Didebat Fadli Zon, Ahmad Basarah Sitir Adagium 'Sejarah Ditulis oleh Pemenang'

PrimeNews CNN IndonesiaTV /ScreenshotJM
JurnalMalang - Perdebatan tentang relevansi putar ulang film G30SPKI antara Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dengan Wasekjen DPP PDIP Dr. Ahmad Basarah di PrimeNews CNN Indonesia TV (26/9) menarik untuk diulas. Diskusi hangat menjelang 1 Oktober ini juga menghadirkan pembanding Ardi Manto, koordinator riset Imparsial.

Pertama kali mendapat kesempatan Fadli Zon langsung menegaskan bahwa film G30S/PKI membeberkan fakta sejarah dan peristiwa tersebut merupakan gerakan kudeta. Dan menurutnya, film itu penting untuk mengingatkan bangsa Indonesia akan bahaya komunisme; kudeta merupakan salah satu 'rukun' ajaran komunis. Terjadi di banyak negara bahwa komunisme menghalalkan segala cara yang tidak konstitusional untuk merebut tahta.

"Jadi fakta yang ditampilkan, penggambarannya (dalam film tersebut) sudah sesuai dengan fakta." tegas Fadli Zon.

Ahmad Basarah menanggapi prolog Fadli Zon dengan menyitir adagium yang dipopulerkan Dan Brown dalam novel The Da Vinci Code, bahwa "Sejarah ditulis oleh pemenang".  Sejarah politik dan kekuasaan selalu disusun oleh penguasa yang eksis di masing-masing zaman. Sebagaimana digambarkan dalam Da Vinci Code, konspirasi penulisan sejarah bukan sekedar untuk mengaburkan fakta di pihak yang kontra penguasa namun juga untuk tujuan mengarahkan persepsi masyarakat ke arahkebenaran yang dikehendakinya. Sehingga, ada kalanya kebenaran bisa terpendam ribuan tahun lamanya.

Ahmad Basarah menyampaikan, "Ada dimensi sejarah yang tidak lengkap (dalam film G30S/PKI)." Sebab kalau bicara sejarah harus komprehensif dan tidak boleh ada fakta yang ditutup tutupi. Menanggapi hal tersebut Fadli Zon menjelaskan bahwa film G30S adalah kreatifitas menyajikan sejarah dalam bentuk film, "Film bebas menyajikan perspektif apapun, dan ini bukan film dokumenter." bantah Fadli Zon.

Pada konteks sejarah yang dimaksud, Basarah memaparkan harus ada dua manfaat penting dari sajian film yang mengandung sejarah yang berpotensi debatable: Pertama sejarah penting untuk melihat dan mempelajari masa lalu dan kedua sejarah penting untuk memberikan hikmah di masa kini dan akan datang.

Lanjutnya, peristiwa Gestok (atau juga disebut G30S -red) yang kemudian di filmkan itu dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa kelam, seperti : Perpecahan di tubuh TNI; Konflik elit politik; Nafsu kekuasaan yang tak terbendung dan Kegaduhan politik yang luar biasa besar.

"lalu hikmah apa yang bisa didapatkan masyarakat dari narasi sejarah seperti itu?" ujar alumnus program Doktor Undip yang juga penulis buku Bung Karno, Islam dan Pancasila ini. Menurutnya sajian sejarah (Gestok) harus bermuara pada rekonsiliasi kebangsaan. Ketika bangsa membutuhkan rekonsiliasi maka sejarah kelam tersebut jangan diungkit-ungkit lagi.

Ardi Manto dari Imparsial, mengakui peristiwa G30S merupakan peristiwa kelam yang hampir membuat bangsa Indonesia jatuh di cengkraman PKI dan Suharto berjasa dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari kudeta komunis tersebut. Hanya saja pemutaran film G30S perlu mempertimbangkan dampak psikologisnya terutama terhadap anak-anak sebagai generasi muda. "Sepakat dengan ide Presiden Jokowi, perlu dibuat film baru, yang mengarah kepada rekonsiliasi nasional."

Ide pembuatan ulang film dengan tema G30S/PKI juga tidak menjamin berakhirnya perdebatan seputar relevansi historis maupun dimensi faktual peristiwa G30S atau Gestok yang berujung pada berakhirnya kepemimpinan Presiden Sukarno tersebut. Hal ini diakui Ahmad Basarah. Yang terpenting adalah, mengambil 'api' sejarah dan meninggalkan abunya. (red1).

Subscribe to receive free email updates: