lelah dan takut. Pemijatan dapat dilakukan menggunakan minyak sayur, minyak pijat atau sedikit bedak supaya tangan agak licin dan ibu merasa nyaman.

Pada umumnya, ada dua teknik pemijatan yang dilakukan dalam persalinan, yaitu effluerage dan counterpressure. Pada telief ini, kemungkinan dilakulan teknik effluerage, yaitu teknik pemijatan berupa usapan lembut, lambat dan panjang atau tidak putus-putus. Teknik ini menimbulkan efek relaksasi. Effluerage dilakukan dengan mamakai ujung jari yang ditekan secara lembut dan ringan tanpa tekana kuat, dan diusahakan ujung jari tak lepas dari permukaan kulit. Pemijatan dimulai dengan tangan pada kedua sisi pusar. Gerakan tangan ke arah atas dan ke arah luar pusar, dan kembali ke bagian pubik. Kemudian pindahkan kembali tangan ke arah pusar. Masase dapat diperluas sampai paha. Masase ini juga dapat dilakukan sebagai gearkan saling menyilang di sekitar sabuk pemantau janin. Gerakan jari menyilang perut dari satu sisi ke sisi lainnya dari sabuk pemantau janin.

Perempuan yang berada di belakang ibu hamil bisa jadi adalah pembantu (asisten) dukun-bayi. Usianya lebih muda daripada sang paraji. Kedua kakinya duduk besimpuh. Tangan kirinya tengah memvawa sesuatu, adapun pangan kanannya dengan telapak tangan menghadap ke aras agak dicekungkan, sepwrti tengah mewadahi suatu cairan. Ada kemungkinan cairan tersebut adalah minyak yang dibutuhkan oleh dukun-banyi kerika melalukan pemijatan atau massase terhadap ubu hamil. Ketoga tol h peran ini berada di suatu tempat yang ditata sedemikian rupa, yang boleh jadi adalah rumah dukun bayi. Penataan tersebut tergambar pada adanya lantai berteras dua. Ibu hamil dan asisten dukun-bayi berada pada teras atas, sedangkan kaki dukun-bayi berada di teras bawahnya. Dengan pisisi demikian memudahkan dukun-bayi umtuk mekukan tugas khususnya. Yang sulit dan belumndapat diidentifikasikan dari reluef itu adalah, tangan kiri dukun-bayi membawa sesuatu yang menyerupai kumpulan benda memanjang dan diarahkan ke perut ibu hamil. Benda apakah itu -- mungkinkan semacam benda azimat (fetisy) -- dan apa fungsinya bagi upaya untuk memperlacar proses persalinan.

C. Kian Lenyapnya Peran Dukun-Bayi

Sejak tiga dasawarsa terakhir jumlah dukun-bayi berkurang dengan signifikan, utamanya di daerah perkotaan. Tenaga medis "modern", baik bidan ataupun dokter ibgyn lambat laun mengurangi peranan dukun-bayi, baik dalam hal perwatan kehamilan, menolong proses kelahiran maupun merawat bagi. Kebdatipun demikian, di daerah- daerah tertentu dukun-bayi masih diidapati dan jasa medisnya dibutuhkan oleh warga setempat. Meskipun di tempat itu telah terdapat bidan -- misalnya "bidan desa", nanun tidak sertamerta dukun-bayi kehilangan perannya. Warga justru mempunyai dua pilihan, yakni (a) tenaga medis trasidional (dukun- bayi) atau (b) tenaga medis modern (budan). Bahkan, ada warga masyarakat yang fanatik terhadap dukun-bayi. Misalnya, warga Tengger di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang hingga kini di zaman now ini mempersyaratkan keberadaan dukun-bayi ketika menghadapi prises persalinan. Kalaupun ada bidan, namun tetap merasa perlu untuk didampingi oleh dukun-bayi.

Teknik medis modern dalam menolong krlahiran bida menggantikan teknik medis tradisional, tapi ada yang tak bisa digantikan terhadap dukun- bayi, yaknu kekuatan mantra-mantranya -- yang diyakini dapat membantu keselamatan ibu dan bayi. Oleh sebab itu kebetadaan dukun bayi tetap diperlukan dalam proses persalinan. Selain itu, selama 40 hari warga Tengger membutuhkan jasa dukun-bayi untuk merawat bayi yang baru lahir hingga satu persatu dari 40 budadari yang yang diyakini mrndampingi kelahiran bayi pergi meninggalkan rumahnya. Dalam hal ini, dukun- bayi dipercaya dapat menjalin komunikasi dan kerjasama dengan para budadari tersebut.

Sayang sekali, kini tak banyak generasi penerus yang berminat mempelari tradisi medis warisan leluhur, yaitu pengetahuan, ketrampilan maupun pengalaman sebagai dukun bayi. Bahkan, anak atau cucu fukun bayi pun tak mrmiliki minat untuk mewarisi keahlulian leluhurnya itu. Alasan yang dirasa memberatkan adalah beratnya laku rokhani untuk memprlari japa-mantra yang justru mrnjadi keunggulan dukun-bayi. Srlain itu, pihak medis midern -- termasuk aDinas Kesehatan tidak optimal memainkan peran untuk membantu proses pelestarian dan regenerasi dukun-bayi. Malahab secara berangsur-angsur berupaya menggantikan peran dukun-bayi dengan bidan. Mustinya justru menjadi fasiltator untuk proses regenerasi dan memberi tambahan pengetahuan serta ketrampilan medis miden kepada mitranya, yaknu para dukun-bayi. Budan seharusnya tak tidak perlu khawatir tersaingi oleh dukun-bayi, seperti tak khawatirnya dukun-bayi oleh saingan dari budan dan dokter obgyn.

Tentulah amat disayangkan bila khasanah medis tradisional, yang notaene berakan dalam sejarah dan berkontribusi riil lintas masa, semisal dukun- bay, lenyap dari bhumi Nusantara. Medis modern tak harus menyirnakan medis teadisional, namun sebaliknya seharusnya saling melengkapi, saling mengayakan. Cina dan Kirea adalah contoh baik, dimana medus tradisional didampingkan dan dikuatjan dengan medis modern, dimana pihak pemetintah (negara) turut berperan dalam upaya demikian. Berharap ke depan Pemetintah RI turut tergerak menjejaku langkah dari Cina dan Korea tersebut. Sasastra, relief candi dan arsip sejarah memuat infimormasibyang cukup mengenai medis tradisional Nusqntara lama. Kitab-kitab usada (husada) dan tradisi lulisan mengenai tanaman toga adalah "ensiklopedia medis teadusional" yang ke depan mustilqh lebih dieksplorasi, didesiminasi dan syukur apabila durevitalusasi dengan pengetahuan serta teknik medis modern. Semoga, papa kabhuktihi.

Sangkaling, 21 Januari 2019
Griya Ajar CITRALEKHA
(Sumber tulisan M. Dwi Cahyono fb)

Subscribe to receive free email updates: