Sejarah MALANG Era SINGOSARI / 1222 - 1292 (Bagian 3)

Pada bagian sebelumnya telah kita ulas lengsernya Tunggul Ametung dan jatuhnya Pakuwuan Tumapel ke tangan pelopor kudeta, ken Arok atas restu Biarawan dan para pemuka Syiwa. Juga bagaimana kemenangan yang diraih 'Gnaro Ngalam' dalam perang pembalasan Dandang Gendis yang menewaskan panglima Tentara Panjalu Mahisa Wulungan di Ganter, yang mengakhiri sentralisasi kekuasaan di Daha. Malang (Tumapel) pun menjadi negeri merdeka.
Candi Singhasari, Peninggalan Kerajaan Singhasari abad 13 masehi

Candi Jajaghu atau Candi Jago Peninggalan Singhasari abad 13

Setelah memastikan kondisi stabil, aman dan supremasi politiknya kokoh, penguasa baru Sang Rajasa membangun pemerintahan yang kuat setingkat kerajaan. Pada mulanya kekuasaan ini disebut Kerajaan Tumapel namun berdasarkan banyak literatur sejarah, secara umum pemerintahan ini lebih dikenal sebagai kerajaan Singhasari, yang mula-mula beribukota di Kutaraja (Sekarang daerah sekitar Kelurahan Kota Lama Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang). Kawasan ini memang stategis untuk pusat kekuasaan karena dekat dengan perlintasan Kali Brantas yang selain untuk pertahanan juga untuk lalulintas dagang dan tentara. Saat ini sungai Brantas sudah makin sempit dan dangkal.

Raja Malang, Ken Arok yang berani dan tangguh harus diakui mampu menaklukkan kekuatan terbesar Jawa waktu itu (Kertajaya) dan berhasil membangun pemerintahan sendiri, namun pada akhirnya juga tumbang oleh orang dalam istana dengan cara yang sangat tragis. Anusapati, putra mendiang Tunggul Ametung yang, setelah dewasa akhirnya tahu bahwa Baginda Raja merupakan ayah tirinya, yang membunuh ayah kandungnya melalui kudeta berdarah. Akhirnya pada suatu hari dia membalas dendam, membantai Ken Arok hingga tewas. Konon senjata yang digunakan adalah Keris Mpu Gandring. Maka tamatlah riwayat sang perintis besar ini. Untungnya Ken Arok memiliki anak lelaki dari istri sebelumnya (Ken Umang) dan seorang anak lain lagi yang dikandung ken Dedes.

Ken Arok berkuasa dari tahun 1222 hingga akhir hayatnya tahun 1247.

Kendali kerajaan diambil alih oleh Anusapati, namun dia berkuasa hanya dua tahun antara tahun 1247-1249. Karena pembunuh Ken Arok ini sudah lama menjadi target balas dendam dari Tohjaya. Tohjaya merupakan putra Arok-Umang yang usianya kurang lebih sama dengan dengan Anusapati. Dia lalu membunuh sang Raja Anusapati, dalam beberapa riwayat, menggunakan keris Mpu Gandring.

Tohjaya langsung mengambil alih kekuasaan, marak menjadi raja tahun itu juga, meneruskan karir ayahandanya. Akan tetapi Tohjaya harus hati-hati karena Anusapati memiliki anak lelaki yang bernama Rangga Wuni. Maka pada menjelang akhir kekuasaannya yang seumur jagung dia sempat ingin menghabisi keponakannya tersebut melalui seorang yang bernama Lembu Ampal namun rencana itu gagal, justru menjadi blunder. Ranggawuni kian waspada dan ketika dinamika politik Tumapel goncang dia melakukan pemberontakan. Mayoritas panglima militer mendukung gerakannya. Akhirnya Ranggawuni berhasil membalaskan dendam almarhum ayahnya Anusapati. Tohjaya pun akhirnya tewas dalam pelarian ke pedalaman desa Katang Lumbang.
Tohjaya hanya berkuasa setahun (1249-1250).

Ranggawuni alias Wisynuwardhana yang sudah memiliki pengalaman militer dengan mudah mengambil alih kekuasaan. Dia marak dengan gelar Wisynuwardhana tahun 1250. Namun raja baru ini tidak bisa tidur nyenyak karena hasil Perkawinan Ken Arok-Ken Dedes memiliki anak juga yaitu Mahisa Wonga Teleng dan cucu yang seumuran dia yang bernama Mahisa Cempaka. Kekuasaan Malang kala itu benar-benar diintai pembunuhan berantai.
Sebagai usaha untuk menghindari pembantaian yang beruntun ini, Ranggawuni mengajak Mahisa Cempaka untuk ikut berkuasa dan menjaga stabilitas. Rupanya strategi kompromis ini berhasil. Ranggawuni berkuasa cukup lama dan aman.

Ranggawuni mempersiapkan pemindahan ibukota dari Kutaraja (kota lama) ke Singhasari (kawasan Malang utara) tahun 1254. Saat bersamaan dia juga mengkader putranya, Kertanegara yang masih muda, sebagai calon penerus raja Singosari yang sah. Ranggawuni berkuasa hingga tahun 1272 dengan aman sentosa. Tahta Singhasari dilanjutkan oleh anaknya, Kertanegara, yang bergelar Sri Kertanegara Jayawardhana.

Kertanegara menjadi raja yang paling masyhur dalam kekuasaan keraton Singhasari. Ini bisa dimaklumi karena dia dikader langsung oleh ayahnya yang sangat berpengalaman dan lama berkuasa. Dia juga melanjutkan tradisi konsensus keluarga, dengan merangkul dekat keluarga turunan Arok-Dedes. Padahal kita tahu bahwa dia sendiri merupakan turunan Tunggul Ametung-Ken Dedes.

Bila ayahnya (Ranggawuni / Wisynuwardhana) menikahi Jayawardhani putri dari Wonga Teleng (anak sulung Arok-Dedes), dia sendiri menjodohkan beberapa putrinya dengan Raden Wijaya (cicit ken Arok-Dedes), salah satunya adalah Gayatri. Kertanegara lah yang mulai membesarkan kekuasaan Singhasari, memperluas pengaruh lintas pulau, mulai dari ekspedisi pan-Malayu, Malaka hingga Bali. Dia juga mulai mencetuskan persatuan menjaga perairan Jawa dari kekuasaan asing, yang memancing ambisi imperium digdaya dari Tiongkok, dinasti Yuan atau Monggol. Maharaja Kubilai Khan lalu mengirim pesan melalui utusan menghadap raja Kertanegara Singhasari mau tunduk pada Monggol.

Namun Raja Singhasari menolak bahkan menantang arogansi kekuasaan penerbus Jhengis Khan tersebut. Tak tanggung-tanggung, Maharaja Monggol, Kubilai Khan, langsung mengirim puluhan ribu armada tempur terkuat yang dimilikinya untuk membumi hanguskan Singhasari. Pada waktu itu Kertanegara sedang sibuknya mengoordinir ekspedisi lintas pulau, lalu pada saat yang sama terjadi pemberontakan dari musuh lama.

Rupanya, keturunan dari mantan Raja besar Kertajaya yang bernama Jayakatwang, yang oleh raja Singhasari diberi mandat untuk berkuasa di wilayahnya, masih menyimpan dendam dan ambisi untuk merebut kembali kejayaan masalalu tanah Panjalu yang berpusat di kota Daha. Momentum pemberontakannya sangat tepat, ketika negeri Malang dan Kertanegara tengah memecah konsentrasi untuk perluasan wilayah apalagi setelah berhasil menaklukkan Bali tahun 1284 dan daratan Melayu bersatu dengan Singhasari tahun 1286. Namun Singhasari secara internal menjadi lemah. Ini dimanfaatkan secara baik oleh Jayakatwang yang sejak lama diam-diam membangun kekuatan militer.
Pecahlah pemberontakan dari klan raja Panjalu dari Daha yang hanya dikenal sebagai penguasa kadipaten Gelang-Gelang. Mula-mula dia mengirim pasukan dari utara untuk mengacaukan istana, ketika tentara Singhasari terpusat di utara, datang balatentara yang dipimpin Jayakatwang sendiri dari selatan. Maka dengan mudah raja besar Kertanegara tewas. Tahun 1292, usai sudah masa kejayaan Kerajaan Singhasari. Runtuh kembali ke tangan Panjalu. Semua rencana integrasi berantakan dan elit kekuasaan Singhasari yang tersisa menyelamatkan diri.

Sementara itu, sebuah armada perang yang sangat besar kiriman Monggol untuk membumihanguskan Kekuasaan Kertanegara tengah melintasi samudra, mereka tidak mengetahui bahwa di Singasari baru saja terjadi perpecahan yang menewaskan Kertanegara...

Karya Seni Singhasari 13 M koleksi  Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem. Menunjukkan kehebatan seni ukir pada era Singhasari.






Subscribe to receive free email updates: