Jurnalisme Warga (Malang Raya) - Not Commercial Media - jurnalmalang@gmail.com

KENDURI APEM DALAM TRADISI BUDAYA AKULTURATIF JAWA "MEGENGAN" JELANG PUASA RAMADHAN

Ilustrasi / ig
Oleh: M. Dwi Cahyono
(Arkeolog dan Sejarahwan Nasional)

A. Tradisi Megengan dalam Budaya Islam Jawa

Puasa (saum) yang dijalankan sebulan penuh setiap bulan Ramadhan – varian sebutannya adalah Ramazan, Ramadhan atau Ramathan, yakni bulan kesembilan menurut kalender Islam -- boleh dibilang sebagai ‘momentum religis’ di dalam rutual Islam, yakni salah sebuah dantara lima Rukun Islam.

Sebagai momentum, maka terdapat ‘penyiapan khusus’ yang dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Umat muslim di berbagai negara mempunyai tradisinya masing-masing jelang memasuki ibadah bulan Ramadhan. Pria muslim di India menghias matanya dengan menggunakan kohl (semacam celak mata). Masyarakat muslim di Cina mempunyai tradisi unik yang dinamakan ‘Muqam’, yakni tari-tarian dan nyanyian yang dilaksanakan oleh muslim Kashgar. Umat muslim di Mauritana pada pesisir Atlantik di Barat Laut Afrika memlki tradisi meminum minuman khas, yakni teh hijau, sambil berkunjung ke setiap rumah dengan tujuan untuk menghidupkan ukhuwah Islamiyah. Di Arab Saudi ada tradisi membunyikan meriam Ramadhan di Mekah pada malam hari sebelum memasuki bulan puasa. Mesir memiliki tradisi penyambutan bulan suci Ramadhan yang dilakukan sejak Dinasti Fattimiyah dengan memasang ‘lampu tradisional Fanus’.

Tradisi jelang memasuki bulan suci Ramadhan juga terdapat di Indonesia. Malahan, memperlihatkan keragaman di daerah-daerah etnik. Pada warga etnik Jawa misalnya, tradisi yang dilakukan antara lain: (a) ziarah kubur (nyadran – berasal dari kata ‘sradha-an’), (b) megengan, (c) bermaafan, (d) pensucian diri dengan ritus mandi, (e) takbir keliling, (f) tabuh bedug bertalu (tidur), (g) dahulu membunyikan mercon (meriam) bumbung, (h) pawai obor, dsb. Megengan adalah sebuah diantara ragam bentuk tradisi jelang Ramadhan di Jawa. Sebutan lain untuknya adalah ‘Ruwahan’, dan ada pula yang menyebut atau mengkaitkan dengan ‘Punggahan’.

Megengan adalah kata jadian di dalam Bahasa Jawa. Terbentuk dari kata dasar (lingga) ‘megeng’ dan akhiran ‘an’. Kata ‘megeng’ tak didapati dalam kosa kata Jawa Kuna dan Tengahan, sehingga bisa jadi baru muncul pada Bahasa Jawa Baru. Menurut Prof. Dr. Nur Syam, secara lughawi kata ‘megengan’ berarti menahan. Misalnya ungkapan ‘megeng nafas’ menunjuk pada menahan nafas. Serupa dengan itu, ‘megeng hawa nafsu’ berarti menahan hawa nafsu.

Dalam konteks puasa, yang dimaksudkan dengan ‘menahan’ adalah menahan hawa nafsu selama bulan puasa. Secara simbolik, megengan menjadi penanda jelang memasuki bulan puasa, guna jalani kewajiban menahan hawa nafsu, baik terkait dengan makan, minum, seksual dan nafsu-nafsu lain.

Megengan adalah salah sebuah tradisi indigenous Jawa, sebagai persiapan khusus untuk memasuki bulan Ramadhan yang amat disucikan dalam Islam, dengan melaksanakan selamatan ala kadarnya. Malahan, ada yang mengadakan selamatan besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili, tetangga atau dikirim ke mushola/masjid untuk dikendurikan bersama. Tradisi ini biasa juga disebut ‘mapak’, dalam arti menyambut kedatangan bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Sebutan lain atau tepatnya yang terkait dengannya adalah ‘tradisi ruwahan’. Dikatakan ‘ruwahan’, sebab tradisi ini dilakukan di pertengahan ke arah akhir bulan Ruwah (bulan Sya’ban menurut tahun Hijriyyah). Bulan Ruwah adalah bulan ketujuh, penghubung bulan Rajab dan Ramadhan. Bagi para penganut tradisi Jawa, bulan Ruwah adalah ‘bulan penghormatan terhadap arwah leluhur’. Oleh karena itu, selamatan Ruwahan yang diselenggarakan sepuluh hari sebelum Ramadhan dimaksudkan sebagai pengengan, penghormatan dan pemanjatan doa bagi awah leluhur (ancestors worship). 

Menilik jeda waktunya, yaitu beberapa hari sebelum pelaksanaan Megengan, tradisi Ruwahan tak sama persis dengan Megengan. Namun, juga tak terpisahkan dengan tradisi Megengan. Mengingat bahwa Nisfu Sya’ban, yang biasa dilakukan di malam ke-15 bulan Sya’ban, adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan sekaligus penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Biasanya, isi hantaran tradisi Megengan di Jawa tidak meninggalkan tiga sajian makanan, yakni ketan, kolak dan apem. Dahulu pernah terdapat ‘mudik Ruwahan’ dan ‘pasar kaget bulan Ruwah’, lantaran pelaksaan tradisi Ruwahan hanya berselang satu minggu dengan bulan puasa (Ramadhan). Selain terkait dengan Ruwahan, tradisi Megengan berkait dengan ‘Punggahan’, yaitu ritus pasca  Megengan untuk menaikkan (istilah ‘unggah; berarti: naik) melalui doa dan syukur bahwa ‘mulai naik’ atau jelang memasuki bulan suci Ramadhan. Implementasi Megengan merujuk pada hikmah ‘penyiapan mental sebelum menempuh puasa di bulan Ramadhan’, dimana ketika itu kita diajarkan untuk saling bersodaqoh.

Varian istilah ‘Punggahan’ adalah yang dalam Bahasa Sunda dinamai ‘munggahan’, yaitu tradisi yan dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa dengan berkumpul bersama orang-orang terkasih untuk saling meminta maaf untuk persiapkan diri menuju bulan puasa yang suci. Serupa istilah namun beda kegiatan, di Banyumas terdapat tradisi  ‘perlon unggahan’. Dilakukan seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, dengan ziarah kubur ke makam Bonokeling tanpa alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng makanan khas Banyumas, dan diakhiri dengan makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi.

Lambat laun tradisi Megengan ditinggalkan, utamanya di perkotaan. Hal ini berlainan dengan di lingkungan pedesaan yang masih kental tradisi, dimana Megengan rutin dijalan setiap tahun sehari atau beberapa hari jelang Ramadhan. Bahkan kendati seseorang atau satu keluarga tak sepenuhnya jalankan ibadah puasa, namun Mengengan tetap dijalankan sesuai kosepsi budaya keagamaan yang diyakininya. Islam Jawa memang memiliki banyak tradisi khas dalam implementasi Islam. Dalam hal ini, tradisi Megengan merupakan salah satu tradisi khas, yang tak dimiliki oleh Islam di tempat lain. Megengan dilakukan dengan perayaan meriah. Antusias menyambut tibanya bulan Ramadhan yang penuh barokah. Suasana demikian ini dalam Bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepekan’, yang berlangsung dua kali: (a) jelang memasuki Ramadhan, (b) jelang memasuki Hari Raya Idul Fitri.

B.  Ragam Pendapat Arti Istilah dan Muasal Apem

Sejauh ini terdapat dua pendapat tentang daerah asal pengaruh penganan yang dinamai ‘apem’ di Nusantara. Pertama, mengasalkan kata ‘apem’ dengan istilah di dalam Bahasa Arab ‘afuan, afwan, affan atau afuwwun’, yang berarti maaf atau ampunan. Dalam konteks ini, apem dipandang sebagai simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Orang Jawa menyederhanakan kata Arab ini dengan ‘apem’. Tujuan penggunaaannya adalah agar masyarakat terdorong untuk selalu memohon ampun kepada Sang Pencipta. Lambat laun kebiasaan ‘membagi-bagi’ kue apem berlanjut kepada acara-acara selamatan menjelang Ramadhan.

Penganan berbahan dasar tepung beras ini menjadi kue yang wajib dihidangkan pada acara Megengan, dengan harapan warga pemegang tradisi ini menarik pelajaran dari kue Apem, yakni simbol permemohonan ampun kepada Sang Khalik atas perbuatan dosanya selama setahun lalu. Sebelum kue Apem dibagi-bagikan selepas sholat jama’ah Maghrib ataupun Isya’, para jama’ah lantunkan kalimat-kalimat tayyibah – dalam hal ini adalah tahlil dan istighosah, dengan harapan supaya dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan merasa tenang dan berlapang dada, sebab Allah memaafkan segala dosa yang telah mereka perbuat.

Benarkah penganan apem berasal dari Arab? Sebagai istilah untuk kuliner, ternyata di Arab tidak ada penganan yang disebut dengan nama serupa dengan sebutan ‘apem’. Kalaupun ada penganan sejenis apem, namun sebutannya adalah ‘khamir’, yakni kue khas Keluarga Arab yang enak bila disantap untuk sarapan atau camilan sore hari. Khamir dibawa ke Indonesia dengan rasa standar, Namun, seiring dengani berjalannya waktu, kue rumahan ini mengalami evolusi, sehingga sudah ada banyak rasa. Khamir berbentuk bundar, pipih, berwarna coklat, hampir menyerupai kue apem atau serabi, namun sedikit lebih besar dan bantet. Ukuran bervariasi, yang terbesar hingga sebesar lingkaran piring makan. Yang terkecil seukuran lingkaran mangkok. Ukuran itu tergantung pada pemesannya. Cara pembuatannya tidaklah menyerupai kebanyakan pembuatan apem di Indonesia. Selain itu, khamir tidak disajikan sebagai makanan khusus pada ritus jelang puasa Ramadhan. Oleh karena itu, penghubungannya dengan pengamanan apem dalam tradisi Megengan hanyalah 'otak-atik-gatuk (tak-tik-tuk)' pada segi istiah.

Berbeda dengan pendapat kedua, yang mengasalkan apem dari India, dengan nama ‘appam’. Suatu nama yang amat dekat dengan sebuatan penganan di Indonesia, yaitu ‘apem’. Appam adalah suatu penganan tradisional tepung beras atau sejenis panekuk yang dibuat dengan adonan nasi fermentasi yang didiamkan selama semalam, dengan mencampurkan telur, santan, gula dan tape serta sedikit garam, kemudian dibakar atau dikukus. Selain dicampur dengan santan, terdapat juga appam yang mempergunakan susu sapi sebagai pengganti santan. Bentuk dan rasa appam praktis sama dengan yang ada di Indonesia atau di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Bentuknya serupa serabi, tapi lebih tebal. Appem biasa disantap dengan kari ayam atau ikan, atau saus bumbu pedas yang mirip dengan sambal, dan paling sering dimakan untuk sarapan atau makan malam. Cara pembuatannya juga banyak memperlihatkan persamaannya dengan di Indonesia.

Appam bermula dari India Selatan, yakni dari daerah Kerala dan Tamil Nadu. Penganan ini telah dikenal semenjak abad pertama Masehi di daerah Tamil, sebagaimana diberitakan dalam literatur Tamil Sangam. Appam adalah makanan yang umum di Kerala, Tamil Nadu dan Sri Lanka, yang dianggap sebagai makanan pokok dan sinonim budaya dengan nasranis dari Kerala. Ahli sejarah makanan KT Achaya menyatakan bahwa appam disebut dalam ‘Perumpanuru Tamil’, yang sudah mapan di negara-negara Tamil kuno (sebagian besar India Selatan sekarang). Dengan demikian, appam pertama kali muncul di ujung selatan India.

Sebutannya di daerah Tamil adalah ‘aappam’, di Malayalam dinamai ‘appam’, di Tulu disebut ‘aapa’, dan di Srilangka mumpunyai nama ‘appa’. Sedangkan di Oriya sebutannya ‘chitau pitha’, di Kodava diistilahi ‘paddu atau gulle eriyappa’, dan Burma disebut ‘tunda’. Terdapat banyak varian dari appam, seperti plain appam (vella appam) pada Keralla Selatan-Tengah, palappam, kallappam, gerbong telur, honey hoppers, diyappam, idiyappam paaya, achappam, kuzhalappam, meyyappam, unni appam, appakaram, pesaha appam, vattayappam dan kandarappam. Sebutannya di Indonesia adalah ‘apem’, yang menunjuk kepada penganan tradisional dari tepung beras dan santan berbentuk seperti mangkok /piring kecil dan tipis yang sangat populer diseluruh Indonesia dan Asia Tenggara.

Banyak sekali variasi atau dressing kue apem, Bahkan, tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Beberapa daerah menggunakan kinca (saus), yang biasanya terbuat dari gula Jawa dan tepung. Beberapa variasinya menggunakan tambahan durian. Apem juga bisa disantap begitu saja, atau menggunakan dressing kelapa parut dan gula pasir. Di daerah Cirebon, apem biasa dimakan dengan gorengan tempe (oncom), dibuat berlapis seperti burger. Gorengan tempe atau oncom diletakkan di tengah, diapit dengan dua lembar apem, yang disantap dengan cabe rawit segar. Variasi lainnya adalah apem khas betawi yang manis rasa dan memiliki bagian tepi yang renyah (crispy).

C. Muasal Apem dalam Konteks Difusi Budaya Islam

Paparan diatas menegaskan bahwa apem berasal dari India, khususnya India Selatan. Oleh karena istilah ‘apem, appam dan serabi’ tidak didapati dalam kosa kata Jawa Juna ataupun Tengahan, ada kemungkinan appam baru memasuki Nusantara sekitar Masa Perkembangan Islam, yakni seiring penyebaran (difusi) budaya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh para migran India-Muslim, yang dalam lidah Jawa dinamai ‘Wong Keling’ – ada sejumlah ‘kampung (kampong, gampong) Kling’ di Indonesia. Hal ini juga terdukung oleh adanya pengaruh kuat Islam dari negeri Persia-India pada periode awal Islamisasi Jawa pada Masa Kewalian hingga dua atau tiga abad berikutnya. Pengaruh budaya India ke Nusantara yang sebelumnya berlatar agama Hindu-Buddha, lambat-laun berganti dengan pengaruh Islam, sejalan dengan perkembangan Islam di India sejak masa Kasutanan Dehli (1206-1526) dan Mughal (1526-1857), atau bahkan hingga dua abad sebelumnya – sebagaimana terbukti dalam nisan Fatimah Binti Maimun di situs Leran berbahan marmar asal Cambay (India pantai barat di sekitar Teluk Gujarat, yang mengahap ke Laut Persia) dengan tarikh meninggal 12 Rabiulawal 475 Hijriyah (1082 Masehi). Boleh jadi, Appam masuk ke Nusantara dibawa pedagang India-Muslim asal Gujrat atau khususnya asal India Selatan.

Acapkali tradisi budaya Islam Nusantara yang ‘kreatif-akulturatif’ dipendapati sebagai buah cipta  dari Walisanga, khususnya oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Tentu pendapat itu baru sebatas dugaan, berdasarkan pemikiran bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa kebanyakan datang dari pemikiran Sunan Kalijaga. Apabila benar bahwa tradisi Megengan berawal dari atau semasa Sunan Kalijogo, berarti tradisi ini konon djadikan sebagai ‘wahana siar Islam’, seperti halnya pada tradisi Sekaten. Megengan mensiasati lewat ‘pembelokan’ atau tepatnya pemberian ‘nafas Islami’ terhadap tradisi Ruwahan yang ada lebih awal, antara lain dengan mengubah ‘sesajian (sajen)’ menjadi ‘shodaqoh makanan’ – khususnya penganan apem, yang menjelang tibanya puasa Ramadhan dipertukarkan, dibagikan atau kenduri bersama.

Apem dalam tradisi Megengan dengan demikian adalah bukti sejarah mengenai awal Islamisasi di Nusantara, khususnya di daerah pedalam, yang kala itu masih memiliki tradisi pra-Islam terbilang kuat, seperti slametan, sadranan, pensucian diri dengan media air (diksa air), pantang makan dan minum untuk kurun waktu tertentu (tapa), dsb. Sebagai penganan, mulanya apem hanya dijadikan sebagai salah satu kelengkapan di dalam kenduri, namun kemudian mengalami spesifikasi menjadi ‘slametan apem’ pada tradisi Megengan. Model siar Islam di India yang akulturatif terhadap anasir budaya pra-Islam setempat dipandang sebagai ‘model siar Islam yang tepat-guna’ di Jawa kala itu, baik pada Masa Keemasan ataupun Akhir Majapahit.

Megengan merupakan salah sebuah tradisi budaya Islam di Jawa. Sebagai tradisi, Megengan telah berlangsung ‘lintas generasi’, dengan wujud relatif tetap untuk daerah bersangkutan. Namun, di Jawa tradisi ini tak selalu sama di setiap daerah. Masing-masing daerah bahkan memiliki keunikan tersendiri, meskipun secara umum diwujudkan dalam ‘upacara selamatan’ khas Jawa, dimana tiap-tiap kepala keluarga mengundang tetangga untuk berkenduri (slametan atau kenduren) sembari menikmati pasugatan (sajian) makanan yang telah disiapkan dan dengan mekanisme doa dipimpin oleh seorang imam terdipilih. Penganan yang menjadi ciri khas atau simbol tradisi ini adalah apem. Tradisi Megengan dijadikan sebagai ‘ajang silaturrahim’, dengan membagikan kue apem sebagai simbol permintaan maaf antar sesama Muslim jelang memasuki Bulan Suci Ramadhan. Cukuplah alasan untuk menyatakan bahwa tradisi Megengan adalah produk ‘akulturasi antara budaya lokal Jawa dan budaya Islam’, yang intinya mengingatkan bahwa sebentar lagi bakal memasuki Bulan Suci Ramadhan sebagai ‘Bulan Berpuasa’.

D. Ragam Tradisi Jelang Ramdhan

Tradisi jelang Ramadan merupakan fenomena jamak di Nusantara, bukan hanya terdapat di Jawa. Pada masyarakat muslim di Karang Asem (Bali) misalnya, tradisi menjelang Ramadhan dinamai ‘Magibung’, yatu makan bersama diselingi dengan obrolan ringan. Kemeriahan jelang Ramadhhan tergambar pada ‘padusan’, yang kian lama kian banyak dilakukan di berbagai tempat, yaitu suatu cara yang dipercaya bisa ‘menyucikan diri’ dengan mandi atau berendam di laut atau pada sumber air yang dianggap keramat.

Di Riau ada menjelang Ramadhan dihelat pesta rakyat dengan beramai-ramai memenuhi tepian sungai guna melihat perlombaan dayung yang disebut dengan ‘Jalur Pacu’ dan diakhiri dengan ‘tradisi Balimau Kasai’, yaitu bersuci diri jelang matahari terbenam hingga malam. Sementara, orang Betawi melakukan kegiatan ‘nyorog’, yakni tradisi pada tiap memasuki Ramadhan dengan ‘membagikan bingkisan’ kepada anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan  suci Ramadhan. Biasanya dilakukan orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua sembari meminta restu bagi kelancaran ibadah puasanya selama satu bulan mendatang.

Warga muslim di Minangkabau melakukan ‘malamang’. Sesuai pola "matriarkhat" di ranah Minang, tradisi ini dilakukan oleh kaum ibu-ibu, terkait dengan ajaran dari Syech Burhanuddin dalam bentuk memasak lemang, yakni makanan khas dari adonan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Selain itu di Minangkabau dilaksanakan tradisi “Balimau’, yakni mandi dengan jeruk nipis untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.

Kemeriahan jelang memasuki Ramadhan juga tergambar dalam tradisi ‘Dugderan’ di masyarakat Semarang, yang telah dilakukan sejak tahun 1881. Perhelatan rakyat ini diisi dengan tari-tarian, karnaval, tabuh bedug, utamanya mengarak ‘Warak Ngendong’ yang menjadi simbol acara. Pada ujung barat Indonesaia, yaitu Aceh, diselenggarakan tradisi ‘Meugang’ – mempunyai kemiripan sebutan dengan ‘megeng-an’ di Jawa namun dengan kegiatan yang berbeda, yaitu tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terkasih dan yatim piatu, mirip dengan Idul Adha dimana masyrakat beramai-ramai menyembelih kurban berupa kambing atau sapi. Di Kudus tradisi jelang Ramadhan diisi dengan ‘Dandangan’, sudah ada sejak 400an tahun lalu (era Sunan Kudus), dalam bentuk pasar malam yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga.

Adapun di Banyumas terdapat tradisi ‘Perlo Unggahan’, bentuk ziarah kubur seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Pelaku upacara diharuskan lepas alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng (makanan khas Banyumas), dan diakhiri dengan makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi. Serupa itu, di Palembang dilakukan ‘Ziarah Kubro’, yaitu ziarah ke makam para leluhur dan ulama. Adapun di Makasar diselenggarakan tradisi ‘Suro’ baca’ di kalangan suku Bugis pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sd H-1 Ramadhan dengan makan bersama sekaligus silahturrahmi. Biasanya diisi dengan doa bersama dan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur. Bentuk pensucian diri di Surabaya adalah dengan memakan kue apem, dan tak kalah pentingnya adalah melakukan ‘nyadran’, yakni ziarah kubur jelang bulan puasa Ramadhan, yang diisi membersihkan makan, tabur bunga, bahkan kenduri di makam leluhur.

Demikianlah tulisan bersahaja ini dibuat sebagai tambahan khasanah pengetahuan kepada publik, berkenaan dengan ‘tradisi budaya Islam’ yang diselenggarakan jelang Ramadan. Selah satu tradisi itu, yang menjadi fukus telaah ini, adalah ‘Tradisi Megenggan’, dengan penganan apem sebagai oborampe kuliner yang khas. Semoga membuahkan kefaedahan. Selamat tunaikan ‘Hari Perdana Saum Ramadhan 2017’. Wassalamu’alaikum WR. WB.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 26 Mei 2017
(Sumber tulisan: m dwi cahyono)

Subscribe to receive free email updates: