MISTERI DIBALIK RUNTUHNYA NUSANTARA I TAHUN 1293

JurnalMalang - Maharaja Kertanegara adalah pemimpin pertama yang berhasil mewujudkan tegaknya pilar integrasi Nusantara periode sebelum lahirnya Majapahit. Ekspedisi PaMalayu yang kesohor bukanlah invasi melainkan membawa misi persatuan di tengah kacaunya politik dunia oleh agresi besar-besaran Kubilai Khan di Asia Raya.

Kertanegara penguasa yang penuh talenta: memiliki pengalaman tempur, cerdas, visioner dan berdarah ksatria. Integrasi dengan Bali berhasil dilakukan tahun 1284 dan dua tahun kemudian diikuti daratan Sumatera. Ketika proyek integrasi ini hendak dilanjutkan di kawasan Tenggara dan Timur, Mongolia harus menghadang langkahnya.

Dan Kertanegara menjadi penguasa Jawa pertama yang berani menentang arogansi politik dinasti Kubilai Khan dari Tiongkok yang pada masa itu berambisi menguasai dunia, yang pernah mengirim diplomatnya agar Kertanegara mau tunduk pada imperium warisan Jengis Khan itu. Kertanegara tegaskan nasionalismenya: Nusantara Satu Harga Mati!

Dan inilah awal dari bencana politik kehancuran Singhasari (Nusantara I), politik bumi hangus, kemudian melahirkan negara baru yang orang menyebutnya Majapahit. Konon, simbol kuno "Garuda mencengkram 3 Naga" yang tergurat pada candi-candi lama muncul pasca konflik berdarah ini sebagai simbol penentangan abadi bangsa Nusantara atas agresi bangsa asing dari Timur Jauh.

Kekaisaran Mongol disebut-sebut sebagai imperium terbesar kedua dalam sejarah umat manusia, didirikan oleh Jengis Khan yang terkenal agresif, tangguh dan kejam. Dan ketika cucunya yang bernama Kubilai Khan naik tahta, dia memindahkan ibukota Mongol ke Beijing lalu meneruskan ambisi besar pendahulunya untuk menjadi negara Adidaya pengendali dunia.

Korea sudah jatuh ke tangan Mongol sejak tahun 1258. Tahun 1281 Mereka menyerbu Jepang hingga negeri para Samurai itu takluk mengakui kekuasaan Tiongkok. Tidak hanya itu, ratusan ribu prajurit Mongol yang tangguh menjajah Myanmar, Kamboja, Vietnam dan Thailand, dan beberapa negara Padang Pasir yang terkenal atos, semuanya bertekuk lutut dengan atau tanpa syarat.

Akhirnya Mongol melirik Jawa, sebagai mercusuar utama kejayaannya di Asia. Pada saat itu perlindungan laut (jalur dagang) mulai berada di bawah patroli tentara Singhasari.

Pada saat dimana seorang darahpanas berjiwa Singa sedang berkuasa, yaitu Kertanegara keturunan sang gerilyawan legendaris bangsa Jawa dari marga Gnaro Ngalam dimana bertempur merupakan semacam hobi warisan.

Kertanegara adalah putra dari Ranggawuni (Wisynuwardhana) sosok yang berjasa memindahkan ibukota Tumapel dari Kutaraja (Muharto Kotalama) ke Singosari dan membuka konsensus damai antar klan Arok-Dedes dengan Klan Dedes-Tunggul Ametung yang sejak tahun 1220 sudah saling membunuh dimana dikenal dengan "kutukan Mpu Gandring". Pertikaian sedarah yang mewarnai perjalanan Singhasari ditutup pada era Kertanegara.

Khan yang Agung membidik Singhasari sebagai cabang utama keraton Monglia di Asia Tenggara. Melihat peta kekuasaan Jawa Singhasari yang tengah berkibar mekar di darat dan di laut maka Kubilai Khan cukup hati-hati dengan menunda konflik senjata. Mongol pasti sudah membaca riwayat Jawa di masa sebelumnya (Era Panjalu / Joyoboyo - 1130an) yang terkenal memiliki angkatan perang tangguh dan memiliki sejumlah pasukan cadangan strategis berpenunggang gajah. Komando lautnya tidak kalah hebat dengan angkatan darat.

Mongol memilih jalur diplomatik; mengirim seorang diplomat yang bernama Meng Khi membawa pesan: 1) Singhasari harus menjadi bagian dari kekuasaan Dinasti Yuan Mongol. 2) Kertanegara harus menyetor upeti sebagai bukti loyalitasnya. Jika menolak dua opsi tersebut maka nasib Dwipantara akan sama dengan semenanjung Korea.

Tidak berpanjang lebar, raja Singhasari memberikan jawaban yang jelas dengan memerintahkan untuk memotong telinga diplomat asing itu dan memintanya memberitahu Kubilai Khan yang pongah agar mencampakkan ambisinya ke laut pasifik.

Kalau berani, silahkan datang ke Bhumi Dewata kita akan membungkam mulut besarnya dengan gada! Jika Mongol memang ingin menjajah maka negeri Dwipantara siap meniup sangkakala perang, jika perlu genderang Bharatayudha akan ditabuh diseluruh dermaga pantura!

Bukan main murkanya Kubilai Khan Yang AGung atas sikap raja Kertanegara yang melecehkan wibawa Mongol yang terhormat. Maka tahun 1292 dia mengirim sebuah ekspedisi perang terbesar dalam sejarah, puluhan ribu angkatan laut yang berpengalaman menaklukkan Asia dikirim untuk menghajar Singhasari.

Berita serbuan besar-besaran ini jelas menyebar ke saentero dunia, tidak membuat Kertanegara takut. Dia justru semakin gencar membangun koalisi lintas kerajaan lintas pulau untuk mengukuhkan kedaulatan politik Nusantara. Dia yakin bahwa persatuanlah yang akan menjadi benteng kokoh Nusantara dari invasi asing.

Maka mayoritas tentara terbaiknya tetap dikirim ke luar pulau untuk meneruskan komitmen integrasinya, dimana pada saatnya nanti akan mengepung armada Mongol yang jelas dia sudah tahu pasti akan tiba. Namun, ada satu hal yang luput dari pengamatan sang Raja; beliau lalai melihat ke dalam!

Adalah Jayakatwang, raja lokal di Gelang-Gelang (Madiun) yang selama ini dia sepelekan adalah keturunan langsung mantan penguasa terbesar Maharaja Panjalu Raya, dari klan asli darahbiru Isyana yang melegenda, yang dahulu kalanya dikudeta oleh gerilyawan Sudra Ken Arok. Benih dendam telah lama bersemai ternyata tidak bisa diselesaikan dengan sekedar perkawinan politik yang selalu menjadi andalan Singhasari untuk perekat internal.

Bahwa Jayakatwang takjub oleh informasi kedatangan Mongol dan dia menemukan momentum yang tepat untuk makar ketika: ribuan tentara Singhasari sedang sibuk dengan euforia menyatukan Nusantara sementara saat yang sama (1293) ada sebuah armada perang dari Tiongkok sudah mendarat di Rembang.

Inilah saat yang tepat bagi Jayakatwang untuk melakukan Kudeta jilid II dan setelah itu siap menggelar karpet merah untuk Kubilai Khan demi kemakmuran. Jayakatwang tidak terlalu mementingkan persatuan karena terbelenggu dendam turunan.

Misi politik dan ekonomi Mongol rupanya menggeser stabilitas internal kekuasaan Jawa, memancing air keruh dimana arena perang saudara akan segera terbuka. Jayakatwang hanya menanti momen yang tepat akan melibas istana yang kekosongan prajurit dan siap bernegoisasi dengan Tiongkok.

Atas nama leluhur Kertajaya yang tumbang ditangan Arok, maka Jayakatwang menyerang Singhasari dalam sokongan penuh Panglima Jarang Guyang dan Mundarang yang tidak takut mati. Ada seorang pejabat karir, orang dalam yang membocorkan detail rinci kelemahan Singhasari. Sergapan dua arah ini sungguh mematikan, istana kocar kacir dan Maharaja Kertanegara yang hebat tewas mengenaskan.

Panglima perang Singhasari Kebo Anabrang terkejut dengan kabar pemberontakan Jayakatwang. Pasukan Singhasari yang sudah menyebar ke Bali, Nusantara Timur, Sumatera dan lainnya cepat ditarik mundur dan lebih banyak yang bergabung dengan penguasa daerah-daerah. Tapi skenario pengepungan Mongol juga tidak mungkin dilaksanakan. Raja besar sudah mati.

Usai sudah kemegahan Nusantara I, roboh bersama dendam kesumat Jayakatwang. Sementara itu, dari Rembang, laskar Mongol yang haus darah sudah melakukan perjalanan darat menuju Singhasari untuk mencingcang almarhum Kertanegara. Long march pasukan Mongol menggetarkan bumi Jawadwipa.

Jayakatwang marak jadi Raja baru, memindahkan ibukota ke Dahanapura (Kediri) dan mengembalikan nama asli kerajaan Menjadi Panjalu Raya (Kerajaan yang pernah dipimpin oleh raja mistis Joyoboyo, leluhurnya). Namun raja baru ini juga rupanya kurang peka situasi. Dia terlalu menganggap remeh wuri-wuri Singhasari yang berhasil lolos ke pulau Madura. Masih ada seorang "Singa" yang masih hidup.

Bahwa mercusuar Singhasari memang padam namun ada sependar api yang bersembunyi di sebuah tempat yang aman yaitu Madura, dia mendapat suaka politik dari pejabat karir yang bernama Arya Wiraraja. Ibarat sebuah rumah besar sudah dikuasai, namun didalamnya ada seekor ular berbisa yang bernama Raden Wijaya, pengeran dari garis keturunan Arok-Dedes yang dididik secara militer, ahli taktik yang lebih unggul dari almarhum Kertanegara, konseptor dan plus mewarisi sifat "licik" leluhurnya Ken Arok Singa Padang Karautan. Dialah pakar dan pelaku politik terbaik bangsa Jawa pada masa itu, muda segar dan berbahaya. Bila Kertanegara adalah gabungan dari klan Arok-Dedes-Tunggul Ametung maka Raden Wijaya merupakan darah murni dari klan Arok-Dedes yang amat kesohor itu.

Demi ambisi pribadinya, Jayakatwang siap mempersembahkan Dahanapura kepada Kubilai Khan. Tapi ikrar Singhasari siap menjegal langkahnya.

Raden Wijaya, buronan Jayakatwang, melihat ada satu peluang emas untuk merebut kembali kedaulatan politik Singhasari dan menyelamatkan Nusantara dari penguasaan Mongol melalui calon sekutunya Raja baru Jayakatwang yang tidak punya visi dan cenderung kompromis. Wijaya akan memainkan taktik gaya lawas namun dengan sentuhan ide baru yang lebih membunuh.

Raden Wijaya mengirim utusan ke Pasukan Tiongkok yang berbaris maju di bawah Komandan Perang Ikke Messe untuk menjelaskan bahwa: 1) Kertanegara musuh mereka sudah tewas dan Singhasari jatuh ke tangan Jayakatwang. 2) Mengajak Mongol untuk bersatu menghabisi raja baru Jayakatwang yang dihasutnya sebagai raja anti asing, setelah itu kekuasaan diserahkan kepada Maharaja Kubilai Khan melalui Ikke Messe yang hebat. Jika muslihat ini gagal maka seluruh anggota dinasti Sunghasari akan musnah dan Jawa akan masuk dalam cengkeraman Khan yang Agung.

Diplomasi Wijaya berhasil. Komandan Mongol setuju dengan koalisi baru ini untuk menghajar rezim baru Jayakatwang.

Maka puluhan ribu tentara Mongol yang sedang lapar nyawa menyerbu kota Daha. Prajurit Daha yang baru saja lelah pasca kudeta Singhasari tumpas bergelimpangan. Maut bernyanyi di Dahanapura, melengkapi 30 juta nyawa manusia yang tumpas sejak Jengis Khan menjajah dunia.

Jayakatwang yang baru seumur jagung naik tahta ditangkap dan di eksekusi di atas kapal Tiongkok yang banyak melempar sauh di pantura. Bagi Ikke Messe, membasmi Jayakatwang atau Kertanegara sama saja yang penting Jawa sudah tunduk dan pajak mulai bisa dipersembahkan kepada Kubilai Khan.

Perang usai dalam waktu yang singkat. Mongol sudah sukses menduduki jantung kekuasaan Jawa, mereka berpesta merayakan jatuhnya Nusantara Lama. Tetapi mereka lupa, bahwa tanah keramat ini berbeda dengan Jepang, Korea dan Vietnam.

Ketika mereka tengah euforia pesta, tiba-tiba datanglah ribuan bala tentara garis keras yang mengepung, membantai pasukan Mongol dan membakar seluruh kota. Tentara Mongol kacau dalam kebingungannya, serbuah tiba-tiba ini datang dari pihak mana? ke mana Raden Wijaya dan pasukan koalisi lokal?

Raden Wijaya lah dalang dari permainan maut ini.

Yang telah memperalat ambisi politik mereka sehingga bisa menumpas Jayakatwang secara gratis, dan menipu mereka agar menyerang Jayakatwang yang sebetulnya pihak yang siap berdamai dengan Mongolia. Ikke Messe terkena muslihat perang yang belum pernah ditemuinya di seluruh negeri taklukannya.

Menggayang pasukan yang sedang lalai dan lelah adalah pekerjaan yang lebih ringan dari membajak sawah. Jelaslah bagi Ikke Messe: dia menjadi korban siasat dan muslihat licik Raden Wijaya. Maka dengan amarah, kecewa dan gentar dia pulang ke negerinya membawa sisa-sisa pasukannya. Tragedi kekalahan inilah yang kelak melahirkan strategi baru penerus Kubilai Khan, bahwa bangsa Nusantara sulit ditaklukkan dengan perang, melainkan harus dengan cara lain: mungkin dengan ekspansi niaga atau penguasaan ekonomi.

Raden Wijaya sudah mengantisipasi. Bahwa Mongol tidak akan terima kekalahannya. Suatu hari mereka bisa datang lagi membawa armada gabungan lintas negara untuk mengepung Dwipa.

Maka pada tahun itu juga, tepatnya tanggal 12 November 1293 dia mendeklarasikan berdirinya kerajaan Majapahit dan mendaulat dirinya sendiri menjadi Raja Pertama dengan meresmikan daulah klan Sang Rajasa. Dia memperkuat angkatan laut dan darat yang menjamin kedaulatan ekonomi di seluruh perairan Nusantara sehingga Majapahit di sebut sebagai negara Maritim terbesar dalam sejarah.

Negara Majapahit lahir dari sebuah krisis politik yang melibatkan kepentingan / agenda bangsa asing yang ingin menguasai Nusantara namun berkat perjuangan rakyat yang dipelopori oleh Raden Wijaya maka kedaulatan politik Nusantara terjaga meskipun dalam bentuk kerajaan baru namun secara visi sama dengan kekuasaan sebelumnya.

Sejarah pun membuktikan, sejak Majapahit berdiri, imperium Mongol yang besar pun berangsur-angsur runtuh. Posisinya sebagai negara Adidaya diambil alih Majapahit.

Kunci keberhasilan Majapahit adalah : Persatuan dan Teguh pada Nasionalisme....

Subscribe to receive free email updates: