Pelopor Jurnalisme Warga (Malang Raya, Jawa Timur)

Polling Pilkada MLG_KAB 2020 [One Phone One Vote]

KONTRIBUSI MEDIKAL "SI MBOK JAMU" : Pemeliharaan Kesehatan Tubuh Ala Jawa

ilustrasi : ig ✓annisabanyuwangi
Oleh : M. Dwi Cahyono
(Sejarahwan Nasional)

      Mbok jamu mbok jamu
      Lenggang luwes dan kemayu
      Mbok jamu mbok jamu
      Ada apa di bakulmu

      Minum jamu tiap hari
      Hilang sakit hilang nyeri
      Minum jamu tiap hari
      Badan sehat dan berseri

      Jamunya jeng..., jamu beras kencur
      Biar badan gemuk subur
      Jamunya jeng..., jamu kunir asem
      Biar badan sehat ayem

      Jamunya mas..., jamu daun kates
      Biar tidur nyenyak pules
      Jamunya cabe lempuyang
      Buat kepala yang puyeng

(Lirik lagu anak "Mbok Jamu",
Pencipta lagu :  Magda R.)

A. Profesi " Mbok Jamu" yang Terpinggirkan
1. Dikotomi Medis Moderen dan Tradisional

Moderen dan tradisional acap didikotomikan satu sama lain. Yang moderen sering disalahposisikan sebagai lebih beradab, lebih maju, lebih canggih, ataupun ebih mujarab ketimbang yang tradisional. Demikian pula, profesi pada bidang kerja moderen dinilai lebih terhormat, lebih membanggakan, dan karenanya mendapat penghargaan lebih daripada profesi pada bidang kerja yang tradisonal. Perihal demikian, tak terkecuali diberlakukan pada dunia medikal. Tenaga medis serta pembuat dan penjual pelengkap medis tradisional terpinggir oleh tenaga medis serta pembuat dan penjual pelengkap medis moderen. Yang moderen adalah yang "up to date (baharu)", dan sebaliknya yang tradisional adalah "out of date (ketinggalan zaman, kuno)".

Pembuat dan penjual obat-obatan tradisional yang dinamai "tabib" dan "bakul jamu" dinilai sebagai profesi yang tak seterhormat dan tidak dipandang penting apabila dibanding dengan tenaga apoteker di dalam kancah modern. Hal yang serupa terjadi pada tenaga medis tradisional seperti tabib, dukun, paraji, ataupun "wong pinter" yang kini terpinggirkan posisi peran darinya bila dibanding tenaga medis moderen seperti halnya dokter, perawat, bidan, dsb. Padahal, konon mereka adalah orang-orang yang terhormat, dihargai, dibutuhkan perannya lantaran keahlian medikalnya baik dalam menyembuhkan penyakit, memelihara kesehatan, ataupun menolong orang yang tengah melakukan reproduksi. Profesi dari para pelaku medis tradisional kini terpinggirkan oleh mereka yang mengatasnamakan "modernitas".

2. Ragam Sebutan Kuno Pelaku Medikal

Sebutan "tabib" ditujukan kapada seseorang yang pekerjaannya mengobati sakit secara tradisional, seperti dukun, dokter (KBBI, 2002: 1116). Pada bahasa Cina sebutannya adalah "sinse". Dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan tifak didapati istilah "tabib", karena istilah ini berasal dari bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab, dokter perempuan diistilahkan dengan "tabib nissayiyun", adapun dokter laki-laki didananai "thabib dzakar". Dalam prasasti  Balawi (1305 Masehi), sebutan untuk "tabib" adalah "walyan", adapun sebutan bagi dukun wanita adalah "kdi", dan tukang obat disebut "tuha nambi". Diantara para tabib itu, terdapat tabib desa, yang menurut prasati Bendosari (1360 Masehi) dinamai " janggan". Sebutan "janggan" juga didapati di dalam susastra gancaran Pararaton, berkenaan dengan guru pada Desa Sagenggeng (kini Desa "Segenggeng"  Kecamatan Pakisaji di Kabupaten Malang), padamana Ken Angrok dan Tita -- putra dari Sahaja, kepala desa di Sagenggeng -- belajar tentang berbagai hal (Padmapuspita, 1966). Bila menilik sebutannya, yaitu  guru "Janggan", salah satu ilmu yang diajarkan pada kedua murid (sisya)- nya itu adalah ilmu pengobatan. 

Ada sebutan lainnya untuk orang yang pekerjaan khusus darinya dalam mengobati penyakit, yaitu "wil tamba", sebagaimana disebut dalam prasasti Sidoteka (1323 Masehi)  Secara harafiah kata Jawa Kuna dan Tengahan "tamba" menunjuk pada : obat. Kata jadiannya "anambani" maupun "tumambani", yang berarti : menyembuhkan, atau mengobati (Zoetmulder, 1995:1190). Pada bahasa Jawa baru ada mutiara kata "tamba teka lara lunga (obat datang penyakit pergi)". Obat yang diproduksi oleh tukang obat (tuha nambi) ada kalanya dijual, baik oleh dirinya sendiri atau orang lain, yakni penjual jamu, yang dinamai "acaraki", seperti diberitakan dalam prasasti dari era Majapahit, yaitu prasasti Madhawapura. Profesi inilah yang di dalam bahasa Jawa Baru dinamai "bakul jamu" dan pada bahasa Indonesia disebut "tukang obat".

Penjualan jamu dapat dilakukan menetap di suatu tempat, yakni di semacam kios jamu, nmun bisa juga dijual berkeliling (ider jamu). Penjualnya yang acap disebut 'bakul jamu". Mereka bisa berjenis kelamin pria, walaupun umumnya lebih banyak yang berjenis kelamin wanita, yang karenanya disebut "mbok jamu". Unsur sebutan "mbok" itu memberi petunjuk bahwa penjualnya telah menikah, cukup usia, atau sebaya dengan ibu-ibu. Memang, ada pula penjual jamu yang berusia cukup muda dan belum menikah, sehingfa disebut "mbak jamu", namun jumlahnya tak sebanyak mbok jamu. Mbok atau mbak jamu yang berjualan secara berkeliling itu berjalan kaki menyusuri jalan, atau keluar-masuk opung, dari rumah ke rumah. Kini ada pula yang jualan dengan memakai kendaraan sepeda kayuh (sepedah pancal, pit).

Apabila berjualan keliling dengan jalan kaki (mlaku), umumnya cairan jamu atau bubuk jamu seduhan ditempatkan di dalam wadah jamu yang berupa botol (gendul) - sehingga terdapat sebutan "jamu gendul" -- atau di wadah lainnya. Sejumlah botol atau wadah jamu itu ditempatkan di dalam bakul (rinjing), dibawa betkeliling dengan jalan digendong, sehingga muncul sebutan "jamu gendong". Selain bawa rinjing, ada kalanya juga membawa tas jinjing yang berisi gelas atau bathok (tempurung kelapa) sebagai wadah tuang jamu, wadah pencucian, kain lap, dsb. Hingga kini di Jawa masih ada kelaziman bahwa busana wanita penjual jamu berupa kain panjang bawahan (jarik, sewek atau sinjang) dan kebaya untuk busana atas. Rambut panjangnya di gelung, dan kadang menangungi kepalanya dengan caping (capil) dan beralas kaki sandal jepit. Suatu penampilan yang "nJawani", menjadi tanda khusus akan performance-nya.

3. Keterpinggiran Bakul Jamu Keliling

Sesaat pada tempat tertentu si penjual jamu keliling berhenti untuk melayani atau menunggu pembeli, sembari rehat. Tempat keramaian adalah lokasi jual yang dihadikan titik tuju penjualan jamu gendong keliling. Manakala ada perhelatan publik, sejumlah penjual jamu gendong kedapatan hadir, manfaatkan momentum itu buat berjalan. Pasar adalah suatu tempat keramaian yang menjadi ajang jual yang baik, sehingga bakul jamu pun memperhatikan waktu tibanya "hari pasaran" di pasar-pasar desa. Adapun du wilayah perkotaan, yang keramaiannya tidak terikat oleh hari-hari pasaran, maka penjualan jamu dilakukan secara berkeliling atau menempati tempat tertentu yang terbilang moderen yang tiap hari cenderung ramai. Demikianlah jamu gendong tradisional hadir di areal moderen.

Umumnya bakul jamu berkomunikasi ramah dan disertai dengan senyuman, atau acapkali tampil "kemayu" menggoda hati pembelinya. Entah berapa jauh penjual jamu menempuh perjalanan dari hari ke hari. Kendati demikian, tetap bersemangat, ulet, meski penghasilan jualnya tak seberapa banyak. Jamu gendong umumnya kurang kental dan tidak seberapa banyak racikan bahannya, disesuaikan dengan harga jualnya yang terbilang murah. Yang utama, harga murah, cukup enak, dan berkhasiat. Bermacam ramuan dijajakannya untuk memberi pilihan sesuai dengan ragam kebutuhan dan minat pembelinya.

Menililik cara jualnya, berjualan jamu gendong berkeliling adalah bentuk "penjualan aktif", dalam arti penjual proaktif mendatangi atau menyongsong calon pembelinya. Walau demikian, dari waktu ke waktu pada kalangan perkotaan moderen minat warga pada jamu gendong srmakin menurun. Kini banyak pilihan minuman menyehatkan yang dijual bebas. Sekarang banyak genesai muda yang justru memandang jamu warisan budaya leluhur tersebut sebagai barang dagangan "asing", tidak lazim, dan bahkan dirasakan sebagai aneh di era moderen. Itulah beberapa musabab mengapa Mbok Jamu kian terpinggir, dan barang dagangannya dinilai tak relevan lagi engan kehidupan kekinian.
.
B. Khasanah Jamu Tradisional Nusantara
1.Jamu Warisan Budaya Luhur Para Leluhur

Kosa kata "jamu" dalam bahasa Indonesia adalah istilah serapan dari istilah pada bahasa Jawa Baru. Kata kraminya adalah "jampi". Kata "jampi" atau varian sebutannya, yaitu "jampyan", telah terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan yang berarti obat, pengobatan atau penawar (Zoetmulder, 1995 : 410). Istilah "jampi" atau "jampyan (jampi+ an)" antara lain kedapatan dalam pustaka Kakawin Gathotkacasraya (14.10), Bhomakawya (26.1, 48.8, 49.16), Bharatta- yudha (44.15), Sumanasuntaka (7.7, 54.3, 101.1), Lubhdaka (9.2), Subhadrawiwaha (3.2), Abhimanyuwiwaha (11.5, 62.6, 66.1),  serta susastra kidung seperti Harsyawijaya (4.98, 6.47, 19.8), Kidung Sunda (1.26),  Kidung Malat (3.125) dan kidung Ranggalawe (14.10).

Tentulah pada masa lalu terdapat ilmu, buku, atau orang tertentu yang berkenaan dengan pembuatan, penggunaan dan penjualan obat. Ilmu pengobatan kuno antara lain terekam di sejumlah pustaka yang menggunakan unsur sebutan "usadha". Misalnya, Pustaka "Usadha Jawa, Usadha Bali", dsb. Istilah "usadha" atau varian penulisannya "osadha dan husadha" mengandung arti : obat (Zoetmulder, 1995 : 1350). Kata jadian "pangusadhan" berarti : tempat orang meminta atau mencari obat, atau pengetahuan mengenai obat-obatan. Hinggi kini  istilah "usada" (perubahan penulisan untuk "usadha, osadha, husadha") masih lazim digunakan sebagai unsur nama bagi nama apotik, rumah sakit, tempat pengobatan, dsb. Kitab lain yang membicarakan tmengenai obat-obatan adalah "caraka" -- sebagai cabang Yayurweda Hitam.

Selain itu pada masa lalu terdapat orang tertentu yang mempunyai kepiawiaan dalam membuat atau meracik obat. Mereka disebut "caraka", yakni orang bijaksana penyusun buku mengenai obat-obatan. Serupa itu ada sebutan "caraki", yang menjuk pada : seseorang yang menyediakan atau menjual ramuan tumbuh-tumbuhan (obat-obatan), atau orang yang ahli obat (Zoetmulder, 1995: 162). Istilah *caraka" telah kedapatan semenjak abad IX dan masa-masa sesudahnya, sebagaimana disebut dalam kakawin Ramayana (5.5, 7.113); Bhomakawya (73.6), Arjunawijaya (23.2, 63.9, 67.7), Sutasoma (91 6), Korawasrama (142, 178) dan Tantri Demung (2.34). Adapun kata "caraki dan acaraki" didapat dalam kitab Korawasrana (138).. Ada kemungkinan, kata Jawa Baru "craken" menunjuk pula pada pengarang tulisan mengenai bat-obatan

Tanaman obat dan obat-obatan herbal (antara lain disebut "jamu"), pembuat obat, penjual obat, tenaga medis pengguna obat, maupun ilmu obat-obatan konon merupakan orang, barang, dan ilmu mulia alias luhur. Sebagai obat kategori "obat tradisional", jamu tidak selalu dapat menyembuhkan penyakit dengan serta- merta, amat cepat atau instan. Lebih sering jamu mustilah dikonsumsi teratur sampai sekian lama, hingga secara bersngsur-angsur rasa sakitnya hilang, dan kuman, bateri, virus, dsb. dapat disirnakan (paling tidak dilemahkan) oleh jamuan tradisional. Kendati "Jamu Jowo (sebutan untuk obat-obatan tradisional di Jawa)" acapksli hanya diposisikan sebagai "obat alternatif", dengan obat utama berupa abat- obatan moderen), namun  jamu tidak pernah ditinggalkan sama sekali oleh para penggunanya. Bahkan, ketika merasa "mentok" oleh cara medis dan obat-obatan modern, barulah orang masa kini beralih ke pengobatan tradisional, yang boleh jadi lebih memiliki kemujaraban..

Meski menyembuhksn orang sakit suatu tindakan mulia, namun pekerjaan yangbmulia ini bukan tanpa resiko. Kegagalan dalam melakukan pengobatan diancam hukuman cukup berat. Di dalam "Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutaramanawa atau Agama" (Jonker, 1885; Mulyana, 1979),  diantara 275 pasal di dalamnya terdapat pasal-pasal yang berhubungan dengan sangsi terhadap kegagapan pemberian pengobatan yang berakibat kematian hewan ataupun manusia. Ditetapkan bahwa apabila gagal mengobati binatang, dan binantangnya mati, maka didenda empat kali tiga atak. Jika manusia yang diobati tidak sembuh, malahan mati, maka didenda selaksa. Adapun apabila yang diobati itu adalah seorang brahmana, dan kemudian mati, maka diganjar hukuman mati pula oleh raja yang berkuasa. Perihal ini ingatkan kita kepada apa yang kini disebut dengan "malapraktik".

C  Mafaat Jamu bagi Penangkalan Virus

Ada "bias isu global" Covid-19 di Indonesia, yaitu banyak orang berburu empon-empon. Jahe merah, sere, temu lawak, dsb  sontak dicari, diborong, dan ujung-ujungnya harga pun melonjak. Informasi via beragam media sosial mengenai khasiat empon- empon sebagai tananan herbal yang mampu untuk meningkatkan "daya tahan tubuh" menghadapi virus bukan hanya membuat bakul plapah di pasar-pasar kebajiran pembeli, namun bakul jamu pun yang pada hari-hari sebelum merebaknya Virus Corona kurang digubris orang, lantaran itu dagsngan jamu gendongnya menjadi laris-manis. Tak sedikit orang melirik kembali pada "Jamu Jowo". Mereka seakan tersadar bahwa jamu tidak sekedar minuman yang menyegarkan, namun sekaligus membugarkan dan menyehatkan tubuh , serta mampu pula sirnakan penyakit. Jamu juga dapat dijadikan wanaha untuk kepentingan "ngadi sariro".

Saya jadi teringat lagu jadul berbahasa Jawa judulnya "E Jamune" , yang syair lagunya sbb.
      Pr : E jamu jamune badan sehat,
             Awak kuat yen di ombe
      Lk : Mbakyu-mbakyu sampeyan mriki kulo
             tumbasi
      Pr : Monggo-monggo sing pait opo sing legi
      Lk : Legi wae tambah eseme bakule
      Pr : Jo sembrono mas dadi gawe,
             Biso bengkok mas wekasane

      Pr : E jamu-jamune cabe puyang,
            awak mriang biso ilang
     Lk : Mbakyu-mabkyu tambah malih cabene
            puyang yu
     Pr : Monggo-monggo janji ora ndadak
            nganyang
     Lk : Nganyang wae wong pengin nyanding
            bakule
     Pr : Ojo ngono mas ra prayogo,
            ora jodho mas dadi loro

reff :
     Pr : E jamu-jamune jamu kates,
            Awak ethes sak lawase
     Lk : Mbakyu-mbakyu tambah malih jamune
            kates
    Pr : Jamu kates wong urip wajib sing bares
     Lk : Bares wae wong naksir karo bakule
     Pr : Ojo ngono mas ra ndrawasi,
            yen mengkono mas didukani

    Pr : E jamu-jamune beras kencur,
           Awak kujur dadi mujur
    Lk : Mbakyu-mbakyu tambah malih berase
           kencur yu
    Pr : Monggo-monggo manise koyo wong
           anggur
    Lk : Yen kanggoku sing manis kuwi sliramu
    Pr : Opo tenan mas ngendikamu,
           yen guyonan mas ojo seru seru
(Syair lagu "E Jamune", dinyanyikan Waldjinah)

Meski syair lagu "E Jamune" itu bernuansa guyonan, namun tersirat pesan akan kasiat jamu. Misalnya, minum jamu bisa membuat badan sehat, tubuh kuat. Jamu cabe punyang dapat menghilangkan sakit meriang. Jamu daun kates membuat badan menjadi ethes. Adapun jamu beras kencurdapat membuat badan bengkok menjadi lurus. Demikian pula pada lagu anak-anak "Mbok Jamu" di atas dikemukakan bahwa minum jamu tiap hari bisa hilangkan sakit nyeri dan membuat badan sehat beseri. Jamu beras kencur dapat membuat badan menjadi gemuk subur. Jamu kunir asem berkaisist dapat membuat sehat badan dan perasaan ayem. Adapun Jamu daun kates dapat menjadikan  pulas tidur, dan jamu lempunyang untuk digunakan obat kepala puyeng. Tergambar bahwa tanaman  toga tertentu berkasiat untuk menyemebutkan penyakit tertentu, atau paling-tidak dapat menyehatkan dan membugarkan badan. Sari berikut juga memberi gambaran demikian.
       Pancen nyata kasiate Jamu Jawa
       Godhong kates bisa gawe ethes
       Cabe puyang awak mriyang bisa ilang.
       Temu ireng tamba lara weteng
       Sirah puyeng ati susah dadi seneng
       Adas pula waras bisa gawe bregas
       Jamu Jawa pranyata dadi usada..

Tidak semua jamu enak rasanya. Ada sejumlah jamu yang kurang enak tasanya, malahan pahit rasa, sehingga muncul sebutan "jamu paitan", seperti yang tergambar pada kalimat "paite koyo butrowali". Meskipun pahit rasa, namun jamu yang pahit itu mempunyai kasiat tinggi. Oleh karena berasa pahit, maka bisa difahami bila hanya sedikit orang yang mau meminumnya. Anak-anak ogah meminum jamu paitan, yang padahal kasiatnya bisa meningkatkan nafsu makan dan mengatasi cacingan. Oleh karena itu, untuk memasukkan jamu ke dalam mulut anak-anak dan agar tertelan hingga ke dalam perut, maka anak "dipaksa" dengan jalan "dicekoki", dan jamunya dinamai dengan "Jamu Cekok". Biasanya, setelah meminum jamu paitan, lantas "dibonusi" dengan jamu yang enak rasanya -- seperti jamu kunir-asem atau sinom. Ada pula yang namanya mengerikan, seperti "macan kerah", yang walau demikian kasiatnya luar biasa -- khususnya  bagi wanita, antara lain : meyuburkan kandungan, mengatasi keputihan, menghilangkan bau badan, menghangatkan tubuh, serta dapat melancarkan siklus haid.

Sebagai daerah yang beriklim tropis, Nusantara mempunyai keanekaragaman hayati, antara lain banyak ditumbuhi tanaman yang masuk dalam kategori "tanaman toga (disebut juga "plapah, rempah-rempah, empon-empon, tanaman bumbu, dsb.)". Tumbuhan  jenis ini ada yang tumbuh liar, tanpa dibudidayakan. Sebaliknya, banyak pula yang kini telah dijadikan sebagai tanaman budidaya, Hasilnya tidak hanya untuk didomestikasi bagi keperluan sendiri, namun juga untuk perdagangkan. Ada suatu tempat yang menjadi penghasil kuat tanaman toga tertentu. Misalnya, daerah-daerah di wilayah Indonesia Timur adalah penghasil rempah- rempah, yang semenjak masa silam menjadi ajang pencarian oleh banyak bangsa di dunia. Ada juga daerah tertentu -- desa misalnya, yang toponiminya mendasarkan kepada tanaman toga tertentu yang tumbuh dominan di desa itu, seperti dinamai "Desa Ngadas" lantaran banyak terdapat tanaman obat berupa rumput adas. Demikian kayanya khasanah tanaman toga di Indonesia, hingga sejauh ini belum diketahui pasti berapa jumlah total ragam tanaman obat yang tersebar di antero negeri ini. Musti pula dicermati, karena bisa jadi ada istilah etnis berbeda untuk tanaman obat yang sama. Begitu pula perihal khasiatnya masing-masing, sejauh belum tersedia data bese yang komprehensif.

Demikianlah, cukuplah alasan untuk menyatakan bahwa Nusantara adalah "gudangnya toga'. Begitu pula, cukup bukti yang menerangkan bahwa jamu telah meniti perjalanan panjang di dalam sejarah Nusantara. Oleh karena itu, sebenarnya bukan saja Cina dan Korea yang merupakan "Negeri Jamu", namun Indonesia pun demikian adanya. Semua itu memberi petunjuk bahwasanya orang Nusantara merupakan "manusia jamu", yakni para pembuat, penikmat, dan sekaligus penanfaat kadisiat jamu. Nuwun.

Sangkaling, 2i Maret 2020
Griya Ajar CITRALEKHA
(Sumber tulisan: M Dwi Cahyono Fb)

Subscribe to receive free email updates: