Gnaro Ngalam yang Mendirikan Majapahit dan Mempersatukan Bumi Nusantara

Tanpa berniat melebih-lebihkan atau kesombongan sejarah, tulisan ini hanya untuk membangun rasa bangga sebagai warga Malang yang hidup enak di zaman modern ini, dan menambah semangat belajar / bekerja dari nostalgia sejarah masalalu yang hebat, mudah-mudahan saja ada manfaatnya untuk generasi muda dan masyarakat. Fakta sejarah memang membuktikan bahwa yang berjuang dibelakang berdirinya kerajaan Majapahit dan gerakan persatuan Nusantara sebelumnya adalah tokoh-tokoh yang lahir dan besar dari Bumi Tumapel (Malang).


Berbagai sumber sejarah, dari prasasti, candi, situs-situs lama, rontal, termasuk Nagarakerthaghama dan Phararathon hingga literatur modern memberikan kejelasan yang sama tentang peran sentral Malang dan tokoh-tokohnya dalam merintis dan membangun kerajaan besar Majapahit yang terkenal dengan imperium maritim terkuat di jamannya. Majapahit dalah kerajaan yang jaya, berdaulat, penguasa laut serta menguasai negeri-negeri seberang hingga Laos dan Madagaskar.

Sebelum mengetahui siapa saja 'wong Malang' yang merintis kerajaan tersebut terlebih dahulu kita uraikan cuplikan singkat tentang peta kekuasaan tanah Jawa sebelum Malang menjadi pusat kendali kekuatan Jawa.

Pada abad-abad ke 7-8 Malang sudah berdiri kerajaan besar yaitu Kanjuruhan (prasasti Dinoyo thn 760). Namun pasca era Kanjuruhan malang sudah berada dibawah pengaruh keraton Mataram Kuno (Medang) yang berjaya atas seluruh tanah Jawa dari tahun 700-an hingga tahun 928 masehi. Kerajaan Mataram ini berpusat di daerah sekitar Yogyakarta Jawa Tengah.
Namun pada tahun 928 terjadi bencana gempa bumi besar dan letusan Merapi yang membuat kerajaan ini luluhlantak hingga dikenal dengan tragedi Mahapralaya.
Seorang petinggi keraton, Mpu Sindok membawa barisannya untuk menuju tanah Timur Jawa lalu melanjutkan kerajaan Mataram ini dengan pusatnya di daerah Tawmlang, sekaligus mengukuhkan wangsa / dinastinya sendiri yaitu Isyana. Sementara dinasti Rakai, Balitung dst perlahan-lahan membangun kembali keraton Mataram lama di bekas negerinya yang hancur.
Maka pada tahun 929 berdirilah kerajaan Medang atau lanjutan dari Mataram kuno di Jawa Timur. Kekuasaan ini terus berjaya hingga tahun 947.

Erlangga, yang merupakan juga turunan Mpu Sindok melanjutkan lagi kerajaan ini namun dengan identitas baru dan ibukota baru yaitu kerajaan Kahuripan. Erlangga menjadi raja yang terkenal dan ikut berjasa dalam memperkuat pengaruh di Bali hingga Nusa Tenggara. Ketika Erlangga turun tahta, dua anaknya berebutan menjadi raja maka Mpu Braradah membagi dua kerajaan menjadi Jenggala dan Panjalu. Jenggala di timur dan Panjalu di Barat dengan ibukota di Kediri.

Namun dalam perkembangannya, hanya Kerajaan Panjalulah yang lebih maju dan pada jamannya Inu Kertapati kerajaan ini kembali dipersatukan dengan nama kerajaan Panjalu Raya Jayadi. Kerajaan ini mengalami masa keemasan pada jaman raja Sri Baginda Jayabaya atau Joyoboyo yang oleh sejarah lebih dikenal sebagai peramal legendaris bangsa Jawa. Raja mereka yang terakhir adalah bernama Kertajaya. Malang pada jaman itu adalah daerah bawahan dari Daha Raya (Kediri).

Ketika di Malang (Tumapel) orang dari kalangan sudra yang bernama Ken Arok (bergelar Sri Rangga Rajasa) tiba-tiba berhasil menjatuhkan akuwunya Tunggul Ametung (bawahan Kediri) dan berperang dengan keturunan terakhir dari Mpu Sindok tersebut, ken Arok bersama rakyat Malang Menang.

Setelah memang dari perang Ganter (1222) maka saat itu juga ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel lalu dikenal dengan kerajaan Singhasari yang beribukota di Kutobedah atau kutaraja atau Kebalen (Kelurahan Kota Lama). Pada jaman Ranggawuni berkuasa ibukota kerajaan ini dipindahkan ke Singosari.

Raja Singhasari yang terkenal adalah Kertanegara. Pada jaman dialah rencana besar penyatuan Nusantara itu dimulai. DIa memimpin ekspesidi pan Malayu dan mengirim utusan dan tentara ke berbagai negeri seberang sebagai ajakan persatuan.
Karena ambisi besar inilah dia memperluas kekuasaan hingga di Bali dan Nusatenggara, namun dia lupa dengan potensi konflik dalam istana serta musuh bebuyutan dari tanah Daha Raya.

Pada saat Kertanegara sibuk memperluas jaringan, keturunan Kertajaya yang bernama Jayakatwang yang kala itu menjadi kepala daerah di Gelang-Gelang (Madiun) menyerbu Tumapel dalam dua gelombang serangan dan berhasil menduduki istana Singosari. 
Namun kekuasaan Jayakatwang hanya setahun karena dia dibantai oleh tentara Mongol yang kecewa tidak berhasil membunuh raja Malang (Kertanegara), dendamnya pada Malang dilampiaskan pada Daha.

Pada situasi genting itulah tampil arek Ngalam RADEN WIJAYA.

Raden Wijaya atau digelari Bhre Wijaya adalah generasi Malang keturunan ke 4 dari ken Arok ke Dedes. Ketika tentara Cina (Mongol) uturan Kubilai Khan tengah berpesta kemenangan atas Jayakatwang, dia menyapu habis mereka hingga tewas dan sisanya melarikan diri.

Tahun itu juga, 1293 Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Ibukota kerajaan ini dipusatkan di Trowulan (Mojokerto) dengan pertimbangan menjauhi konflik yang telah terjadi 7 turunan sebagaimana kutukan Mpu Gandring. Perpindahan pusat kekuasaan dari klan Rajasa ini dimulai dari KEBALEN-SINGHASARI-TROWULAN.
Antara kerajaan Singhasari dengan Majapahit tidak ada perbedaan, satu rangkaian kerajaan yang sama dengan klan pendiri-penerus yang sama yaitu darah biru sang RAJASA dari Tumapel.

Tentang sejarah kelanjutan Majapahit bisa dibaca diberbagai sumber seperti wikipedia dan buku-buku sejarah karangan Prof.Dr. Slamet Muljana, Prof. Dr. Dennys Lombart (Prancis) dll.

Jadi tokoh-tokoh besar pendiri dan penerus kerajaan Majapahit adalah keturunan Malang. Sebut saja mulai dari RADEN WIJAYA (atau BRAWIJAYA I), TriBuwana Tunggadewi (Raja Perempuan hebat Majapahit), HAYAM WURUK yang membawa masa keemasan Majapahit dan penguasa selanjutnya.

Jadi, Era Singosari adalah rintisan mempersatukan Nusantara jilid I sementara Majapahit adalah integrasi Nusantara jilid II.

Leluhur Malang memang orang-orang besar, sakti dan hebat. Bagaimana dengan generasi penerusnya???

Subscribe to receive free email updates: