Media Online di Malang Raya sebagai Alternatif Publikasi di Tengah Kenaikan Pajak Reklame (Revisi-Tambahan 5/8/2015)

Terhitung sejak tahun 2014 kota Malang mengeluarkan regulasi baru yaitu kenaikan Pajak Reklame hingga 300 %. Kebijakan ini diambil dalam rangka menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tak ayal kebijakan ini menuai protes dari kalangan publisher. Ketika biaya pajak iklan dan publikasi semakin mahal maka berdampak domino pada omzet percetakan, pekerja sektor publishing dan juga bando-bando jalan akan sepi peminat. Pada situasi inilah media online menjadi alternatif yang lowcost.


Malang Raya pada umumnya sudah termasuk kategori kawasan yang maju dan sudah tersentuh teknologi secara merata, akses internet sudah meluas apalagi didukung oleh keberadaan Malang sebagai kota Pendidikan dengan sistem dan infrastruktur yang modern. Sehingga media publikasi tidak semata mengandalkan reklame fisik (bando, spanduk, banner) karena masyarakat sudah melek teknologi dan sudah bisa mengakses informasi di media online.

Dunia publikasi (reklame dan iklan) di media massa (Koran, Majalah, Tabloit, TV) di kota Malang bisa dibilang cukup mahal, space kolom kecil berwarna saja bisa berharga jutaan rupiah, padahal durasi tampilnya hanya sehari. Di era teknologi informasi seperti saat ini tren publikasi sudah bergeser dari media offline (Koran, Bando, spanduk dst) ke media online. Lihat saja misalnya Koran Malang Post, Harian Surya, Memo Arema telah memaksimalkan portal onlinenya (koran versi digital) menjadi lumbung periklanan bagi produk maupun kegiatan.

Trend inilah yang melahirkan media online regional seperti BeritaJatim.Com yang kita tahu sebagai media online terbesar dan tersukses di Jawa Timur. Kelebihannya tidak hanya pada isi berita yang luas dan cepat tetapi juga terakses secara luas oleh pembaca dalam jangka waktu yang lama. Maka tak heran, media offline seperti koran dan majalah diramalkan akan tamat. Media online adalah media massa depan, ruang publikasi masa depan.

Di Malang sendiri telah berdiri banyak media online indie yang ternyata masuk dalam rating media lokal yang terbanyak di baca di Indonesia. Dikatakan media indie karena mereka bukanlah cabang atau bentukan dari media massa besar melainkan dikerjakan oleh jurnalis-jurnalis lepas, freelance yang sekedar hobi dengan modal kecil dan kantor yang sederhana, bahkan ada yang kantornya ngontrak atau pakai alamat kost-kostan. 
Media indie ini sebut saja misalnya: seputarmalang.com ; halomalang.com ; malangnews.com ;  malangraya.info ; malanginfo.com ; malangselatan.com: malangtimes.com : wartamalang.com, malangvoice.com, malangpagi.com dan ratusan Blogger Malang yang hebatnya situs mereka rata-rata masuk dalam kategori pengunjung stabil terbanyak versi Alexa Rank (Situs pengukur Traffik pengunjung terakurat di dunia).

Portal - portal berita online indie di atas memanfaatkan betul kebebasan informasi dimana regulasinya belum diatur oleh pemerintah, sejauh bermanfaat dan tidak mengandung unsur SARA maka portal - portal digital tersebut sah-sah saja membangun kemitraan dengan banyak publisher. Mitra iklan media online indie Malang sudah lama menjalin kemitraan dengan pihak publisher berkelas dunia.

Jadi, kenaikan pajak reklame di kota Malang, dan juga bisa jadi diikuti oleh Batu dan Kabupaten, sebetulnya tidak ada masalah terutama bagi publisher - publisher menengah ke bawah yang keberatan dengan biaya pajak reklame yang tinggi. Beralih saja ke media online non mainstream yang tidak ribet baik dalam hal perizinan maupun prosedur kerjasama. Portal raksasa seperti Google, Amazon dan Yahoo sudah lama memanfaatkan situs besar maupun kecil untuk kerjasama publikasi produk-produk mereka atau materi iklan mitra mereka.

Maju terus media online Malang, Blogger Ngalam Pancen Oyi....!!!

Subscribe to receive free email updates: