Pelopor Jurnalisme Warga (Malang Raya, Jawa Timur)

Polling Pilkada MLG_KAB 2020 [One 'Phone' One Vote]

"JANGKIKIKAN", SLAMETAN BUAT BOCAH CILIK PADA MOMENTUM WETONAN

Ilustrasi / mdc
Sugeng "Ambal Dinten Jati"
Juli, tanggal 28 tahun 2020

Oleh : M. Dwi Canyono
(Sejarahwan/ Arkeolog Nasional)
   
     Slametan iki kanggo
     dongakne wong sing ditoni
     karep ben slamet, waras, pinter,
     lan opo wae sing dilakoni biso lancar.

A. Beda antara "Wetonan" dan "Ulang Tahun"

Ketika mendengar sebutan "selamat ulang tahun (happy birthday) " -- yang kini sering ditranslasikan ke dalam Bahasa Jawa menjadi "sugeng ambal warso", maka saya teringat kepada masa kecil. Kala itu, setengah abad yang lalu, tradisi "ulang tahun" tidak familier pada keluarga saya yang terbilang "rodo ndesani tur ngunani". Meski demikian, bukan berarti bahwa keluarga says tidak tenaruh perhatian kepada momentum "kelahiran (jati) ".  Hanya saja, momentum kelahiran yang kami perngati bukanlah "tanggal dan bulan kelahiran", tetapi "hari kelahiran". Hitungan momentum hari (numeroligi) kelahiran itu adalah : kelipatan (a) hari yang berjumlah lima lima (pancawara, pasaran limo), dan (b) hari berjumlsh tujuh (saptawara, dinten pitu), sehingga totalnya berjumlah : 5 X 7 = 35 hari, atau acapkali disebut dengan "selapan dino".

Setiap orang pada setiap selapan -- dihitung dari dari hari kelahirannya, maka secara siklis ia tiba pada "hari kelahiran", yang diistilahi dengan "weton". Kata dasar (lingga) dari kata jadian initiative adalah "wetu", yang berarti : keluar -- yang bersinonim arti dengan "metu". Oleh karena itu ada pula sebutan j"wedalan" -- yang berkata dasar "wedal", yang juga berarti : keluar. Yang dimaksudkan dengan "keluar" di dalam konteks ini adalah keluar dari kandungan (guo garbo) ibu, alias : lahir.  Weton dengan demiki6 an menunjuk kepada momentum waktu "hari lahir (dinten jati)".

Dipercayai bahwa penentuan tanggal dengan berperhatian pada weton dapat memberikan hasil dan arti yang baik. Dalam lingkungang keluarga saya dan para tetangga lain, yang diperingati berkaitan dengan kelahiran adalah "wetonan", yang berarti setiap "selapan dino". Dengan demikian dalam setahun ada sekitar 9 hingga 10 kali wetonan. Perihal ini berbeda dengan ulang  tabun, yang hanya diperingati sekali di dalam setahun -- sesuai sebutanya "ulang tahun". Adapun etonan adapah "ulang selapan", manakala tiba "dino wetonan" atau hahaha Jawa krami-nya "dinten wedalan".

B. Selamatan Jangkikikan pada Momentum Wetonan
1. Maksud dan Pengharapan Ritus Wetonan

Dalam tradisi Jawa, konon pada momentum "wetonan" seseorang terdapatlah kebiasaan  keluarga bersamgkutan untuk selenggarakan  "selamatan (slametan)". Sebutan "slametan" merupakan kata jadian, yang berkata dasar "slamet (selamat) ". Disebut demikian, karena ritus ini mengandung pengharapan agar yang diselamati berada dalam situasi dan kondisi sejahtera, tenteram dan bebas dari halangan atau gangguan makhluk yang tidak tampak maupun makhluk yang tampak. Upacara yang hingga kini masih mentradisi di lingkungan warga etnik Jawa ini  merupakan peringatan kelahirnan seseorang dengan maksud untuk mendoakan agar yang bersangkutan dapat terhindar dari ragam bahaya, panjang umur, dan memperoleh  keberkahan.

Slametan Wetonan dilakukan hari lahir, yakni 35 hari (5 X 7 hari) sekali -- menurut Kalender Jawa, yang acap disebut juga dengan "saben selapan dino". Inti maksud penyeleggaraan ritus wetonan adalah memohon keselamatan (nyuwun slamet) dengan bermeditasi, berdoa kepada Illahi lewat meditasi heningkan cipta. Terkadang disertai dengan perayaan, meski kecil-kecilan dengan mengundang hadir para tetangga (tonggo teparo), handai taulan, dan sanak saudara luas (exrended family). Apa yant dijamukan (pasugatan) terhadap para undangan cukup bersahaja. Ritus wetonan tak luput dari doa serta pengharapan agar memperoleh kelancaran hidup, kesehatan, rejeki, dan bahagia bagi seseorang di hari wetonnya.

Pengharapan dalam ritus wetonan tersirat di dalam doa yang dipanjatkan:
      “Niki sampeyan sekseni nggeh, asale
       pasang jenang pethak jenang abrit niki
       ngleresi tone..... diweruhi mbok’e ibu
       bumi bapa’e kuasa, asale pasang jenang
       pethak jenang abrit lan sedoyo buceng
       niki dongakne sageto angen-angen asale
      sekolah anak ...... niki pinter nggeh, mugi-
      mugi sedoyo buceng niki saget jejeg
      mantep bakale angen-angen si ..... lan
      diparingi seger kewarasan anak kulo . ....
      sing sekolah niki saget disekseni nggeh,
      dongane kabul slamet”.

Semua orang yang menghafiri rtys slametan Wetonan bertyindajk sebagai "saksi" bahwa pembuatan jenang putih dan jenang merah ini itu untuk memperingati hari kelahiran yang diselamati. Semua penganan yang disajikan, seprti tumpeng, bothok pelas dan jenang itu merupakan simbol pengharapan agar anak yang disrlanati pintar bersekolah, mempunyai pendirian kuat, dan senantiasa memperoleh kesehatan. Bagian akhir doa menuat suatu pengharapan semoga doa ang dipanjatkan itu terkabulkan. Ketika doa dipanjatkan, yang hadir dalam upacara, yang bertindak sebagai saksi menjawab tiap bagian doa dengan kata "nggeh (ya)".

Pada masyarakat Jawa tradisional terdapat keyakinan bahwa wetonan adalah waktu (titi wanci) baik bagi seseorang untuk menemui saudaranya yang berjumlah sembilan, yang terlahir dari rahim seorang ibu. Kesembilan itu adalah : (a) ke-1 hingga ke-4 menghadap ke arah kiblat (kibat papat), (b) ke-5 dan ke-6 adalah saudara tua (sedulur tuwo) dan banyu kawah putih (kakang kawah), (c) ke-7 adalah ari-ari sebagai adik (adi ari-ari), (d) ke-8 yang berupa raga, dan (e) ke-9 berup Jiwa. Pada daerah-daerah tertentu, ritus Wetonan juga diistilahi dengan "rasulan". Rirus Wetonan tak hanya betisinpanjatan doa permohonan untik mendapat keselamatan dan kelancaran bagi kehidupan mendatang, namun juga ekspresi syukur atas hari kelahiran yang diberikan oleh Illahi.

2. Uborampe pads Slametan Wetonan

Sajian makanan (pasugatan) pada upacara Wetonan diantaranya adalah (a) tumpeng, (b) pisang, (c) ayam ingkung, (d) gudangan yang terbuat dari sayuran, (e( pelas, dan (f) jenang abang dan putih untuk Sang Pengasuh Jiwa dan Raga (Sing Momong jiwo-rogo). Factor pendorong "internal" untuk penyelenggaraan slamatan wetonan adalah sarana pelestarian  adat istiadat Jawa. Adapun yang merupakan faktor eksternal adalah sebagai sarana untuk bersedekah. Selain itu untuk memohon agar terhindar hal-hal buruk, atau serupa "benteng dari" terhadap kemungkinan terkena ragam kejadian buruk ataa semacam "tolak balak". Manakala tiba "dino wetonan (hari kelahiran), dipercayai tiba waktu nahas (kondisi kritis), sehingga yang besangkutan dilarang untuk bepergian stau kerjakan suatu yang beresiko tinggi. Kondisi kritis itu perlu untuk diperkuat (revitalisasi) dengan selenggarakan slametan  agar selamat manakala berada di saat kritis agar mendapat kemudahan dalam meniti hidup, keselamatan dan keberkahan.

Unsur tujuh dalam "dinten pitu" pada upacara Wetonan tergambar pada tujuh jenis bubur yang disajikan, yaitu : bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, bubur putih silang merah, bubur putih tumpang merah, bubur merah tumpang putih, dan baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran gula merah dan parutan kelapa secukupnya). Selain itu ada juga sayuran tujuh rupa, yang terdiri atas : kacang panjang, kangkung, kubis, kecambah/toge yang panjang, wortel, daun kenikir, dan bayam. .Tergambar lah bahwa bubur adalah uborampe penting pada Slametan Wetonan. Apabila emmpunya hajat tak memingkinkan untuk sajikan bubur tunih jenis, maka cukup satu jenis saja, yaitu bubur metal (jenang abang). Oleh karena itu, srlamatan Wetonan acap disebut "slsmetan jenang abang" atau "dijenangabangi'. Secara simbolik, jenang abangitu menggambarkan darah yang tujuh keluat ketika kelahiran bayi.

Sajian penganan penting lainnya adalah apa yang disebut dengan "jajan pasar", sehingga muncul sebutan "slametan jajan pasar", yang terdiri atas (a) wajik -- berarti berani bertindak baik/benar (wani tumindak becik), (b) pisang hijau (gedhang ijo) , (c) sukun -- berarti hidup rukun, (d) nanas -- berart jangan sembarang memakan sesuatu, tdak bertindak sewenang- wenang (ojo nggragas), (e) dondong -- bararti jangan kebesaran atau kebanyakan bicara  (ono gede omong), (f) jambu -- berarti jangan membicarakan suatu keburukan (ojo ngudal barang sing wis mambu), (g) jeruk -- berarti luar-dalam harus baik/sesuai (jaba jero kudu mathuk). Selain itu dipersembahkan bunga (kembang) setaman, yang terdiri : (a) bunga mawar -- berarti selain tawar dari nafsu yang negatif), (b) bunga melati -- berart selalu ingat  dan waspada, (c) bunga kanthil -- yang berarti supaya hati senantiasa terikat oleh tali rasa dengan leluhur yang menurunkannya, kepada orang tua dengan harapan agar anak selalu berbakti kepadanya, dan (d) bunga kenanga. Terkait dengan persrmbahan bunga, secara umum, terdapat bunga tiga warna atau lima warna.

3. Sebutan "Jamgkikik" bagi Ritus Wetonan

Sebutan "jangkikikan" berkata dasar "kikik", yang secara harafiah berarti : kecil. Tertawa "celikikan" menunjuk kepada tertawa kecil.
Unsur sebutan "kikik" dalan konteks tertawa ini afalah tiruan bunyi "kik, kik, kik....." seperti orang tertawa dengaan tenggorok tertekan.
Begitu juga kata "kikik" pada sebutan "jeruk kikik", berkenaan dengan buah yamg dinggap semacam "jeruk" -- padahal bukan jeruk yang sesungguhnya. Ukuran bush jeruk kilik hanya kecil belaka. Sebutan lain terhadapnya adalah "jeruk kikit atau kingkit", yang adalah kerabat dari jeruk  (genus  Citrus), namun bukanlah jeruk yang sebenarnya. Pohon jeruk kingkit berupa semak ataupun perdu, dengan buah  berwarna merah, tipe hesperidium, dimater buahnya hingga 1,5 cm. Dengan demikian, jeruk kilik terbilang sebagai jeruk yang kecil. Pustaka "Serat Contini" mentataksn bahwa jeruk kikit digunakan oleh putri keraton untuk merawat kuku.

Unsur sebutan "kikik" juga kedapatan pada jenis anjing, yang dinsmai "asu kikik". Name lain untuk anjing jenis initiative adslah "asu ajag (Cuon alpinus, atau disebut juga 'Dhole', Asiatic Wild Dog, India Wild Dog, atsu Red Dog) yang merupakan anjing hutan. Secara anatomi dari asu kikik tidak terbilang besar, karenanya panjang tubuh hanya sekitar 90 cm, tinggi sekitar 50 cm, berat 12-20 kg, dan panjang ever sekitar 40-45 cm. Warna bulu coklat kemerahan, kecuali di bagian bawah dagu, leher hingga ujung perut yang berwarna putih dan ekornya yang berwarna kehitaman. Ajag biasanya hidup berkelompok yang terdiri atas 5-12 ekor, bahkan hingga mencapai 30 ekor. Namun pada situasi tertentu bisa hidup soliter (menyendiri). Dalam bahasa Sanskreta kata "kikik" berarti : (1) ketiak baju, atau (2) jenis anjing. Ada pula suatu keris yang diber sebutan "Keris Nogo Kikik",yang berukuran kecil berluk tiga bergambar naga. Keris ini masuk dalam kelimpok "cundrik", yaitu keris berukuran kecil yang lazimnya digunakan oleh para wanita.

Bila kata "kikik" berarti : kecil, maka slamatan jangkikikan adalah selamatan yang berkatan dengan anak kecil, atau disebut "slametane bocah cilik". Ada suatu syair lagu yang konon dintanyikan manakala Slameten Jangkikikan dilakukan, yaitu :
           Jangkikik
           Jangkikik
           Slametane bocah cilik.
Slametan Jamgkikik dilaksanakan pada hari weton seorang anak kecil (bocah cilik), yang berupa "Slametan Jajan Pasar". Teman, para tetangga droatvdan saudara diundang hadir. Atau bisa juga hanya dilaksanakan dengan membuat "jenang abang" untuk diantarkan keep para tetangga. Jika cukup dana, dapat juga sajian srlamatan berupa "buceng kuwat", yang terkadang dibentuk menjadi tumpemg kecil dari bahan nasi ketan dan enten-enten kelapa-gula merah digongso. Selamat ini kini telah jarang dilakukan di lingkungan warga Jawa itu sendiri.

C. Ritus Wetonan, Dulu dan Kini

Ritus Wetonan kini mengalami pergeseran, pendangkalan, bahkan nyaris punah. Pasta ulang tahun lebih banyak dilakukan daripada Ritus Wetonan. Ritus Wetonan yang berakar pada tradisi etnik, yaitu ritus "lingkaran hidup manusia (life circle ritual)",yaitu : :kelahiran, iniasiasi, petkawinan, dan kematian. Dengan perkataan lain, Ritus Wetonan itu menyejarah dalam budaya Jawa. Namun sekarang, Ritus Wetonan kini tak lagi dominati, dan terganti dengsn tradisi Eropa yang bersligan "happy birthday". Demikian pula, makna-makna yang tetkadung pada simbol-simbol Ritus Wetonan mengalami pendangkalan bila dibandingkan dengam makn simbolik yang berada dalam pasta ulang tahun, yang lebih mrnekankan pada kesukacitaan, kemriahan, dan bahksn kemewahan.

Menurut mastarakat Jawa, seseorang yang  diselameti weton nya secara periodik akan lebih terkendali kehidupannya, lebih berhati- hati dal s m bertindak, dan tehindarkan dari kesialan.. Setiap orang mempunyai wetonnya mading-masing. Dengan menyelenggarakan  srlamatan Wetonan, melaksanakan slametan wetonan, maka secara periodik dalam setisp 35 hari saksi dimohonkan kepada Illahi untuk mendapatkan keselamatan dan ketentraman (slamet, ayem lan tentrem). Pada selametan   terkandung nilai kebersamaan, ketetanggaan, dan kerukunan, stau tradisi berbagi terhadap sesama.

Demikianlah tulisan ringkas mengenai salah satu ritus selamatan, khusus bagu selamatan anak ketikan hati kelahiran (weton)nya  Ritus ini disebut "Slametan Wetonan", yang di sub- kultur Mantaraman disebut dengan Slametan Jangkikikan". Semoga tulisan ini memberikan kefaedahan, dan dapat menjadi picu umtuk kembali menyeleggarakan " Tradisi Wetonan".
Nuwun.

Sangkaling, 28 Juli 2020
Griyajar CITRALEKHA
[Sumber: akun fb dwi cahyono]

Subscribe to receive free email updates: