PALEO-EKOLOGIS SUB-AREA BARAT KOTA MALANG

Ilustrasi : Dwi Cahyono pada sebuah acara di Candi Jajaghu / sumber facebook Nugroho Wibisono
Salah Sebuah Data Masa Lampau untuk Rekonstruksi Historis 
Oleh : Dwi Cahyono (Arkeolog, Peneliti & Dosen UM)

A. Gunung, Sungai dan Permukaan Tanah
Karangbesuki dan Merjosari adalah dua desa bertetangga yang dipisahkan oleh aliran Metro. Karangbesuki berada di seberang selatan dan Merjosari terletak di seberang utaranya. Kendati terpisah oleh sungai bertebing curam dan cukup lebar, namun hubungan diantaranya terjalin semenjak lama.

Jembatan kuno berbahan kayu dan bambu konon boleh jadi telah dibuat di sejumlah tempat melintas Kali Metro. Pilihan tinggal di DAS Metro antara lain mempertim-bangkan kesuburan tanahnya untuk pertanian. Lembah Metro mempunyai struktur tanah yang mengandung unsur alluvial (Juniarti, 1993) berwarna kelabu dan asosiasi latosol coklat keme-rahan dengan sifat fisik cukup baik dan subur. Selain itu memiliki lahan erosi, sehingga cukup baik untuk budidaya pertanian (Herlambang, 1993). Pertimbangan lain untuk memilih sub-area ini sebegai areal permukiman adalah kemudahannya mendapat pasokan air bersih bagi beragam keperluan.

Karangbesuki dan Merjosari berada di lembah timur G. Kawi dan aliran Kali Metro. Dalam kitab Tantupanggelaran, yang ditulis pada Akhir Majapahit, Kawi dinyatakan sebagai salah satu gunung suci (holly mountain) di Jawa . Panderman di Batu dan Kab. Malang bagi-an barat adalah anak dari G. Kawi, yang juga dikonsepsikan sebagai gunung suci. Tuk (mata air) Kali Metro berada di lereng timur Panderman, tepatnya Dusun Princi Desa Gading Kulon Kec. Dau Kab. Malang. Oleh karena tuk nya berada di bukit suci Panderman, maka diyakini sebagai sungai suci (holly river). Kesuciannya tercermin pada namanya, yakni “Metro”, yang berasal dari “mreta (maut, kematian)”, atau lengkapnya adalah “a+mreta (amreta)” (Meulen, 1976:451), artinya tak mati (hidup) atau abadi. Toponimi “Merojoyo” sebagai nama dusun di lembah Metro pada sub-area barat kiranya berkait dengan konsep amreta, yang kemungkinan berasal dari perkataan “[a]mreta dan jaya”  mretajaya mertojoyo.

Air amreta padan arti dengan tirtha nirmala, toya pawitra, amreta sanjiwani, tirtha-kamandalu. dsb. (Atmodjo, 1981:16), yakni cairan yang mensucikan sekaligus melimpahkan kehidupan yang kekal dan kebahagiaan yang abadi. Air di Kali Metro diyakini sebagai air suci (tirtha), bagai amreta. Kali Metro ibarat ‘Silu’ Gangga, sungai yang suci lantaran ber-tuk di Himalaya yang suci. Bukan hanya sungai dan gunungnya yang suci, namun bentang geografis dari puncak, lereng hingga lembahnya dipandang suci. Itu sebabnya mengapa Candi Badut dan Gasek dibangun di lembah Metro, yang di tempat ini berkelok dari barat menuju ke selatan. Selain dua candi tertua di Jawa Timur ini, ada sejumlah bangunan suci lain, baik candi ataupun patithan (kolam suci), yang berada di DAS Metro.

B. Bangunan Suci dan Permukiman Kuno
Menurut R. Pitono (1961), pemilihan lembah sungai sebagai tempat untuk mendirkian bangunan suci didasari oleh sudut pandang religio magis. Sejalan dengan itu, R. Soekmono (1974:330) mengemukakan bahwa suatu tempat dianggap suci karena potensinya sendiri. Sesungguhnya, yang menduduki tempat pertama adalah tanahnya. Umumnya – seperti halnya di India, kuil cenderung dibangun berdekatan dengan perairan (Kramrisch, 1946:3-4). Keberadaan Kali Metro juga menjadi pertimbangan untuk melokasikan kadatwan Kanyuruhan di seberang selatan-barat alirannya. Ditilik dari sudut padang kemiliteran, sungai yang curam dan lebar ini tepat dimanfaatkan sebagai barier alam ubtuk melindungi ibukota terhadap serangan musuh yang berasal dari arah utara dan timur.

Permukaan tanah di Karangbesuki lebih tinggi daripada Merjosari, kerenanya terbebas dari kemungkinan luapan air bah Kali Metro. ‘Gasek’ sebagai nama dusun di Karangbesuki, memberi indikasi demikian. Kata “gasek” berarti kering. Sementara Merjosari, yang berada dekat dengan “telaga purba” Tlogomas, dengan permukaan tanah yang lebih rendah, berpotensi terkena genangan, khususnya pada musim penghujan. Kendati demikian, bukan berarti bahwa areal Merjosari musti dihindari untuk lokasi tinggal. Bagi warga setempat di masa lampau, air diposisikan sebagai unsur lingkungan penting untuk bercocok tanam ataupun keperluan rumah tangga. Konsekuensinya adalah mustilah dikembangan formula adaptasi terhadap lingkungan keairan, seperti membuat salurun air bawah tanah (arung), rumah berpanggung atau memilih lokasi tinggal di areal tertentu pada suatu bentang lahan dengan topografis bergelombang yang tidak gampang terkena gegenang air.

Ada indikasi bahwa bercocok tanam telah mulai dilakukan di Merjosari sejak Jaman Prasejarah. Dalam kaitan dengan kepentingan agrarisnya, air dari sungai suci Metro maupun anak-anak sungainya bukan hanya penting bagi ritus keagamaan, namun air yang dikonsepsikan sebagai “air kesuburan (trithamreta)” ini berguna pula untuk menyuburkan tanaman. Oleh karena itu bisa dimengerti bila lembah Metro terpilih sebagai areal hunian dan persa-wahan. Tinggalan arkeologis yang berupa lumpang batu (stone mortar) di berberapa tempat di wilayah Kelurahan Merjosari memberi petunjuk bahwa konon warga setempat berpenca-harian pokok sebagai petani lahan basah.

Pada abad VIII dan beberapa abad sesudahnya, bisa jadi masih terdapat “telaga purba” di wilayah yang kini bernama Telogomas. Toponimi “Telogomas”, yang artinya Telaga Emas, menyiratkan gambaran peleo-ekologinya sebagai areal yang mempunyai genanganan air cukup besar, menyerupai telaga. Telaga puba ini adalah sisa Danau Purba Malang, yang menggenangi suatu bentang geografis dengan topografi bergelombang. Disamping itu, daerah ini dilintasi oleh sejumlah sungai, seperti Kali Metro, Brahala, Brantas beserta anak-anak sungainya. Untuk keperluan agraris dan kebutuhan rumah tangga, air dari sungai dan telaga ini amat dibutuhkan. Permukiman kuno di pusat watak Kanuruhan, oleh kerenanya cenderung berada di sekeliling telaga purba Tlogomas, sehingga kehidupan masyarakat di pusat watak Kanuruhan ini cukup alasan untuk disebut “hydrolic society”.

Kata “mas” dalam ‘Telogomas’ bisa menunjuk: (1) kata benda, yang berarti emas, atau bisa juga merupakan (2) kata kiasan dalam arti indah. Jika menunjuk pada logam mulia, yaitu emas, maka bisa dibanyangkan bahwa tanah di daerah ini mengandung emas. Kandungan emas darinya tak musti diartikan bahwa lingkungan alamnya mengandung mineral emas. Bisa jadi, butiran lembut emas itu berasal dari perhiasan atau artefak kuno berbahan emas di dalam tanah, yang mengalami keausan lantas terurai menjadi butiran-butiran emas.

Berita tentang penemuan emas budo oleh warga setempat sering menyeruak. Yang tak kalah menariknya adalah hingga 1960an masih terdapat aktifitas warga yang mendulang emas pada persawahan berair di utara jalan poros antara Pasar Dinoyo - Perumahan Tatasurya. Lebih belakangan, yakni hingga tahun 1980an, ketika hujan tiba warga setempat acap menempatkan magnit di galengan sawah atau di selokan berjeram kecil. Jika beruntung, didapatkan butiran-butiran emas lembut yang menempel magnit. Kemungkinan adanya butiran emas yang terurai di Tlogomas dan sekitarnya, yang muasalnya dari perhiasan kuno yang telah aus bisa difahami, mengingat bahwa dalam kurun waktu panjang (sekitar abad X-XV M) daerah ini menjadi pusat pemerintahan Watak Kanuruhan. Berarti merupakan permukiman ramai pada suatu perkotaan kuno. Diantaranya tinggal orang-orang berada yang memiliki kemampuam untuk mengoleksi logam mulia sebagai perhiasan.

Bangunan berpanggung adalah jenis arsitektur yang relevan dengan areal yang rentan tergenang air, yakni debit pasang di musim penghujan dan sebaliknya surut di musim kemarau. Tinggalan arkeologi berupa pelandas tiang (umpak) dari batu andesit menyerupai waditra gong di Cungkup Watu Gong adalah jejak ter-tinggal berkenaan dengan bangunan berpanggung Jaman Prasejarah . Konstruksi rumah panggung terus digunakan hingga Masa Hindu-Buddha. Umpak di Punden Candri dahulu juga merupakan pelandas tiang bangunan berpanggung Masa Hindu-Buddha, yang letaknya tidak terlampau jauh dari lokasi telaga purba Tlogomas.

Desa Tlogomas diapit oleh dua buah sungai, yaitu Brantas pada sisi utara dan Metro di sisi selatan dan barat. Selain kedua sungai besar ini, terdapat sejum-lah kali kecil, yang konon berfungsi untuk irigasi ataupun drainase. Tempat yang diapit dua sungai sejak dulu dipandang penting. Doab misalnya, diapit Sungai Jumna dan Jamuna, dua sungai cabang dari Silu Gangga. Tempat demikian terdapat di Bali. Contohnya Badahulu (Bedulu), padamana terdapat banyak tinggalan arkeologi lintas masa. Serupa itu terdapat di apitan Kali Opak dan Elo, dimana Candi Brodudur, Mendut, dan Pawon berada. Daerah demikian bukan hanya diyakini sebagai suci, sekaligus strategis untuk beragam keperluan. Pada masa selanjutnya posisi strategis Tlogomas, Dinoyo dan Ketawang Gede dikuatkan oleh adanya jalur darat utama, menghubungkan pusat pemerintahan kerajaan Singhasari di timur dan Kadiri (Panjalu) di bagian barat.

Berkenaan dengan instalasi drainase, di sub-area barat didapati jejak lama yang berupa saluran air pada permukaan tanah (weluruan) dan di bawah permukaan tanah (arung). Ujung terowongan air (arung) cukup banyak dijumpai di lereng Brantas dan Metro. Fungsinya untuk mematuskan air yang mengantong di cekungan tanah di musim penghujan untuk dialirkan ke sungai. Beberapa arung hingga kini masih berfungsi, seperti di utara situs Karuman dan utara DITAS (Dinoyo Tanah Agung Squere). Arung yang disebutkan terakhir berasal dari Kampung Urung-urung menuju aliran Brantas (± 500 m). Kata kuno “arung” kemudian berubah menjadi “urung atau urung-urung”. Jejak arung acapkali diketemukan tanpa sengaja. Misalnya, ketika penggalian fondasi Pasar Donoyo pada tahun 1980-an dijumpai dua buah arung yang mengarah ke Brantas. Pada awal tahun 2012 di dekat perumahan Politeknik di Merjoyo, secara tidak sengaja ditemukan arung yang mengarah ke Kali Metro.

C. Penutup
Demiikianlah gambaran sekilas mengenai lingkungan kuno (paleo-ekologi) di sub-area barat Kota Malang, yaitu pencitraan tentang lingkungannya pada Jaman Prasejarah dan Masa Hindu-Buddha. Dalam banyak hal, gambaran sebagaimana telah dipaparkan jauh berbeda dengan kondisinya pada masa sekarang. Utamanya setelah daerah ini dijejali oleh para pendatang baru, seiring dengan menculnya sub-area barat Kota Malang sebagai aglomersi sejumlah kampus.

Untuk kepentingan telisik sejarah, gambaran paleo-ekologis amat penting artinya. Menafsir guna membuat rekonstruksi terhafap perstiwa massa lalu dengan memakai data (infornasi) kekininian dengan semena-mana -- termasuk juga data ekologi, dapat menimbulkan bias sejarah. Oleh karena itu, sebelum rekonstruksi itu dilakukan, ada baiknya dicari dan ditemukan gambaran paleo-ekologisnya, yang konon menjadi 'ajang (space, area)' terjadinya peristiwa di masa lalu.

Semoga tulisan ringkas ini membuahan kegunaan.
Salam budaya 'Nusantarajayati".
Nuwun
PETEMBAYAN CITRALEKHA, 3 Oktober 2016
(Sumber Dwi Cahyono).

Subscribe to receive free email updates: