Pelopor Jurnalisme Warga (Malang Raya, Jawa Timur)

Polling Pilkada MLG_KAB 2020 [One Phone One Vote]

Menarasikan Wanasrama Relief Partayajna di Teras II Candi Jajaghu: Upaya Menelisik Muasal Nama "Tumpang"


Menelisik Muasal Nama "Tumpang" (Sejarah awal [Desa/Kecamatan] Tumpang, Kabupaten Malang -red)

Oleh: M. Dwi Cahyono

(Arkeolog / Sejarahwan Nusantara)

Apalah arti sebuah nama? Mengapa suatu.tempat diberi nama tertentu? Sudah barang tentu, bukan tanpa pertimbangan nama itulah yang disematkan kepadanya. Makanya, janganlah menganggap "kosong" arti  dari sebuah nama. Warga setempat sekarang, yang hidup berjeda waktu amat panjang dari waktu pemberian nama itu, tak jarang berkhtiar untuk memberikan eksplanasi (penjelasan) mengenai dasar pertimbangan atau alasan terhadap pemberian namanya, yang meski acap menggelincirkannya pada prakiraan yang kurang berdasar. Contoh kasus demikian juga terjadi pada penjelasan awam atas penamaan Desa/Kecamatan "Tumpang".

Pada "Literasi Singhasari I" di bulan September 2016 antara lain dilakukan kunjungan situs ke Candi Jajaghu (kini populer dengan sebutan "Jago"). Pada situs ini, saya menarasikan relief cerita Parthayajna pada teras II sisi belakang, yang menggambarkan tentang suatu kompleks arsitektur berupa "wanasrama (asrama di dalam hutan)" dari suatu mandala atau karsyan, yang pada relief tertelaah merupakan bangunan khusus untuk para pertapa wanita (kili, tapasi, atau tapini). Partha (nama muda Arjuna) dan dua punakawan yang mengiringinya sempat singgah dan bermalam ketika dalam perjalannya untuk bertapa di Gunung Indrakila. 

Uniknya, secara arsitektural bentuk atap dari bangunan yang berada di titik sentrum pada kompleks wanasrama itu adalah "meru (sebutan kuno terhadap Gunung Himalaya" atau dinamai  juga dengan "tumpang". Atap tumpang dibuat bersusun, yang semakin keatas makin mengecil, dan pada umumnya berjumlah gasal (ganjil, yaitu 3 s.d. 11 susun). Bentuk atap  candi yang demikian ini banyak hadir pada bangunan-bangunan suci (baca "candi") Hindu ataupun.Buddhis dari era Majapahit (abad XiV-XVI Masehi).

Pada bangunan tersebut bahkan dibuat berdusun sebelas, yang pada bangunan suci pura di Bali hanya boleh dikenakan untuk pura utama kategori "kahyangan jagad". Bentuk atap pada arsitektur ini acap dipendapati sebagai gambaran mengenai bentuk atap dari Candi Jajaghu -- yang kini telah tiada tanpa sisa, yang bisa jadi konon dibuat dari bahan kayu dan ijuk sehingga telah raib dimakan usia. Jika benar atap Candi Jajaghu bebentuk meru susun sebelas, berarti meupakan candi utama. Hal ini wajar, mengingat Candi Jajaghu adalah salah satu pendharmman bagi arwah raja Singhasari bernama Wisnuwarddhana (Sminingrat) sebagai Sogata dengan arca perwujudan berbentuk Amoghapasa -- sebuah pendharmmannya yang lain adalah Candi Wleri (Mleri) pada lembah sisi selatan Gunung Pegat di Srengat Kabupaten Blitar.

Toponimi (nama) desa dan sekaligus kecamatan padamana candi ini berada adalah "Tumpang",  yang sangat boleh jadi diambil dari sebutan untuk atap Candi Jago yang berbentuk tumpang tersebut. Apabila benar demikian, maka toponimi "Tumpang" bukanlah akronim dari perkataan "watu numpang (beberapa buah bongkah batu yang ditumpang-tumpangkan)" sebagaimana penjelasan "salah kaprah" selama ini, yang semata mendasarkan penjelasannya secara "tak-tik-tuk (otak-atik-gathuk)" terhadap toponimi tersebut. Memang, acapkali penjelasan terhadap muasal nama suatu tempat dilakukan "secara tak-tik-tuk", yang padahal akurasi hanyalah sebatas prakiraan. Oleh karenanya, perlu dilakukan cara lain. Misalnya dengan cara "eksplanasi historis", sebagaimana dilakukan diatas. Terlebih Tumpang merupakan suatu "desa tua", yang menyejarah.

Mengingat bahwa candi yang terdiri atas tiga teras sebagai tempat bagi berdirinya tubuh, atap dan kemuncak candi (tinggi total bangunan belasan meter) -- sehingga secara keseluruhan arsitekturnya tinggi menjulang di atas tanah yang membukit, maka dapat difahami apabila candi Jajaghu telah tampak dari kejauhan. Atap cand yang menjulang menggapai langit tersebut kala itu diadikan semacam "landmark", yakni petanda/petunjuk keberadaan sesuatu. Oleh karena itulah maka kata "tumpang" tersebut pada akhirnya dijadikan sebagai sebutan bagi desa dan kecamatan di sub-area timur Kabupaten Malang. Landmark bisa saja berupa pohon, unsur fisis alamiah, atau hal-hal lain yang mecolok, unik dan karenanya mudah dilihat, didengar serta diingat publik.

Demikian eksplanasi ringkas mengenai "Muasal Nama Desa atau Kecamatan Tumpang". Semoga dapat menambah khasanah pengetahuan para pembaca budiman. Nuwun atensinya.

Jakarta, 2 Oktober 2017

PATEMBAYAN CITRALEKHA

Ditulis oleh Dwi Cahyono

(Sumber: Fb/M Dwi Cahyono)

Subscribe to receive free email updates: