MALANG LABORATORIUM SEJARAH YANG TERLANTAR

Peradaban Malang setidak-tidaknya mengalami tiga periode emas dan menjadi titik penting momentum kebangkitan bagi masyarakat Malang hingga Nusantara. Banyak situs sejarah penting tak terawat, literatur kuno terlantar, arfefak lama dicuri asing, nilai leluhur dan tidak ada usaha pemda untuk mengembalikan ikon kebanggaan tersebut. Maka sangatlah wajar bila Malang tidaklah terlalu di kenal dalam peta sejarah nasional pra Indonesia. Dan tak heran bila kini mayoritas generasi mudanya amat apatis sejarah.


Beberapa intelektual yang tidak teliti mengkaji sejarah pasti beranggapan bahwa lambang kebanggaan negara kita Burung Garuda terinspirasi dari lambang serupa negara Amerika yang pertama kali menggunakannya sebagai lambang resmi pemerintahan. Sebut saja misalnya (alm) Prof.Dr Nurcholis Madjid yang dengan yakin menyatakan bahwa simbol garuda USA telah menginspirasi banyak negara termasuk Indonesia untuk menggunakannya sebagai lambang resmi kenegaraan.

Sejarah Malang membuka tabir dari mana datangnya ikon Garuda ini. Adalah candi Kidal, salahsatu situs sejarah lampau yang mendokumentasikan Garuda sebagai simbol sakral kenegaraan (Singhasari thn 1248). Dalam reilef-relief yang diukir indah di candi yang terletak di Tumpang Malang tersebut, menggambarkan peran Garuda sebagai ikon penjunjung harkat wanita dari perbudakan yang marak pada masa itu, penjaga yang setia, makhluk yang sakti (hanya Batara Wisynu yang bisa mengalahkannya). Garuda adalah ikon kesetiaan pada sosok ibu dan gerakan pembebasan manusia dari perbudakan sehingga tidak heran digambarkan Garuda mendapatkan keistimewaan sebagai tunggangan Bhatara Wisynu yang sejak jaman Tumapel menjadi pujaan mayoritas petani dan rakyat jelata.

Ikon-ikon sejarah Malang yang kaya makna kini kering perhatian. Bahkan ratusan situs sejarah masa lampau yang lenyap, entah di sita Belanda sejak tahun 1767 maupun yang dibawa kabur oleh sejarahwan-sejarahwan Eropa dengan modus 'mengamankan' aset sejarah, hingga saat ini tidak ada yang terlalu peduli. Tidak ada usaha untuk meneliti, mendata apalagi untuk mengembalikannya ke tanah asalnya.

Sebuah patung Syiwa yang menawan, yang diukir dengan teknologi kuno yang halus dan ditempatkan di candi Kidal telah lama berpindah tempat ke museum Leiden Belanda, dan Pemkot Malang tidak tertarik memikirkannya. Ukiran Amoghapasa yang amat indah dari perunggu yang dibuat pada abad 13 masehi sebagai salah satu bukti tingginya peradaban masyarakat Malang telah menjadi koleksi istimewa museum Fur Indische Kunst, Berlin Jerman. Archa kebanggaan lampau yang melegenda, patung Dewi Prajna Paramitha (ken Dedes) semula dikuasai Belanda beruntung bisa dikembalikan ke Indonesia (Museum Nasional) tetapi sangat mungkin bisa diboyong ke Malang meskipun hanya untuk sementara, tapi siapa yang punya inisiatif?

Kitab Pararaton maupun Negarakertagama yang kesohor itu adalah karya agung sejarah yang berbasis Malangan, dimana menjadi salah satu sumber utama sejarah Nusantara yang dirujuk oleh banyak pakar dalam maupun luar negeri. Tetapi di Malang sendiri tak ada replika atau promosi historis untuk generasi mudanya agar memiliki kebanggaan terhadap riwayat leluhurnya yang hebat. Belum lagi sejumlah keris, tombak, perisai, mahkota, perkakas emas, lencana, prasasti dll yang kita masih meraba-raba dimana keberadaannya. Hanya riset yang serius yang bisa menjawabnya.
 ------

Mungkin publik Malang belum sepenuhnya mengetahui bahwa tanah Malang pernah menjadi ibukota keraton Mataram kuno pasca bencana mahapralaya (gempa disertai letusan Merapi) tahun 929 an masehi. Di mana pada masa itu Keraton Mataram (Jateng/Jogja) chaos akibat bencana alam dahsyat, lalu petinggi istana Mataram (Mpu Sindok) membawa pengikutnya langsung menuju negeri bekas Kanjuruhan (Malang), dan mendirikan kerajaan baru Tamwlang, tepatnya di Tembalangan sebelah utara Kali Brantas, Betek Malang. Kekuasaan inilah yang kemudian menjadi cikalbakal kerajaan Medang (Mataram baru) yang dipusatkan di Watu Galuh (Jombang). Hal ini diperkuat oleh isi dari prasasti Turyan yang ditemukan di Turki alias Turen Kidul Malang selatan. Medang lalu melahirkan kerajaan Kahuripan yang mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh maharaja Sri Erlangga yang menjadi pionir irigasi dan rekonstruksi kali Brantas. Keturunannya berjasa mengembangkan Bali dan membentuk dinasti Isyana di Jawa yang melahirkan seorang pesohor Joyoboyo dan ketika anakcucuk terakhirnya (Kertajaya) dikudeta oleh sang Rajasa (Ken Arok).
------

Malang adalah pusat sebuah kekuasaan besar di jaman Dwipantara (Nusantara Lama abad 13), dan merupakan pangkalan utama Majapahit sebelum dipindah ke Trowulan (Mojokerto). Sehingga pelaku utama kekuasaan maritim Majapahit adalah dari Malang klan Rajasa yang berangkat dari rakyat jelata namun mendapatkan legitimasi Trimurti melalui Biara-Biara Syiwa yang merupakan anutan mayoritas di Jawa Timur. Sebagai bekas pangkalan dua kekuasaan raksana maka ada ratusan bahkan ribuan peninggalan sejarah lampau yang dibuat oleh ahli-ahli terbaik di jamannya. Namun, kebanyakan ada yang rusak, hilang, dicuri, dibawa ke luar negeri oleh penjajah asing maupun penjaja lokal. Sejarahwan malang tidak bisa berbuat banyak karena untuk mendata, meriset dan memperjuangkan kembalinya aset sejarah di luar tidak mudah bila tidak didukung oleh pemerintah.

Itulah tantangan bagi generasi muda Malang. Bahwa Malang memiliki banyak aset sejarah dan cinderamata historis yang melegenda. Malang adalah laboratorium sejarah Nasional sejak jaman megalit hingga era kemerdekaan. Namun sudah banyak yang pudar, baik semangat maupun situs peninggalannya. Sangat mungkin untuk bisa melacaknya, asal ada akademisi dan generasi yang mau berusaha dan harus didukung oleh pemerintah daerah. Percuma kota Malang punya APBD 1,4 triliun kalau tidak bisa mensponsori sejarahwan dalam menggali identitas dan peninggalan sejarah nenek moyangnya. Demikian juga dengan Batu dan kabupaten Malang.
....yang disebut 'orang asing' adalah juga mereka yang mengabaikan sejarah dan budaya bangsanya...

Subscribe to receive free email updates: