Kawin Politik JODHA AKBAR Atau Asmara Dahana PANJI, Mana yang Lebih Menarik?

Ilustrasi : google
JurnalMalang - Sebuah stasiun TV Nasional tengah menayangkan (ulang) mega-sinema Jodha Akbar, yang dimulai sejak juli 2017. Serial TV Jodha Akbar merupakan salah satu lambang keberhasilan dunia perfilman India dalam eksplorasi sejarah negerinya, kekayaan budaya, terutama makin populernya salah satu keajaiban dunia warisan Mughal (Agra), Taj Mahal.

Sebelum membandingkan nilai dan keindahan film Jodha dengan kisah-kisah Asmara - Politik bangsa Nusantara, khususnya pada kisah Asmara Dahana, ada baiknya sedikit mengulas secara singkat tentang kisah Jodha Akbar.

Pada pertengahan abad 16 masehi, negeri Hindustan masih dikuasai oleh kepemimpinan feodal berbasis distrik, raja-raja lokal yang sangat taat pada budaya dan memegang teguh prinsipnya masing-masing. Antara kerajaan tersebut umumnya memiliki ikatan darah dan hidup damai dalam satu kultur bangsa India.

Sebuah kerajaan yang relatif muda, Mughal, berpusat di Agra tiba-tiba muncul sebagai imperium agresif yang bertekad mempersatukan India. Kerajaan ini mencaplok distrik-distrik kekuasaan kerajaan lainnya dengan cita-cita India Raya berada di bawah satu panji Mughal. 

Kerajaan yang beribukota di Agra yang menganut Islam sebagai agama resminya ini telah mendeklarasikan Kekaisaran Mughal sebagai penguasa seluruh tanah Hindustan. Setiap raja-raja tetangga yang menentangnya, diserbu dengan peperangan. 

Satu - persatu kerajaan kecil dikuasai dan dinyatakan sebagai bagian dari Imperium Mughal. Mulai dari Gujarat, Benggala, Kabul hingga Khasmir di tundukkannya. Alat diplomasi Mugha adalah pedang: Tunduk atau Mati.

Hingga suatu hari negeri Rajput jatuh ditangan Mughal dan kerajaan Amer pun berada di bawah kendali raja Jalaluddin Akbar, raja muda yang konon sudah "bermain-main" dengan mayat sejak usia 8 tahun dan masa remajanya sudah membantai begitu banyak prajurit musuh. 

Raja Jalal sangat ditakuti dan terkenal bengis pada penentang politiknya sehingga disebut sebagai Kaisar yang Tidak Punya Hati. Meski kenyataannya raja ganteng ini sangat bijaksana dan romantis, dia tetap menjadi momok bagi seluruh India.

Negeri Rajput merupakan tanah tua yang menjadi salah satu ikon dinasti mapan Hindustan; sangat terguncang dengan kekalahannya. Empat putra mahkota penerus dinasti menjadi sandera politik kerajaan Mughal dan terancam mati di tangan raja Jalalunddin Akbar.

Demi mengamankan dinasti, dari sinilah mulainya konsensus damai antara Amer dan Mughal. Maka putri Rajput, Putri Jodha Bai yang terkenal paling cantik sejagad akan dikawinkan dengan Kaisar Jalaluddin Akbar yang Agung. 

Raja Amel yang sudah tua terpaksa menyetujui pernikahan politik ini demi meredam agresi raja Mughal dan menyelamatkan nyawa putra-putranya. Daripada dilindas oleh buldozer Mughal yang mengorbankan darah prajurit Amer lebih baik menjalin persaudaraan.

Singkat cerita, Ratu Jodha menikah dengan Kaisar Mughal untuk merajut Mughal (Islam) - Amel (Hindu). Tanah India terguncang oleh kabar pernikahan ini dan mencemooh raja Amel sebagai pengecut, gila kekuasaan dan melanggar tradisi Hindustan yang jauh lebih tua dari riwayat Mughal. 

Raja Amel bergeming, menurutnya inilah pilihan terbaik untuk membangun persatuan dan menghindari pertumpahan darah. Persaudaraan tidak mengenal perbedaan.

Di istana Mughal sendiri terjadi pembangkangan internal yang terus menerus melakukan intrik dan teror pada Ratu Jodha. Raja Jalal harus melawan fanatisme orang dalamnya sendiri yang menentang masuknya budaya Rajput yang Hindu ke dalam sistem Syariah Kesultanan Mughal.

Raja Jalaluddin Akbar adalah penganut Islam yang toleran, liberal dan tidak memaksakan kehendak pada rakyatnya untuk menjadi muslim. Bahkan Ratu Jodha sebagai bagian dari konsensus politiknya dengan Rajput bebas menganut keyakinannya (Hindu) dan bisa beribadah dengan nyaman di istana Mughal yang serba Syar'i. Tempat ibadah Hindu dia pugar lebih megah yang menimbulkan kecemburuan beberapa elit ulama di istananya.

Akhir cerita, persatuan Jodha - Akbar, meningkatkan persatuan, seni, budaya dan kedaulatan politik, yang dikemudian hari menginspirasi lahirnya keajaiban dunia, Taj Mahal di Agra. Kisah kesultanan Mughal yang dipopulerkan oleh film Jodha Akbar turut mewarnai pemahaman sejarah India di era modern ini.

Di tanah Jawa...
400 tahun sebelum lahirnya riwayat Kekaisaran Mughal, pernah terjadi proses perkawinan politik dalam upaya penyatuan antara dua wilayah yang terancam berseteru : Panjalu (Kediri dan sekitarnya) dengan Jenggala (Sidoarjo dan sekitarnya).

Kerajaan Panjalu pada zaman itu merupakan kerajaan Hindu terkuat di Nusantara yang memiliki satuan perang berpenunggang gajah. Kerajaan berbasis agraris (daratan) ini hasil pertaniannya melimpah dan kaya akan karya seni, mewarisi kejeniusan Mataram kuno melalui klan Mpu Sendok dan Erlangga.

Sementara Jenggala merupakan kerajaan yang bercorak pesisir, yang mengandalkan potensi sungai (Berantas) dan maritim. Jenggala menjadi negara importir terbesar pangan dari Panjalu untuk dijual lagi kepada pedagang laut lintas negara.

Namun, sinergi ini terancam pecah ketika lalu lintas dagang laut semakin luas. Arus bisnis laut lebih menjanjikan karena Jenggala bisa membeli berbagai jenis komoditas yang lebih murah dan beraneka ragam. Salah satunya adalah perkakas perang dan teknologi pertahanan. Lama kelamaan ekspor hasil pertanian Panjalu pun merosot.

Ketika sebuah kerajaan merasa terancam masa depannya maka cara terbaik adalah invasi dini. Inilah yang hendak dilakukan oleh raja Panjalu yang memiliki armada militer terkuat. Ancaman ini diketahui oleh Jenggala yang tengah menikmati kemegahan ekonomi.

Setelah kedua belah pihak memikirkan secara serius langkah masing-masing, maka disimpulkan peperangan akan menghancurkan riwayat kedua kerajaan warisan Erlangga ini. Perang saudara memakan ongkos yang sangat mahal. Sehingga solusinya adalah persatuan.

Perkawinan politik pun harus dilakukan demi menyatukan Panjalu dan Jenggala. Putra dan Putri Mahkota, Pangeran Inu Kertapati dan Putri Sekartaji akan dinikahkan untuk memulai dinasti besar Panjalu Jaya yang kelak masuk dalam 4 besar dinasti terkuat dunia zaman itu (Tiongkok, Arab (Abbasiah, Sumatera, Panjalu).

Akhirnya, setelah melewati tahapan yang tak kalah menegangkan dari cerita Jodha Akbar, Panji Inu Kertapati menikah dengan Dewi Sekartaji. Negeri Dwipantara pun lahir dengan ibukota Dahanapura. Besar kemungkinan frasa "Tanah - Air" untuk Indonesia terinspirasi dari kisah penyatuan (integrasi) negeri daratan Panjalu dengan negeri maritim Jenggala.

Jika film Jodha Akbar berkampanye tentang toleransi raja Mughal dan kekayaan budaya India, maka kita punya kisah Asmara Api yang berhasil mengintegrasikan dua kekuasaan darat dan air menjadi satu tanah-air tanpa teror peperangan.

Kisah penyamaran kaisar Jalaluddin Akbar atas saran ratu Jodha untuk mengetahui kondisi rakyat bawah, sudah lebih dahulu dilakukan Panji Kertapati 400 tahun sebelumnya. Bahkan riwayat ini melahirkan budaya tarian topeng Panji yang tak hentinya diriset oleh banyak sarjana-sarjana barat. Maka tidak ada alasan untuk tidak bangga dengan sejarah dan budaya sendiri, budaya Indonesia. (beberapa bagian diambil dari buku Negara Pancasila karya Peni Suparto dan literatur lainnya / red1)

Subscribe to receive free email updates: