Pelopor Jurnalisme Warga (Malang Raya, Jawa Timur)

Polling Pilkada MLG_KAB 2020 [One Phone One Vote]

SUARA MAHASISWA : NEGARA SANG JUARA

Ilustrasi: sumber, liputan6
Oleh: Bayu Eka Yaqsa
(Mahasiswa Univ. Islam Malang)

Siapa pun yang meraih prestasi tingkat nasional, regional, apalagi internasional, pada umumnya hidupnya pasti akan terjamin. Selain terkenal, mereka juga akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan prestasi yang diraihnya dan memperleh penghsilan yang memuaskan dan juga dengan gaji yang tinggi. Ia akan disanjung dan dipuja serta dimanjakan serta di pandang oleh orang lain. Itulah nasib para juara di negara maju dan Negara kaya yang menghargai prestasi.

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia yang Negara ini merupakan Negara yang kaya?
Di Indonesia juga sama, siapa pun yang juara akan selalu disanjung dan dipuja. Mereka juga akan mendapatkan penghargaan, penghormatan, dan kesejahteraan. Akan tetapi, pada umumnya, penghargaan yang diberikan bersifat sementara. Setelah juara, ya sudah. Tidak ada lagi perlakuan berikutnya, kecuali jika yang bersangkutan berinisiatif melanjutkan prestasinya secara mandiri. Mereka yang mengandalkan lembaga tertentu untuk menampung dan mengembangkan bakatnya kerapkali menghadapi kendala. Alih-alih tambah berprestasi, para jawara justru kerap frustasi karena menghadapi kenyataan pahit yang tak seirama dengan prestasi yang diraih.

Jika dia seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), maka dia tidak serta-merta menduduki jabatan tertentu karena prestasinya. Banyak pintu yang harus dilaluinya agar mampu menduduki jabatan itu. Kalau harus menduduki jabatan tertentu, kadang tidak sesuai dengan pendidikan dan prestasi yang diraihnya. Bahkan, tidak jarang mereka mendapatkan job yang jauh dari bidang yang ditekuninya.

Pada kenyataannya, jabatan di PNS lebih bersifat “urut kacang”; siapa yang senior maka dia yang mendapatkan jabatan tersebut. Kalaupun seseorang naik jabatan yang istimewa, terkadang itupun karena kedekatannya dengan sejumlah pengambil kekuasaan.

Di luar semua kendala teknis di atas, kendala yang paling mendasar adalah karena kultur kita belum kondusif bagi peraih prestasi. Kita masih memelihara “budaya” bahwa menang itu mengalahkan. Maka, siapa pun yang meraih prestasi, berarti dia “mengancam” bagi orang lain, terutama pimpinan yang bisa setiap saat harus rela digusur untuk memberi tempat bagi yang berprestasi tersebut.

Sebaliknya, adanya orang yang berprestasi justru memunculkan tindakan kontraproduktif berupa penjegalan terhadap orang-orang berprestasi tersebut. Jika iklim berprestasi di tanah air masih seperti ini, kapankah Indonesia akan maju dan menjadi bangsa juara?
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Administrasi Negara UNISMA Malang.

Subscribe to receive free email updates: