1 ABAD KOTA MALANG : DIRGAHAYU BUMI AREMA

Kota Malang pada tanggal 1 April 2014 akan memasuki usianya yang ke 100 tahun. Usia yang tergolong muda mengingat tanah Malang sesungguhnya telah diwarnai oleh peradaban maju sejak abad ke 6 masehi yaitu era Kanjuruhan yang terdokumentasikan sejarahnya pada prasasti Dinoyo tahun 760. Periode keemasan Malang yang dikaburkan oleh ketidakpedulian atas sejarah hendaknya dihadirkan kembali di masa Ulang Tahun Emas ini. Masa yang tepat untuk merenungi dan mempelajari perjalanan sejarahnya kemudian memetik semangatnya mengambil spiritnya untuk membangkitkan Singhasari Baru yang lebih maju, berjaya dan tidak berjiwa kerdil.


Dahulu kala kota Malang menjadi ibukota bagi sebuah kekuasaan besar Kanjuruhan yang telah mengajarkan budaya bacatulis dan tata krama kekuasaan yang harus menghargai nilai kepercayaan (yang diwakili oleh para Resi) dan gagasan kebijaksaan yang direpresentasikan oleh rajanya Gajayana. Kekuasaan ini lebih tua usianya dari keraton Mataram Kuno -Dinasti Rakai, Dyah Wawa, Balitung yang Agung.

Lalu ketika terjadi gempa dan letusan Merapi yang dikenal dengan bencana alam mahapralaya tahun 929, dimana kekuasaan Mataram kuno (Jogja-Jateng) porakporanda, para pembesar istana membawa kekuasaannya ke tanah Timur dan membangun pangkalan utama di kota Malang, yaitu di tanah Tawmlang sebelah utara kali Brantas (sekarang di sebut Tembalangan timur Betek). Kisah ini sangat simpang siur bahkan tidak diakui dalam sejarah Nasional apalagi oleh sejarah Malang sendiri; belum pernah ada tulisan sejarah yang mengungkap fakta ini kecuali situs blog jurnalmalang.com. Namun cobalah kaji isi Prasasti Turyan (yang ditemukan di Turen) dimana menjelaskan dengan gamblang bahwa petinggi keraton Mataram (Mpu Sindok) menyelamatkan kekuasaan Mataram ke timur Jawa menuju tanah Tawmlang, setelah kekuasaannya kuat baru dipindahkan ke Watu Galuh (Jombang). Oleh karena itulah kenapa keturunan Mpu Sindok, Sri Erlangga selalu menjadikan kali Brantas sebagai pangkalan kekuasaannya adalah karena rintisan pendahulunya di Malang.

Kota Malang juga menjadi saksi dari sebuah peristiwa besar abad 13. Dimana tampilnya seorang revolusioner rakyat jelata (Ken Arok) yang memimpin gerakan bawah tanah mengkudeta kekuasaan darah biru (Tunggul Ametung) dan menggunting dinasti sentral Kertajaya yang ratusan tahun menindas rakyat Malang dengan kewajiban upeti. Arok tidak hanya merampas kekuasaan yang menjadi hak rakyat Malang terhadap cengkraman klan Isyana di kota Daha (Kediri) namun juga menerapkan sistem desentralisasi pertama kalinya (sebelum lahirnya maklumat magna charta di Inggris) dan memberikan suaka politik pada semua aliran kepercayaan yang selama ini menjadi buronan kekuasaan. Yang lebih fenomenal adalah rencana besar mempersatukan Nusantara dirintis pada jaman itu, hanya saja tertunda oleh berbagai pembunuhan berantai bersaudara yang oleh sejarah di kenang sebagai kutukan Mpu Gandring. Kebalen dan Kota Lama tentu menjadi tanah kenangan akan hal ini.

Kemudian lahir era Singhasari dimana anak cucu Ken Arok - Ken Dedes - Tunggul Ametung akhirnya bersatu untuk mewujudkan ambisi leluhur yaitu Nusantara Satu. Maka gerakan persatuan ini bergema di tanah Sumatera, Borneo Raya hingga Bali dan Nusa Tenggara. Namun lagi-lagi "kutukan Mpu Gandring" menjadi sandungan dari integrasi ini, kembali saling membantai membunuh. Hingga akhirnya lahir sang Pemersatu yaitu Raden Wijaya atau Brawijaya yang mendirikan Majapahit tahun 1293. Beliau adalah Arek Malang asli (dari garis keturunan Arok - Dedes) yang berhasil meletakkan pilar Satu Nusa Satu Bangsa, yang dikemudian hari di populerkan oleh Hayam Wuruk dan Gajahmada. Untuk menghindari "kutukan Mpu Gandring" maka ibukota Majapahit di bangun di Trowulan (Mojokerto).

Di jaman kemerdekaan Malang juga menjadi saksi atas perlawanan terhadap penjajah yang telah menginvasi Malang sejak tahun 1767, yang ingin menjadikan Malang sebagai paris van java. Namun ternyata menjadi kuburan bagi penjajah Belanda maupun Jepang. Monumen Tugu adalah simbol kemerdekaan Malang dari penjajah yang diresmikan oleh Bung Karno (dan sekarang menjadi tempat kencan yang asyik).

Kota Malang sebelum diresmikan tahun 1914 silam, merupakan satu kesatuan dengan kabupaten Malang dan kota Batu. Kini tiga daerah (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Batu) di sebut Malang Raya dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta jiwa, Kota Malang sendiri jumlah penduduknya lebih dari 850 ribu jiwa.

Kota Malang kini telah berubah. Sudah banyak berdiri bangunan tinggi, berdiri banyak kampus dan sekolah modern, banyak industri dan wisata even. Globalisasi telah merubah wajah kota Malang menjadi kota modern yang meriah, pragmatis dan (seperti umumnya kota di Indonesia) apatis terhadap sejarahnya. 

Kemeriahan HUT 1 abad Kota Malang lebih bersifat seremonial, hura-hura dan pesta pora kembang api. HUT 100 tahun Bumi Arema lebih bersifat formalitas dan tumpukan ucapan selamat. Perayaan yang mahal namun kering makna.

Maka sudah saatnya semua pihak merenungi perjalanan sejarah kota Malang yang panjang, nilai-nilai, semangat yang mengiringinya serta kearifan lokal yang dibawanya. Itulah yang hendaknya menjadi dasar memajukan Malang. Semua harus bertekad untuk melahirkan kembali Singhasari Baru yang pernah menjadi pionir integrasi, pencetus pluralisme, demokratisasi kerakyatan dan basis pendidikan yang telah diperkenalkan oleh peradaban Kanjuruhan abad ke 7.

Selamat Ulang Tahun yang ke- 100 Kota Malang. Dirgahayu Bumi Arema...

Subscribe to receive free email updates: