Malang dalam Sejarah Kudeta Kekuasaan Pertama di Nusantara

Tahun 1222 adalah babak baru dalam sejarah kekuasaan Jawa Lama dan tamatnya kejayaan Dinasti darah-biru Isyana yang telah lama berdaulat atas seluruh daratan Jawa pasca bencana Mahapralaya Merapi tahun 929 (keraton Mataram Kuno dipindah ke timur Jawa oleh Mpu Sindok dan mendirikan Wangsa Isyana). Adalah Arok, seorang pemuda kampung yang besar dilingkungan Sudra, jagoan desa yang memiliki keberanian merampas gerobak upeti penguasa, berhasil menjambret kekuasaan Tunggul Ametung yang disokong penuh oleh tentara baginda Kertajaya (Raja Panjalu yang mengklaim diri berkekuatan Syiwa). Buku kurikulum sejarah lama Indonesia menulis kisah penting ini dalam pendekatan yang dangkal dan cabul: kisah Arok membunuh raja karena tergiur kemolekan ken Dedes. Mari kita kaji latar belakang yang sesungguhnya.


Malang (disebut Tumapel) pada jaman itu hanyalah satu distrik kekuasaan kecil yang berada di bawah otoritas kekuasaan Raja Kediri yaitu Sri Kertajaya (anak cucu /Jayabaya-Erlangga-Mpu Sindok darah biru Mataram Kuno). Pada jaman itu Kediri atau yang disebut Panjalu merupakan kekuasaan yang paling besar dan kuat di bumi Jawa karena telah berintegrasi dengan kerajaan Jenggala yang menguasai pesisir timur, tapal kuda dan jalur Pantura. Intergrasi damai Panjalu-Jenggala melahirkan Panjalu Raya yang jaya di laut dan perkasa di daratan.

Mengingat Malang adalah tanah tua yang keramat, dimana pernah berdiri Kerajaan kuno Kanjuruhan (500-760 M) yang berhasil mendirikan Candi besar di dataran tinggi Tidar maka raja Panjalu menunjuk loyalisnya, Tunggul Ametung sebagai penguasa lokal Malang, dalam sokongan tentara terkuat dibawah jendral angkatan darat Kebo Ijo dan pandai keris sakti Mpu Gandring. Tunggul Ametung sendiri adalah seorang penganut Wisynu konservatif yang keras pada biara-biara Syiwa. Semua Brahmana Syiwa undur diri dari politik dan dakwah. Salah satu cacat moral Tunggul Ametung pada pemuja Syiwa adalah merenggut wanita cantik dan cerdas Ken Dedes sebagai istrinya, dimana Dedes adalah putri Brahmana Syiwa terkemuka (Mpu Purwa) ikon pesantren Hindu raya di Malang yang konon bisa baca aksara Kawi dan rontal Sansekerta. Dan, Malang termasuk daerah kekuasaan yang paling banyak mengirim pajak/upeti ke Panjalu.

Jadi bisa dibayangkan sendiri bagaimana suasana bumi Arema pada jaman itu: penuh penindasan, ketegangan, ketakutan dan kemiskinan. Maka sangatlah heboh ketika tiba-tiba muncul seorang muda yang berani merampas harta upeti Tumapel untuk Panjalu di perbatasan Malang Barat (Daerah Batu-Pujon). Pemuda itu bersama gerombolannya merampok setiap ada gerobak upeti yang lewat hutan pujon yang rimbun dan senyap.

Berita perampokan ini jelas membuat murka Tunggul Ametung dan mengeluarkan SP penangkapan Arok yang diduga sebagai otak pelakunya, hidup atau mati. "Kejahatan" Arok ini sampai juga ke telinga para Biarawan yang selama ini ditindas Tunggul Ametung. Maka diam-diam mereka memberikan ruang bagi Arok untuk mendalami kanuragan, menyusun strategi dan sokongan spritual Trimurti. Inilah kisah dimana seorang Sudra Wisynu yang diberkati dengan cara Ksatria Syiwa. Brahmana senior Danghyang Lohgawe menjadi mentor gerakan dan spritual bagi Arok.

Maka inilah skenario penjatuhan Akuwu yang dilakukan oleh gerakan Arok dalam dukungan penuh biara Syiwa:
  • Tunggul Ametung harus dikudeta tanpa menimbulkan gejolak sosial dan darah prajurit;
  • Mengingat loyaliasnya banyak maka Tunggul Ametung harus dibunuh langsung tapi dengan menuding tangan orang lain sebagai kambing hitam demi mengalihkan buasnya tentara Tumapel;
  • Kebo Ijo adalah Panglima yang memiliki akses pada gudang senjata dan berkuasa atas semua tentara Tumapel, maka untuk menghindari pengambilalihan kekuasaan oleh militer pasca kudeta nanti dia harus dilenyapkan dengan cara yang licik yaitu difitnah sebagai otak eksekusi raja;
  • Mpu Gandring bukan sekedar tukang pembuat keris, namun adalah orang sakti yang punya pengawal, punya senjata, punya kharisma, berdarah Ksatria dan punya ambisi, maka juga harus dihabisi dengan membuat alasan yang mengaburkan fakta yang sesungguhnya yaitu pembuatan keris yang tidak sesuai perjanjian;
  • Para agamawan nanti harus berdiri paling depan mengendalikan massa ketika kudeta berakhir sukses;
  • Ketika nanti kudeta berakhir, raja Panjalu pasti bertindak. Tidak ada pilihan lain kecuali menghadapinya.
Itulah gambaran rencana kudeta Arok terhadap Tunggul Ametung. Semua direncanakan dan dilakukan dengan matang penuh perhitungan. Sehingga ketika kudeta itu dilakukan, berjalan dengan sempurna:
  • Arok sesumbar bahwa dirinya berdarah Ksatria, telah menguasai ajaran Syiwa, dia memakai simbol Trimurti lambang penyatuan kekuatan tiga Dewata. Tujuannya untuk mendapat legitimasi religi dari rakyat.
  • Memesan senjata (keris) pada Mpu Gandring yang ada garansi keramatnya, setelah itu membunuhnya karena berpotensi menghalangi kudeta (Gandring adalah mitra Tunggul Ametung dalam hal membuat senjata).
  • Membunuh Tunggul Ametung dengan mengatur skenario bagaimana agar orang menuduh pelakunya adalah orang dalam istana (kebo Ijo) yang haus kekuasaan;
  • Ketika fitnah Kebo Ijo berhasil maka dengan sendirinya Panglima malang itu tumpas ditangan massa;
  • Langsung menyatakan diri sebagai pengganti Tunggul Ametung melalui kharisma para Biarawan;
  • Mengajak rakyat melawan raja Panjalu karena selama ini mereka hanya bisa menghisap rakyat Malang melalui upetinya Tunggul Ametung;
  • Memberikan suaka politik pada seluruh ulama Syiwa Jawa Timur yang ternyata di kota Daha Panjalu juga ditindas oleh Sri Kertajaya bosnya Tunggul Ametung.
  • Mengalihkan energi rakyat yang tengah mendidih dengan rencana integrasi satu Jawa satu komando.
Ternyata benar seperti dugaan; Raja Panjalu murka dan langsung mengirim bala tentara besar menyerang Malang dibawah pimpinan langsung darah biru istana Mahisa Wulungan. Arok adalah pemimpin gerilya, orang yang bermental tempur, darah panas dan Singo Edan Bumi Tumapel; tentu saja dengan riang gembira menyambut deklarasi perang Panjalu; maka Perang Ganter pecah.

Laskar ken Arok memenangkan pertempuran Ganter dan membunuh panglima Mahisa Wulungan. Tanpa menunggu lama Arok menyatakan diri sebagai penguasa tunggal seluruh daratan Jawa; Satu Jawa di bawah kekuasaan rakyat dan simbol sakral Trimurti. Arok lalu menyatakan bahwa Tumapel bukan hanya menjadi kerajaan yang mandiri tetapi juga akan melakukan ekspansi besar-besaran untuk menyatukan seluruh kekuasaan di Jawa.

Hanya saja ambisi besar ini tidak terlaksana karena Arok keburu dikudeta oleh Anusapati (Putra Tunggul Ametung) sebagai balas dendam politik. Kudeta balas dendam inipun menjadi tradisi di Malang, turun temurun, sehingga pada jaman Ranggawuni berkuasa dia memindahkan ibukota dari Kutaraja (Muharto Kotalama) ke Singhasari (Lawang). Pada periode berikutnya juga terjadi kompromi antara anak-cucu Arok dengan Anakcucu Tunggul Ametung; bahkan terjadi perkawinan silang antar mereka; misalnya Raden Wijaya (keturunan Arok-Dedes) menikahi putri-putri dari klan Tunggul Ametung-Dedes. Hasilnya memang luar biasa; raja Kertanegara berhasil membawa masa keemasan Singhasari dengan memulai babak awal pendirian Nusantara yang mandek karena pemberontakan sisa-sisa kekuatan Panjalu dan kedatangan ekspedisi tentara Tiongkok. Bersatunya semua klan ksatria Tumapel ini membuat kerajaan menjadi solid dan tiada tandingan.

Singhasari terlalu ambisius dalam perluasan wilayah di Sumatera, Bali dan Timur Nusantara, sementara tidak melihat potensi pemberontakan dari sisa-sisa kekuasaan Panjalu Raya yang sukses membangun pangkalan di kawasan Gelang-Gelang (Madiun) dan diam-diam sebuah armada maha besar angkatan laut Tiongkok (Mongol utusan Kubilai Khan) mendekati perairan Jawa ingin mengambilalih Singhasari yang dulu menolak tunduk pada Tiongkok. Siasat penyerbuan 2 arah wuri Panjalu (Jayakatwang) berhasil mengambil alih Singhasari yang euforia perluasan wilayah. Raja Singhasari tewas dan sisa keturuan Arok-Dedes (Raden Wijaya) berhasil melarikan diri, mendapat suaka politik di tanah Madura.

Raden Wijaya mendengar informasi bahwa angkatan laut Tiongkok sudah mendarat di pesisir Jawa, dia lalu mengirim utusan untuk mengabarkan bahwa Singhasari sudah diambil alih oleh Panjalu. Tentara Mongol diajak kerjasama untuk merebutnya kembali dan bila berhasil maka Singhasari siap menjadi cabang dari Kerajaan Mongol. Provokasi ini berhasil, Tentara Mongol yang besar dengan mudah menumpas pasukan Jayakatwang yang sedang lelah perang.

Ketika tentara Mongol sedang berpesta pora kemenangan dan bermimpi telah menguasai tanah Jawa, diam-diam Raden Wijaya didukung oleh laskar Madura dibawah pimpinan Arya Wiraraja membumihanguskan seluruh pasukan Mongol yang baru saja membantu mereka membalas dendam pada Panjalu yang merebohkan istana Singhasari. Pasukan Mongol kocar kacir pulang kampung dan sebagian mencari suaka di pesisir barat.

Raden Wijaya alias Brawijaya I yang keturuan ke 4 dari Arok-Dedes langsung mendeklarasikan sebuah kerajaan baru yaitu Majapahit pada tahun 1293. Dia mengirim pesan ke seluruh kekuasaan kecil di Jawa bahwa Jawa berada dalam satu komando dan akan segera melanjutkan program integrasi satu Nusa satu Bangsa dibawah bendera Majapahit Raya. Kekuatan-kekuatan luar bersenjata (Tiongkok, Eropa dan Timur Tengah) yang selama ini menunggu momen perpecahan Jawa untuk menguasai rempah-rempah pun mundur teratur. Majapahit dalam sekejap marak menjadi mercusuar dunia, imperium maritim yang tangguh dan angkatan lautnya tak bisa ditandingi kekuasaan manapun. Agar menghindari konflik internal dan menjauhi kutukan Mpu Gandring, Majapahit membangun ibukota di Trowulan (Mojokerto) dan menciptakan sistem otonomi kekuasaan bagi semua daerah kekuasaannya di seluruh Nusantara. Majapahitlah yang mulai merintis sistem desentralisasi kekuasaan, dimana tidak ada intervensi pusat terhadap suksesi lokal seperti yang terjadi pada era Orde Baru.

Konsep kudeta ala Arok yang terkesan licik memang seusai dengan kultur jaman saat itu dimana perebutan kekuasaan sangat ditentukan oleh siasat rimba dan belum ada regulasi demokratisnya. Siapa yang kuat dan kejam maka dia yang menang. Arok menang dengan cara tersebut namun misinya adalah revoluasi rakyat jelata dari penindasan darah biru. Dialah yang menjadi pelopor gerakan arusbawah dan memberikan ruang partisipasi bagi agama (Biara) di kebijakan kekuasaan. Pada jamannya, Arok adalah orang yang cukup demokratis dan visioner.... Bagaimana dengan jaman sekarang? Banyak yang berwatak Arok namun bukan demi rakyat dan persatuan melainkan untuk diri sendiri dan golongan...

Saat ini, bangsa kita memerlukan spirit integrasi ala Majapahit agar bisa kembali jaya dan mandiri baik secara budaya, ekonomi dan politik...

Subscribe to receive free email updates: