saluran publik - not commercial media

BLITAR, BUNG KARNO DAN CITY OF NATIONALISM

Foto: Gandung RN Huda
Oleh : Gandung Rafiul Nurul Huda*

Sekitar penghujung tahun 2010 saya berdiskusi dengan Prof. DR. Imam Suprayogo yang waktu itu masih menjadi Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim kota Malang, tentang rencana beliau memberikan nama Ir. Soekarno dan Ibu Hj. Megawati Seokarnoputri di dua gedung penting di kampus Islam terbesar di kota pendidikan tersebut.

Saya tidak meragukan komitmen Profesor kebanggaan saya ini, sebab beliau adalah cendekiawan muslim nasionalis yang sering diundang ceramah di luar negeri, berwawasan inklusif dan pengagum Bung Karno. Pada suatu kesempatan khutbah Idul Fitri di Masjid Al-Falah kota Malang pernah Profesor Imam Suprayogo mengisahkan kontribusi Bung Karno dalam dunia Islam seperti keberadaan Masjid Soekarno di Rusia. Nama Bung Karno diabadikan dalam ruang lobi utama Gedung Rektorat UIN Malang yang pada tanggal 19 Oktober 2011 diresmikan Ibu Megawati Soekarnoputri.

Sementara gedung besar yang digunakan sebagai ruang kuliah bagi Ilmu Tarbiyah, Ekonomi, Psikologi dan Syariah diberi nama Gedung Megawati. Sebagai tokoh pendidikan, Profesor mengakui kontribusi Presiden RI ke 5, Ibu Megawati terhadap reformasi, pengembangan dunia pendidikan tinggi terutama pendidikan tinggi berbasis Islam, dimana secara detail dapat dijelaskan oleh beliau kepada masyarakat Malang dan insan pendidikan secara luas.

Seringnya belajar dan berdiskusi dengan Profesor Imam Suprayogo menyadarkan kami kaum muda bahwa sebagai cendekiawan nasionalis beliau sudah memberi contoh bagaimana membumikan semangat dan ajaran Bung Karno bahkan di tempat dan suasana yang jarang dilakukan umumnya Guru Besar. Mahasiswa asing semakin banyak yang studi Islam di UIN Malang dan diperkenalkan oleh beliau tentang sosok Bung Karno. Dari sinilah saya muncul inspirasi untuk memperkuat Soekarnoisme di tempat yang seharusnya menjadi ikon nasionalisme dunia, yaitu kota Blitar.
----------------------
Kota Blitar dikenal sebagai salah satu “laboratorium” sejarah nasional. Berbagai peristiwa sejarah pernah terjadi di kota ini bahkan sejak fase awal berdirinya Majapahit abad 13. Blitar juga menjadi bagian penting dalam Revolusi kemerdekaan RI, hingga tempat terakhir di kebumikannya Proklamator Bung Karno.

Di antara sekian banyak potensi yang dimiliki Bumi Patria, potensi historislah yang paling menonjol. Di era modern ini, potensi sejarah harus dikembangkan lebih luas tidak hanya sebatas wisata edukasi sejarah, namun harus diarahkan kota Blitar sebagai Kota Pusat Nasionalisme yang berskala internasional.

Bung Karno pernah menjadi inspirator kebangkitan nasionalisme negara-negara di Asia – Afrika dan bahkan pengaruhnya hinga ke Amerika, Eropa, Timur Tengah hingga Rusia. Kota Blitar perlu menyangga bobot sejarah ini dengan konsep dan infrastruktur yang layak dan menarik perhatian dunia. Kreasi modern yang dikombinasi dengan sejarah akan bisa membawa kota Blitar menjadi etalase sejarah tentang nasionalisme di kancah global. Beberapa gagasan yang bisa didiskusikan antara lain:
Pertama, Kota Blitar membangun Museum dan Galeri Nasionalisme yang representatif yang berfungsi sebagai : pusat riset dan kajian sejarah nasionalisme internasional, museum arkeologi, diaroma sejarah perjuangan Bung Karno di dalam maupun di luar negeri. Blitar memang bukan kota pendidikan sebagaimana halnya kota Malang misalnya, namun Blitar bisa memfasilitasi berbagai riset dan kajian yang secara spesifik tentang nasionalisme, Pancasila dan pluralisme. Para sarjana-sarjana luar negeri diundang, difasilitasi untuk mempresentasikan sejarah nasionalisme negerinya masing-masing di kota Blitar.
Kedua, revitalisasi kawasan yang memperkuat citra sebagai Bumi Proklamator, dengan melibatkan pakar tata kota dan sejarahwan. Pemda dapat mengajak kerjasama dengan kota-kota di dunia yang pernah merasakan spirit nasionalisme Bung Karno. Kota-kota tersebut secara kongkrit mengabadikan nama Bung Karno dalam berbagai bentuk seperti Jalan Ahmed Soekarno di daerah Kit Kat Agouza Mesir, Soekarno Square Khyber Bazar Peshawar dan Lahore, Rue Soukarno di Maroko, Masjid Biru Soekarno di kota besar St. Petersburg Rusia, Pohon Soekarno di Arab Saudi, Perangko Soekarno di Kuba dan Filipina dan masih banyak lagi. Diplomasi Bung Karno di Eropa dan Amerika juga menjadi catatan sejarah dunia. Ketika Uzbekistan masih di bawah kekuasaan Uni Sovyet Bung Karno dikenang sebagai tokoh yang berperan dalam menemukan dan merawat makam Imam Bukhari, ahli Hadis yang termasyhur yang dijuluki Amirul Mukminin fil Hadits.

Pemerintah Daerah dan ahli-ahli dari kota-kota yang disebutkan di atas bisa digandeng sebagai mitra sejarah untuk mengisi ruang diskusi dan kreatifitas sejarah baik di museum maupun di ruang – ruang publik kota Blitar, dalam rangka memperkuatnya sebagai kota pusat kajian sejarah nasionalisme berkelas dunia. Dengan memfasilitasi hal di atas maka Blitar akan mendapatkan peluang publikasi internasional dan pengunjung wisata edukasi sejarah di Blitar tidak lagi sebatas berskala domestik.

Mewujudkan Blitar sebagai ikon kota nasionalisme internasional, pusat studi gotong royong, miniator Bhineka Tunggal Ika Nusantara sangat mungkin bisa diwujudkan dengan syarat: kepemimpinan yang memiliki konsep dan kemauan serta dukungan masyarakat kota Blitar. Tahun 2020, rencana besar ini bisa kita mulai.

*Alumnus Univ. Brawijaya Malang, senior GMNI, kelahiran kota Blitar dan sekarang menjadi Ketua Harian Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI).

Subscribe to receive free email updates: